<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921</id><updated>2011-10-08T20:56:00.703-07:00</updated><title type='text'>Aruh Sastra</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-5943628088266014569</id><published>2011-08-10T04:54:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:56:17.213-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA, BARABAI BAGAIMANA ?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba saja di hadapan saya berdiri dua orang yang langsung menyapa dan memperkenalkan diri. “Tugas kami sebagai Pemandu dalam acara ini, bila ada yang diperlukan maka kami berdua siap membantu semampunya. Silahkan menghubungi nomor kami. Dan sewaktu-waktu, kami akan menghubungi nomor yang Bapak-Ibu miliki, terutama apabila mendekati permulaan acara, sesuai dengan jadwal yang telah ada. Kami akan melayani, bahkan ketika acara sedang berlangsung, kami akan melaporkan kepada penanggung jawab acara bahwa kehadiran atau ketidak-hadiran peserta. Segala persoalan silahkan sampaikan kepada kami, apabila kami tidak mampu memberikan yang terbaik maka akan kita bahas bersama cara menyelesaikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata para Pemandu itu tidak hanya dua orang saja. Mereka dikumpulkan saat saya memanjakan tubuh di lobi hotel. Saya hitung sekitar 30 orang, mereka memperhatikan dengan tertib, serius dan patuh. Ada petunjuk khusus yang mereka bicarakan, itu berjalan tidak hanya sekali tetapi pada waktu-waktu tertentu agar selalu dalam koordinasi yang terjaga dan intens. Sesekali mereka bercanda. Dari info yang saya ketahui, mereka berasal dari beberapa sanggar seni yang direkrut sebagai relawan untuk suksesnya agenda yang saya ikuti. Rombongan saya yang akan berhubungan dengan kedua Pemandu tadi jumlahnya ada 15 peserta, setiap rombongan memang bervariasi jumlahnya. Cerita ini terjadi pada agenda Temu Sastrawan Indonesia 1 di kota Jambi  tahun 2008 yang telah lewat, sangat berkesan masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali, ada bunyi sms yang masuk ke gendang telinga. Cepat saya buka, dan saya baca, “maaf bapak, saya Arman, Pemandu Bapak. Saat ini Bapak ditunggu di ruang makan, nanti tepat pukul 20.30 acara pembukaan dimulai.” Semua peserta mendapatkan pesan sms ini, tanpa ada yang tertinggal. Akh, tidak berlebihan untuk sebuah pelayanan. Ternyata bentuk profesional penyelenggaraan sebuah agenda haruslah diseting sedemikian rupa. Tidak hanya itu, sms lain pun akan datang dengan ramah, “selamat malam Bapak, selamat beristirahat, semoga besok pagi menjadi segar kembali.” . atau dengan nada-nada memperingatkan bahwa, “selamat pagi Bapak, ditunggu di ruang makan untuk sarapan pagi, acara seminar akan dimulai pukul 08.30 tepat.. Salam untuk Bapak.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramahan seperti apa yang kita rasakan dalam pelayanan seperti itu, bukan hanya dalam bentuk komunikasi jarak jauh saja, tetapi ketika berada di depan pintu masuk ruang makan pun telah pula tersedia tenaga-tenaga sukarela yang akan siap membantu bila memang diperlukan. Saya sebagai peserta tidak harus mengenal seluruhnya tetapi hanya beberapa orang saja sudah cukup merasakan bahwa saya bukan orang asing dalam acara tersebut. Awalnya adalah benar saya sangat menunggu penjelasan dari Pemandu, tetapi selang beberapa waktu maka proses adaptasi dari rasa ‘keterasingan’ itu lentur dan membaur, walau komunikasi dan kesediaan para Pemandu tetap saja disiagakan, karena ada dan banyak peserta yang memang memerlukan bantuan mereka. Secara umum, dari rekan-rekan satu rombongan memberikan apresiasi positif terhadap keberadaan Pemandu dan kesigapannya. Para Pemandu itu khusus ditugaskan sebagai Pemandu, mereka tidak diberikan beban tugas yang lain. Ini menjadi sangat profesional. Data para peserta yang berada di luar arena pun akan dapat terpantau, di mana dan sedang apa mereka, karena Pemandu akan melacak sesuai jumlah dalam tanggung jawabnya. “Bapak berada di mana, saat ini ada yang ingin bertemu Bapak, ditunggu di sekretariat, terima kasih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, juga saya dalam rombongan itu, tidak pula ingin diperlakukan dengan sangat istimewa tetapi alangkah elok dan manisnya bila kesuksesan sebuah acara dimulai dari sikap melayani itu dirasakan oleh semua yang terlibat di sana. Tidak pula terlalu memanjakan, tetapi saling mengingatkan terutama masalah jadwal dan waktu serta kehadiran para peserta adalah penting. Dengan hanya dua Pemandu untuk 15 peserta adalah jumlah yang cukup berimbang, tidak perlu dengan satu berbanding satu. Tentu saja Pemandu terlebih dahulu memiliki dan sedikit menguasai materi apa, siapa, bagaimana, kapan, di mana, agenda itu berjalan dari awal acara sampai nanti berakhir agenda. Memulai untuk bersikap melayani, alangkah indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Aruh Sastra di Barabai setelah Tanjung sukses melakukan agenda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya Tanjung, tetapi Marabahan sudah, Paringin sudah, Amuntai sudah, Kotabaru sudah, Pagatan sudah, Kandangan sudah. Satu hal pula yang harus dicatat, yaitu mampukah pelaksanaan Aruh Sastra itu membiaskan nilai-nilai positifnya kepada perkembangan, kemajuan pembangunan kepada daerah tempat penyelenggaraannya. Satu misal, sastra yang telah lama masuk dalam kurikulum pembelajaran dari tingkat sekolah dasar sampai menengah, bahkan masuk pula di ranah perguruan tinggi. Pertanyaannya, seberapa besar antusias perserta didik tadi  dalam “bersastra”, atau sudah sejauh apa motivasi para gurunya terlibat dalam dunia sastra yang harus dan wajib disampaikannya kepada peserta didiknya di muka kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Sastra adalah Dunia Pendidikan, ini akan tertuju pada keterlibatan Dinas Pendidikan, pertanyaannya, maukah mereka melibatkan diri padahal ini juga bagian dari tugasnya, ataukah mereka hanya tutup mata tutup telinga saja. Atau mereka akan menjawab, “Kami tidak diundang, kami tidak dilibatkan, kami tidak diajak,” atau dengan berbagai alasan lain karena masih banyak ‘proyek lain yang menunggu’. Contoh lain lagi adalah Aruh Sastra ini dapat menjadi pijakan untuk membuka isolasi-isolasi wisata budaya sebagai aset kepariwisataan dan itu harus dimulai sejak jauh sebelum hari H-nya aruh sastra itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Sastra adalah Dunia Kebudayaan, misalnya alangkah sinerginya bila pihak dinas yang terkait kepariwisataan melakukan Lomba Cipta Mengarang yang fokus cerita adalah tempat-tempat tertentu yang ada di wilayah (Hulu Sungai Tengah ), entah berupa cerita rakyat yang telah berkembang dan telah banyak dikenal oleh masyarakat luas atau dengan inovasi-inovasi cerita yang lebih menarik. Ini akan berdampak kepada ketokohan, keunggulan, bahkan imaji-imaji lain yang pada tahap awal adalah ‘memperkenalkan’ tetapi di masa-masa akan datang menjadi tujuan para wisatawan lokal atau asing. Promosi daerah itu harus bersinergi dengan agenda ini, dan nilai positifnya tentu saja terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apam Barabai sangat dikenal, tetapi dapatkah ia menjadi lebih awet agar mampu bertahan untuk beberapa hari dari waktu pembuatannya. Dari pemikiran yang dimulai imajinatif akan mampu memberikan stimulus ke arah pemanfaatan teknologi agar persoalan itu terpecahkan, lihatlah Dodol Kandangan yang mampu bertahan lama dan dapat ditemui di mana saja, terutama di wilayah Kalimantan Selatan. Bagaimana Barabai, siapkah dengan inovasi pemikiran yang dipicu oleh suksesnya agenda Aruh Sastra di sana pada tahun 2011 nanti setelah kota-kota lain telah sukses sebagai Tuan Rumah, tentu Pelayanan terhadap para Peserta tidaklah kita abaikan. Kesiapan ini juga tidak terlepas dari segi pendanaan yang memadai sesuai anggaran yang diharapkan oleh panitia. Bila tidak maka akan berdampak kepada pelaksanaan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sastra,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-5943628088266014569?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/5943628088266014569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=5943628088266014569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5943628088266014569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5943628088266014569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra-barabai-bagaimana.html' title='ARUH SASTRA, BARABAI BAGAIMANA ?'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-1248905879206938972</id><published>2011-08-10T04:53:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:54:40.388-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA, BARABAI MENUNGGU KOMITMEN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Kalimat lengkap dan santun dari judul tulisan ini sebenarnya begini : ‘Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII di Barabai tahun 2011 menunggu komitmen tegas dan nyata dari semua unsur yang terlibat di dalamnya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kalimat lengkap itu menggiring kepada pertanyaan penting, yaitu ‘semua unsur yang terlibat di dalamnya itu siapa saja?’ Unsur-unsur itu tentu saja dari hal terkecil sampai ke posisi tertinggi, dan satu dengan yang lain memiliki kesamaan pandang, kemitraan, koordinasi, keterbukaan, efektifitas dan saling memahami. Pihak pertama adalah komitmen dari Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Hulu Sungai Tengah, Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Dewan Kesenian Murakata, Kelompok-kelompok atau Sanggar-sanggar seni (sastra dan teater) yang ada di Hulu Sungai Tengah, Dunia Usaha, Media Massa serta masyarakat Hulu Sungai Tengah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bertempat di salah satu ruang PGSD FKIP Unlam Banjarmasin, telah hadir beberapa tokoh sentral warga Hulu Sungai Tengah yang peduli terhadap agenda aruh sastra ini bersilaturrahim, berbincang santai namun dari itu tercetus kata kunci terhadap kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan agenda penting di Barabai tahun 2011 nanti yaitu Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII, kata kunci itu diucapkan oleh Bapak H. Akhmad Makkie,”Terpenting dari awal agenda aruh ini adalah komitmen,” kata beliau yang sekarang menjabat sebagai ketua MUI Kalsel kini tinggal di Banjarmasin. Beliau melanjutkan, “Komitmen yang paling ditunggu adalah dari pejabat yang ada di Barabai, terutama kepada Bapak Bupati Hulu Sungai Tengah, sebab dari komitmen inilah segala sesuatu dapat kita mulai melakukan semua agenda kegiatan aruh sastra itu.” Kami sepakat dan sepemikiran terhadap komitmen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Setelah itu komitmen dari para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Hulu Sungai Tengah yang diharapkan sesegera mungkin memberikan respon positif, baik terhadap agenda aruh sastra itu sendiri dengan efek-efek positif yang diimbaskannya, serta kepastian posisi jalur pendanaannya. Dari keterangan Fahmi Wahid selaku pihak pengusul yang melakukan lobi, didapat kabar bahwa ada 2 kemungkinan pos pendanaan, yaitu 1) Pengelolaan, penggunaan serta pelaporan sepenuhnya berada pada pihak Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata, dan 2) Pengelolaan, penggunaan serta pelaporan sepenuhnya oleh Panitia Aruh Sastra yang bersifat hibah, walau posisi dana tetap berada dalam anggaran Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata. Pertanyaan besarnya adalah, “Sudikah kiranya pihak Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Tengah menghibahkan dana tersebut kepada pihak Panitia Aruh Sastra VIII yang penyusunan kepanitiaannya, program kegiatan, pembagian anggaran serta pelaporannya dilakukan oleh rekan-rekan seniman dan pegiat sastra yang mengerti duduk persoalan agenda aruh sastra itu sendiri. Bukan berarti menghilangkan ‘fungsi dan keterlibatan’ pihak Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata, terutama jajaran Kasi Kebudayaannya, tetapi dengan berlapang dada agar Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Tengah bukan pihak yang sepenuhnya menentukan atau bersikap dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Komitmen yang mengarah pada berani bersikap ‘lapang dada’ dan tentu saja didasari oleh saling percaya itu akan membuka jalan ‘lancar dan sukses’. Tapi, pihak panitia pun harus pula melakukan langkah-langkah nyata, terbuka, sebab bila tidak, “Apa kata dunia, ternyata sama saja!!!”, Ini bukan hanya masalah proyek yang di tahun-tahun berikutnya tidak akan pernah ada lagi, tetapi kita berharap bahwa akan ada kelanjutan dari even aruh sastra ini, akan ada efek positif sejalan dengan peningkatan-peningkatan daya apresiasi masyarakat yang boleh jadi ‘dari imajinasi kreatif kepada capaian-capaian majunya teknologi’. Dari suara-suara yang sastrawi kepada puncak-puncak kesadaran hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Berkesempatan hadir pada sore itu, Minggu tanggal 26 Desember 2010, adalah Dr.. H. Rustam Effendi selaku fasilitator silaturrahim dan tokoh pendidik, tinggal di Banjarmasin. Drs. Syamsiar Seman tokoh budayawan Kalsel, tinggal di Banjarmasin. Drs. Mukhlis Maman ‘Julak Marau warung bubuhan’, tinggal di Banjarmasin. Fahmi Wahid selaku pegiat dan penggerak seni tinggal di Barabai yang akan terlibat jauh dalam kepanitiaan aruh serta Ketua Dewan Kesenian Murakata (HST), Arsyad Indradi lebih dikenal dengan ‘Si Penyair Gila’, tinggal di Banjarbaru. Bram Lesmana, tokoh teater dan pegiat seni kini tinggal di Banjarbaru dan Rantau. Dan saya sendiri (Ali Syamsudin Arsi) tinggal di Banjarbaru. Bagaimana warga di Barabai sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Silaturrahim dan bincang-bincang itu sendiri memang mengarah kepada bentuk motivasi agar kegiatan aruh sastra di Barabai nanti berjalan lancar dan sukses. Kami sepakat bahwa kata ‘sukses’ itu lebih bertumpu kepada 3 tahap yang harus dijalani dengan skala prioritas pada tahap pasca aruh sastra itu sendiri. Mengapa pasca ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ada 3 tahap dalam agenda aruh sastra itu sebenarnya. Pertama tahap Pra-Aruh, kedua adalah Aruh itu sendiri, dan ketiga adalah Pasca-Aruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pra-Aruh, berupaya membangun kesadaran bahwa Sastra itu sangatlah diperlukan dalam tatanan hidup manusia, dan Sastra sebagai satu unsur kesenian dalam pondasi berkebudayaan. Tentu saja ini memerlukan energi publikasi agar puncak-puncak sosialisasi dapat teratasi. Aruh itu sendiri, merupakan ajang atau tempat bertemu pemikiran-pemikiran cerdas dan cemerlang, membangkitkan gairah-gairah kreatifitas seraya membenahi dan menyusun kerangka budaya ke arah yang lebih baik sebagai puncak capaian. Pasca Aruh,prioritas utama ini adalah sejauh mana efek domino dari energi kreatifitas itu melebarkan sayapnya ke banyak penjuru, ke cikal-bakal pelaku budaya sebagai penerus, kedalaman-kedalaman penghayatan terhadap nilai-nilai budaya itu sendiri dengan implementasi yang nyata, konkrit dan berkesinambungan. Titik berat pada tahap pasca ini adalah dunia pendidikan, setelah itu tentu saja kegairahan berkreasi, berani mencipta, berani memulai dengan inovasi-inovasi walau terkadang memang harus berada jauh dari tempat duduk dalam zamannya sendiri, orang lain boleh saja mengatakan ini sebagai mimpi, tetapi mengapa masih banyak yang takut bermimpi. Mimpi dan kreatifitas boleh jadi saling mengisi. /asa, banjarbaru, 28 desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-1248905879206938972?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/1248905879206938972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=1248905879206938972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/1248905879206938972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/1248905879206938972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra-barabai-menunggu-komitmen.html' title='ARUH SASTRA, BARABAI MENUNGGU KOMITMEN'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-8836778419711991986</id><published>2011-08-10T04:52:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:53:28.827-07:00</updated><title type='text'>GURU DAN ARUH SASTRA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak siswa boleh saja setahun demi setahun berpindah kelas, berpindah sekolah, tetapi beberapa guru akan selalu setia sebagai penunggu ruang dan bilik di sebuah kelas, di sebuah sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku, banyak kitab boleh saja memiliki bermacam-ragam isi dan penampilan sebagai bahan pembelajaran di banyak jenjang kelas, di pelbagai sekolah, tetapi pedoman yang telah digariskan adalah jalur utama yang akan disampaikan oleh guru kepada para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mata pelajaran bernama agama, tentu saja ada matematika, selain ilmu pengetahuan alam tentu ada pula ilmu pengetahuan sosial, begitu pula apabila ada pendidikan kewarga-negaraan maka ada pula pelajaran bahasanya. Tentu saja tidak akan melupakan kesegaran jasmani atau bidang olah-raga, tentu saja tidak akan meninggalkan betapa pentingnya keterampilan serta kesenian, dan sebagainya dan sebagainya. Semua mendapat tempat dan posisi yang sama, mendapat perhatian yang seimbang pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara normal, fokus capaian dalam pembelajaran untuk semua jenjang, untuk semua mata pelajaran atau bidang tersebut terletak pada “apa, siapa dan bagaimana gurunya berperan” dalam proses transformasi bahan ajar kepada siswanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran seorang guru adalah menjadi titik sentral dalam pendidikan di semua jenis kelas, di semua jenjang sekolah. Pendidikan dalam arti mikro karena ruang lingkup, waktu dan perhatian hanya sebatas jam-jam sekolah, atau hanya jam-jam pelajaran sesuai dengan jadwalnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barabai, pada masa-masa dahulu adalah daerah yang telah banyak menghasilkan lulusan yang berprofesi sebagai guru, karena pada waktu itu di sebuah lingkungan terdapat sekolah yang memang ditargetkan untuk memproses kader-kader para guru tersebut. Penyebaran para guru tersebut ternyata hampir merata ke seluruh wilayah Kalimantan Selatan, selain lulusan dari Banjarmasin serta kota-kota lainnya. Sebelum ada FKIP maka peranan SPG, KPG merupakan tumpuan dalam hal mencerdaskan anak-anak bangsa, anak-anak banua. Banua Lima, pada waktu itu, untuk urusan ‘mengabdikan diri sebagai guru’ maka akan memilih kota Barabai sebagai tujuan, selain Martapura di bidang agama, atau ke Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada guru sebagai sentral dalam proses tranformasi bahan ajar kepada para siswa, dalam konteks akan dilaksanakannya agenda tahunan di Kalimantan Selatan yang bernama Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) di kota Barabai pada tahun 2011 ini maka keberadaan guru menjadi sangat penting. Peranan serta dedikasinya, perhatiannya, apresiasinya atau apa pun nama dan istilahnya, mau tidak mau keterlibatan guru akan sangat berdampak luas terhadap keberadaan, pertumbuhan serta perkembangan sastra di waktu-waktu yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pelaksanaan aruh ini akan terlihat nyata bagaimana kita memperlakukan budaya dengan cara yang berbudaya itu. Bagi kalangan sastrawan, dana ratusan juta rupiah itu adalah jumlah yang ‘sangat besar’, dan sangat berharap bahwa manfaat dari penggunaan dana ‘sangat besar’ itu berdampak ‘sangat positif’ bagi sastra itu sendiri, bagi daerah tempat terselenggaranya aruh itu, bagi masyarakat sastra yang ada dan bergiat di daerah pelaksanaan aruh itu. Kalau posisi sastra di daerah tersebut masih dalam tatanan ‘memperkenalkan diri’, maka akan diupayakan proses ‘memperkenalkan sastra itu’ semaksimal mungkin, karena dampak dari ‘perkenalan’ itu akan sangat membuka gairah-gairah, potensi-potensi, cara-cara berpikir, semangat untuk maju, serta imbas-imbas positif lainnya. Diupayakan imbas-imbas positif ini bergerak ke segala bidang kehidupan, bukan hanya untuk bidang sastra saja. Sastra hanya pemicu, pendorong, motivator dengan segala kreasi dan inovasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru harus sudah terlibat dalam rancangan besar, gagasan besar, ide-ide besar dan dengan ‘mimpi-mimpi besar’ pula. Guru dapat diajak mendekat dengan berbagai ragam lomba-lomba, pelatihan-pelatihan, pertemuan-pertemuan awal. Katakanlah akan terjadi seleksi secara alamiah, dari 100 mungkin yang benar-benar berminat, suka, sayang, tak ingin lepas dan selalu ‘bersastra’ (dengan segala macam kendala dan alasan masing-masing) misalnya hanya ada 20 guru yang benar-benar penuh perhatian, semangat demi keberadaan dan kemajuan sastra, maka yang 20 ini akan mampu membantu penuh perayaan aruh sastra di daerahnya, Barabai tentunya. Begitu pula dengan para siswanya, diajak mendekat. Apalagi kepada aktivis seni yang sudah ada di daerah tersebut tentu saja harus ambil bagian pada agenda ini. Memang tidak bisa serta-merta menjadi panitia inti semuanya, tetapi dengan adanya para penggembira yang bersiap-sedia membantu akan menjadi ringan dan ceria semua beban kerja. Missal, di bulan Februari telah ada agenda lomba baca puisi untuk guru dan atau siswa, bulan Maret guru dan siswa peserta lomba atau bagi yang berminat diberikan pelatihan-pelatihan (menulis atau membaca sastra dll) dengan program yang telah disusun, diseting sedemikian rupa. Bulan-bulan berikutnya adalah waktu untuk ikut serta dalam bentuk-bentuk penampilan, pergelaran, bahkan mereka juga akan mengikuti lomba penulisan untuk skala lebih luas, juga selalu dan selalu dimotivasi untuk mengirimkan sebanyak-banyaknya karya mereka ke berbagai media di seluruh penjuru tanah air. Atau ada deal dengan media lokal Kalsel agar karya-karya mereka dapat dimuat dan dibaca oleh masyarakat sastra di luar daerahnya sendiri. Banyak tema yang dapat diangkat kepermukaan dengan media tulis, dengan media sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra ini adalah bagian ajang silaturrahim para pegiat sastra dengan masyarakatnya. Sastrawan bertemu dan berbincang dengan guru serta murid-murid. Boleh jadi di ajang ini akan lebih membuka cakrawala, lebih bersiap-sedia menerima kritik yang biasanya hadir dalam bentuk dialog-dialog, cakapan-cakapan, obrolan-obrolan, atau badadapatan wan bapapandiran nang kaya kita di warung-warung subalah rumah kita jua. Aruh Sastra itu sendiri tentu harus memberikan kesan bahwa semua berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan, tamu yang datang dilayani dengan baik, panitia bersikap dan berbuat sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Tempat atau lokasi serta suasana silaturrahim terjaga dan mendatangkan kepuasan bagi tuan rumah serta bagi tamu yang sudah jauh-jauh tempat datang bertandang, datang berkunjung. Aruh Sastra hanya dilaksanakan 3 (tiga) hari, apakah setelah itu selesai? Dengan tegas, jawabnya Tidak. Itu belum selesai. Karena yang paling pokok dalam pelaksanaan itu adalah, “Apa yang dapat terjadi setelah para tamu itu pulang ke daerahnya masing-masing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Aruh Sastra di Barabai telah dilaksanakan pada tahun 2011 ini maka bagaimana gelora itu grafik ‘bersastra’-nya meningkat di tahun-tahun berikutnya dan begitu untuk seterusnya. Gelora itu boleh jadi secara jumlah atau meningkat secara mutu, secara kuantitas ataupun kualitasnya. Perhatian pihak-pihak terkait, Pemkab HST utamanya maupun aktivitas pelaku-pelaku sastranya, tetap terjaga dan menampilkan dirinya dengan sejumlah karya. Sastrawan wajib memiliki karya sastranya, di luar itu maka, “Akh, tak ada artinya”. Hampa udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, peran guru (yang ada di Barabai utamanya) harus ambil posisi sebagai ‘penjaga’ keberlangsungan sastra bersama para sastrawannya sendiri. Bila tidak maka siapa lagi yang akan mampu menjembatani perjalanan panjang dari gagasan-gagasan besar, ide-ide besar, pikiran-pikiran besar yang kreatif dan inovatif tertanam, tumbuh, berkembang di benak anak-anak bangsa, anak-anak generasi ke generasi berikutnya. Capaian puncaknya boleh jadi terwujud ketika para guru itu duduk tenang sebagai penonton di luar arena. Sungguh pemandangan yang mengharukan, yang mendamaikan dan bahagia tentu saja. (Ideal memang, tetapi ini adalah bagian dari citra identitas dan kearifan lokal yang patut disuarakan, karena sastra juga berfungsi sebagai titik pertahanan mental dari derasnya serbuan budaya-budaya dari luar). Di dadaku ada kebanggaan untuk daerahku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap agar ASKS membuka peluang kepada potensi-potensi yang ada, yang belum terlihat akan dibaca keberadaannya. Potensi kepariwisataan, potensi-potensi budaya, dan ‘fungsi keterbacaan’ itu akan berdampak kepada kemajuan. Ingatkah kita pada keterpurukan Jepang saat kedua bom dijatuhkan, tetapi hal yang pertama dihimpun untuk membangkitkan semangat kemajuan bangsanya adalah guru. Ini pilar. Kita tentu saja tidak ingin menyaksikan keterpurukan sastra, tidak ingin mengalami keterpurukan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan ke Barabai&lt;br /&gt;Jangan lupa membeli apam&lt;br /&gt;Panitia Aruh Sastra janganlah lalai&lt;br /&gt;Supaya jalan semua program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/asa, banjarbaru 11 januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-8836778419711991986?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/8836778419711991986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=8836778419711991986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8836778419711991986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8836778419711991986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/guru-dan-aruh-sastra.html' title='GURU DAN ARUH SASTRA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-2503509715830745463</id><published>2011-08-10T04:51:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:52:13.754-07:00</updated><title type='text'>Safari Sastra di Barabai</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memberdayakan para sastrawan dalam sebuah agenda adalah sesuatu yang wajar dan memang pada tempatnya untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap kota atau tempat-tempat tertentu, di Kalimantan Selatan mempunyai tokoh-tokoh sastrawannya masing-masing, dan itu hampir merata. Di Kotabaru ada sastrawan H.M.Sulaiman Najam, Eko Suryadi WS, di Tanah Bumbu ada Andi Jamaludin Ar Ak, Abdul Karim ‘Oka Miharja’, di Pelaihari ada Jamal T Suryanata, di Martapura ada Abdurrahman El-Husaini, Fitran Salam, Arya di Banjarbaru ada Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Eza Thabry Husano, Arifin Noor Hasby, Harie Insani Putra, Isuur Loeweng, Rahmatiah, Zurriyati ‘Sysy’ Rosydah, M. Nahdiansyah Abdi, di Banjarmasin ada Micky Hidayat, YS Agus Suseno, Tajuddin Noor Ganie, Tarman Effendi Tarsyad, Maman S. Tawie, Rosidi Aryadi Saleh, H.Adjim Arijadi, Syamsiar Seman, Abdus Syukur MH, Rudi Karno, Zulfaisal Putra, Hajriansyah, Hamberan, di Marabahan ada Ibramsyah Amandit, Rock Syamsuri, Sarkian Noor Hadie, Aspihan N. Hidin, di Rantau ada Antung Kusairi, Bram Lesmana, di Kandangan ada Burhanuddin Soebly, Aliman Syahrani, M. Fuad Rahman, M. Radi, di Barabai ada Fahmi Wahid, Taberi Lipani SR, di Amuntai ada Fahrurraji‘Abkar Raji’ Asmuni, Hasby Salim, Sudarni, Harun Al Rasyid, di Tanjung ada Tajuddin A. Bacco, Lilies MS, Jauhari Effendi, Jaka Mustika.  Masih banyak lagi yang lain bila dituliskan seluruhnya, tetapi paling tidak mereka itu sudah dapat mewakili daerahnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sarankan, ada satu mata acara pada Aruh Sastra VIII di Barabai yang akan datang itu, para sastrawan yang hadir sebagai undangan dimobilisasi untuk dapat masuk ke sekolah-sekolah yang ada di seluruh wilayah HST (paling tidak di dalam kota Barabai). Katakanlah satu sekolah dihadirkan 5 sampai 10 sastrawan. Kalau ada 100 sastrawan yang hadir maka ada 10 atau 20 sekolah yang dikunjungi. Bila pelaksanaan aruh itu hari Jumat sampai Minggu, maka katakanlah pada hari Sabtu pagi pukul 09.30 sampai 10.30 para sastrawan yang sudah dibagi oleh panitia langsung berangkat atau dijemput oleh pihak sekolah masing-masing. Selama waktu yang disediakan itu pihak sekolah boleh jadi diperkenankan untuk melaksanakan sesuai dengan keinginan sekolah, atau paling tidak mempertemukan para sastrawan itu secara missal ‘bertatap muka, berdialog, berdiskusi, mengadakan tampilan-tampilan atau apa saja’ kepada para siswa dan tentu saja kepada para guru seluruhnya. Adopsi agenda seperti ini pernah dilakukan oleh jajaran Majalah Horison beberapa waktu yang lewat, dan kita terapkan dalam skala kecil serta waktu yang disesuaikan dengan jadwal aruh secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada agenda seperti di atas sangat jelas bahwa para sastrawan bukan datang untuk menyaksikan, tetapi kehadirannya ditunggu oleh para siswa, oleh para guru, oleh para kepala sekolah. Mobilisasi ini akan lebih efektif dan langsung dirasakan karena saya yakin bahwa ‘tuan rumah yang dikunjungi oleh para tamu (sastrawan) akan mempersiapkan segala sesuatu agar semua pihak merasa nyaman, lancar dan saling memberikan manfaat’. Honor dari panitia kepada setiap sastrawan, misalnya seratus ribu rupiah, apalagi nanti pihak sekolah menyiapkan anggaran tersendiri. Tentu saja koordinasi seperti ini tidaklah mudah, tetapi bila dipersiapkan sejak dini dan komitmen bahwa ini bagian dari mata rantai perjalanan proses pendidikan maka akan menemui kemudahan. Para sastrawan datang ke arena aruh sastra menjadi berfungsi dan bermakna, tentu dengan membawa kesan masing-masing. Panitia tentu mempersiapkan agenda ini dengan kata kuncinya pada akurasi koordinasi yang tinggi, energi yang besar akan dibagi kepada setiap sekolah yang menerima kedatangan para sastrawan tersebut. Dan itu harus dimulai sejak sekarang. Tidak dapat menunggu, pihak panitia adalah yang memegang inisiatif pertama agar mampu disambut dengan suka-cita oleh sekolah-sekolah. Koordinasi yang bersifat kemitraan ada pada Dinas Pendidikan sebagai tawaran agenda, setelah itu menentukan bersama langkah-langkah berikutnya. Pertanyaannya, “Bersediakah pihak Dinas Pendidikan membukakan pintu untuk kemitraan semacam ini?” Bila pihak Dinas Pendidikan telah bersedia dan melapangkan jalan dengan tidak lupa ‘menugaskan orang-orangnya’, maka pertanyaan berikutnya adalah, “Sebesar apa keseriusan pihak sekolah-sekolah mempersiapkan dirinya, siswanya, guru-gurunya, kepala sekolahnya untuk menerima, merencanakan agenda, agar anjang sana para sastrawan itu termanfaatkan secara maksimal dalam waktu yang sangat terbatas, mungkin hanya berkisar 1 sampai 2 jam saja?” Tentu saja pihak sekolah dapat bernegosiasi kepada pihak panitia tentang materi dan segala sesuatu, tetapi untuk meringankan kerja panitia aruh maka alangkah eloknya pihak sekolah membentuk sendiri panitia kecil dalam lingkupnya masing-masing. Ini masalah seting acara, bahkan sampai kepada masalah mobilisasi para sastrawan, dari satu tempat lalu menyebarkannya, pihak sekolah dapat saja menyiapkan sendiri alat transfortasi masing-masing, tetapi diupayakan waktu atau dalam jam yang sama dan kembali pada waktu yang sesuai dengan penjadwalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila agenda ini dapat dilaksanakan maka akan sangat besar manfaat yang didapat, sastrawan akan melihat dan merasakan langsung bahwa ‘benar kemitraan serta koordinasi’ itu ada. Sekarang, “Apakah pihak panitia akan bersedia melaksanakan agenda ini dengan serius atau akan ada alasan-alasan yang sebenarnya hanya ingin melepaskan diri yang disebabkan oleh kekakuan-kekakuan dalam kepanitiaan saja, misalnya dengan mengemukakan bahwa, “Wah, kami harus sesuai dengan yang namanya ‘juklak’ itu saja, kami tidak dapat lagi melaksanakan yang di luar dari yang sudah tertulis dalam berkas-berkas permohonan.” Dan bla bla bla bla, wuuuhhh, sangat disayangkan. Bermitra, tentu saja bukan kerja yang dilakukan sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu bagian, agenda yang lain adalah penetapan undangan kepada para guru dan siswa plus kepala sekolah dengan undangan langsung agar dapat menghadiri seminar utama yang biasanya menghadirkan pembicara dari luar Kalsel. Undangan pada agenda ini harus melibatkan Dinas Pendidikan dan sewajarnyalah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah mendapat waktu untuk bicara, entah pada mata acara ‘kata sambutan’ atau ada sesi ‘pemandangan umum’. Teknis semacam ini akan memberikan efek mendalam dan tidak akan mengurangi ‘suasana sastra’ itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/asa, banjarbaru desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-2503509715830745463?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/2503509715830745463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=2503509715830745463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2503509715830745463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2503509715830745463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/safari-sastra-di-barabai.html' title='Safari Sastra di Barabai'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-8782756160189470133</id><published>2011-08-10T04:45:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:46:42.665-07:00</updated><title type='text'>MENYIMAK SUARA DARI BARIKIN  DAN KOTABARU</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba saja saya tersentak dan seluruh persendian merespon cepat. Gendang telinga saya berdengung hebat. Saya mencoba menetralisir kondisi sesegera mungkin. Pelan dan pasti. Konsentrasi memulihkan situasi yang terjadi. Ada yang harus segera diuraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon pertama saya dingin-dingin saja terhadap kabar bahwa Kabupaten Hulu Sungai Tengah ‘sangat siap’ menjadi tuan rumah agenda Aruh Sastra Kalimantan (Selatan), ASK yang rencananya akan dilaksanakan tahun 2011 nanti. Pernyataan itu dikemukakan oleh Bapak Muhammad Yusuf, Kepala Disporabudpar Kabupaten HST ketika memberikan respon positif terhadap suksesnya Teater Mamang yang saya tahu dikomandani oleh seorang Sastrawan Barabai, yaitu H. Fahmi Wahid, di ajang Festival Teater Modern beberapa waktu yang lewat. Pernyataan seperti itu juga saya simak ketika berada di Marabahan ketika ada diskusi kecil nonformal bersama rombongan aruh sastra dari Tanjung yang ternyata dalam perjalanannya banyak sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Yang lebih saya tekankan adalah adanya kosa kata “siap” dalam pernyataan itu. Sebagai seorang yang memang bekerja sebagai ‘pengotak-atik kata-kata dengan segala macam perangkat lunak dan perangkat kerasnya’ maka kata “siap” itu harus mengalami berbagai tes uji kemungkinan, berbagai tes uji pemaknaan, tes uji penafsiran, tes uji kebenaran secara teori atau secara praktek pelaksanaannya. Orang lain boleh saja mengatakan dengan mudah vulgar dan terbuka bahwa kata “siap” yang dimaksud adalah “akan menjadi sukses”, tetapi sebenarnya kandungan kata itu, berdasarkan pengalaman pelaksanaan agenda Aruh Sastra Kalimantan Selatan di beberapa kota kabupaten adalah masih jauh dari yang diharapkan.’Siap’ untuk melaksanakan sesuai kehendak kami sendiri.”Siap” untuk melaksanakan apa adanya yang penting terlaksana dan persoalan capaian itu urusan yang ke sekian ratus. ‘Siap’ untuk melaporkan berapa pun besaran biayanya yang penting diterima dan tidak ada gugatan apa pun juga bentuknya. ‘Siap’ untuk tidak bekerja sama dengan pihak lain karena ini anggaran ada pada ‘kekuasaan kami’. Dan banyak lagi tafsiran kata “siap” yang berkonotasi negative karena memang membuka peluang ke arah itu. Tentu saja yang diharapkan adalah sesuatu yang ke arah positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra VI di Marabahan menyisakan ‘luka dalam dan sangat tidak menyenangkan’. Ini terjadi karena kemitraan dan koordinasi itu tidak sesuai dengan yang dicanangkan, yang telah disepakati sebelumnya. Kemitraan antara Disporabudpar pada waktu itu dengan pihak Dewan Kesenian Barito Kuala berjalan tidak seiring dan sangat tidak sejalan. Puncak ketidak harmonisan itu ternyata semakin muncul ke permukaan ketika pada tanggal dan hari yang sama di Banjarmasin diadakan agenda yang sama dengan tulisan spanduk berbeda kalimatnya. Persoalan ini masih dalam tanda tanya besar, Ada apa sebenarnya. Saya sangat berharap agar pelaksanaan Aruh Sastra di Barabai tidak terjadi dengan cara mengantisipasi terlebih dahulu. Antisipasi yang paling mendasar adalah membuka pintu kemitraan dan koordinasi ke berbagai pihak, ya sekali lagi ‘ke berbagai pihak’, artinya bukan hanya ‘ke satu pihak’. Apabila kemitraan ini berjalan maka akan terhindar dari adanya ‘praktek-praktek yang tidak kita kehendaki semua. Hal itu ternyata dapat saya temukan karena ada suara dari Barikin yang teramat memilukan, betapa tidak ketika acara rutin yang diadakan setiap tahun pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Hulu Sungai Tengah sangat terasa bahwa kelompok atau kampong seniman tradisional tidak dilibatkan sama sekali. Ini sebuah bukti bahwa kata “siap’ itu untuk apa, siapa, dan kemana arahnya. Saya menikmati kata ‘Barikin’ sebagaimana saya menyaksikan betapa kuatnya lenting-lenting suara dari senar musik panting, wayang kulit, tari topeng, wayang gung. Mereka bukan hanya sekedar bermain tetapi mereka sangat memahami dan tetap dalam posisi mempertahankan tradisi. Posisi mereka memang antara dua kekuatan, berada antara derasnya seni-seni pop dan hiruk pikuk modernisasi. Padahal daya dan energi, tenaga, pikiran akan selalu memperhatikan keberadaannya, pertumbuhannya, perkembangannya, pelestariannya adalah juga berada pada pundak Pemerintah Kabupaten yang secara jelas dan nyata berada di telapak tangan Disporabudpar Kabupaten HST. Apa yang sedang terjadi di sana ? menyimak sebuah kata “Barikin” adalah sebuah upaya pembelajaran ‘mempertahankan tradisi’ yang telah berurat-berakar. Begitu kuat, begitu kokoh. Dan itu sebagai aset penting dari sikap memperlakukan budaya dengan cara yang berbudaya. Kesenian bagi mereka bukan lipstick belaka, kesenian bagi mereka bukan polesan belaka, tetapi napas hidup yang berjalan antara tubuh dengan bayang-bayang, satu kesatuan yang tak terlepaskan. Saya pun menjadi tiris karenanya. Lalu bagaimana jadinya agenda Aruh Sastra yang notabene dapat dihitung kurang dari 10 jari para tokoh-tokoh sastrawannya, para pegiatnya, sastrawannya. Akh, perhatian apa yang harus menjawab ketika kata “siap” itu menjadi bertolak belakang dengan yang diharapkan. Sungguh tiris perasaan. Tapi tentu saja saya pun yakin bahwa hal seperti itu tidak akan memupuskan langkah mereka untuk berkesenian, itu hanya riak kecil yang akan cepat berlalu. Hanya saja, hal seperti ini jangan sampai berulang dan selalu berulang, adalah sebuah cermin bahwa lemahnya perencanaan dari sebuah instansi yang jelas-jelas bagian dari urusannya. Semakin kuat pemahaman kepada,”Jangan serahkan urusan kepada yang bukan ahlinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketirisan ini berbalik arah ketika ada suara lain yang masuk dalam simak-telinga saya. Semalam di Kotabaru,adalah sebuah penanda bahwa gerak-langkah, komitmen-sikap nyata telah terbentuk. Bentuk-bentuk apresiasi seperti ini tidak hanya mereka lakukan sesekali ini saja, sudah sejak lama tradisi menghargai keberadaan serta kebernilaian sebuah karya seni menjadi bagian penting dalam arena perayaan yang bersinergi dengan perayaan lainnya. Tahun 1998, saya pertama kali meraih juara 1 dalam penulisan karya sastra berupa puisi. Lomba ini dilaksanakan oleh Departemen Sosial Provinsi Kalimantan Selatan. Tahun 1999 pihak Dewan Kesenian Kotabaru, waktu itu nahkoda kapalnya abang Eko Suryadi WS, merespon capaian itu dan saya pun mendapat tempat dalam jajaran ‘mereka yang menerima penghargaan’. Memang bukan hal yang utama bagi seorang penulis, bagi seorang sastrawan, bagi seorang penyair, kepada yang bernama penghargaan dalam bentuk seremonial itu, tetapi dengan adanya agenda itu maka betapa besar motivasi yang didapat. Saya sangat yakin dan percaya dengan apa yang dikatakan beliau pada malam penganugerahan itu bahwa ‘ayahnda’ H.Anang Ardiansyah pada saat penciptaan lagu monumental Paris Barantai itu, saat di mana irama, nada, tempo, syair yang tercipta serta suasana hati beliau, suasana sekat-sekat tubuh beliau, ada semacam ‘mengharapkan’ terjadi seperti yang oleh segenap warga Kotabaru memberikan ‘kado indah’ di penghujung tahun dari perjalanan panjang beliau dengan segala liuk-liuk, dengan segala pernik-pernik kehidupan. Tidak pernah mengharapkan. Pun begitu dengan sang pencipta lagu Halin, abang Syukri Munas yang telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan daerah-daerah lain? Dalam hal ini yang segera mengambil sikap adalah para penentu kebijakan dari unsur pengusulan sampai upaya rembuk dan paparan-paparan, diskusi-diskusi yang pada akhirnya bersikap sama untuk ‘ketok palu memutuskan dan menetapkan’. Jumlah nilai besaran angka tentu saja boleh menjadi tidak sama, tetapi motivasi sebagai energi dari dalam dan bersikap nyata adalah bagian dari terus mengalirnya dayacipta-dayacipta tak ternlai di waktu-waktu yang akan dating. Dan hal semacam ini sangatlah penting untuk disuarakan, diumumkan sampai ke sudut-sudut pojok ruang sekolah, ke ujung-ujung belakang bangku kelas para siswa, tentu dengan melakukan penyimakan-penyimakan mendalam dan penuh penghayatan yang dilakukan oleh para guru agar proses pembelajaran tidak tertinggal oleh bahan ajar yang ada di sekitar lingkungan sendiri, agar kandungan lokalitas itu bukan datang dari setumpuk buku yang ditulis oleh pihak luar diri kita sendiri yang secara otomatis materi di dalamnya pun sama sekali tidak bersentuhan dengan akar budaya kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah ada hal-hal yang memberikan isyarat kepada rasa gamang itu atau bahkan ada sinyal-sinyal pencerahan ketika Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII digelar di kota Barabai nanti (?). Sebenarnya ini, … akh !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/asa, banjarbaru awal tahun 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-8782756160189470133?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/8782756160189470133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=8782756160189470133' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8782756160189470133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8782756160189470133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/menyimak-suara-dari-barikin-dan.html' title='MENYIMAK SUARA DARI BARIKIN  DAN KOTABARU'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-7357065493624424020</id><published>2011-08-10T04:44:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:45:15.783-07:00</updated><title type='text'>BUKU TIDAK GERATIS ( Jelang agenda Aruh Sastra VIII di Barabai tahun 2011 )</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menulis memang upaya mencerdaskan, tetapi penghargaan terhadap karya tulis masih perlu ditingkatkan. Harga sebuah buku boleh jadi tidak sebanding dengan manfaat ilmu yang terkandung di dalamnya. Buku-buku fiksi, buku-buku non fiksi begitu banyak bertumpuk berjejal bahkan betapa penuh rak-rak buku yang terpajang rapi atau betapa berseraknya buku-buku itu, di sebuah kamar sempit di ruang-ruang khusus membaca di pojok-pojok bilik, semua itu memerlukan perlakuan agar kandungan dari susunan hurup kata-kata kalimat-kalimat dengan ide-ide cerdasnya gagasan-gagasan cemerlangnya, buku seakan mengatakan bahwa ‘betapa kecilnya dunia ini karena ilmu’, walau kita tahu masih banyak penguraian unsur-unsur dalam ilmu itu yang tak menemukan ketuntasannya. Ketidak-tuntasan itu adalah bagian panjang dari mata-rantai pengetahuan. Simpulan dari sebuah penelitian yang satu boleh jadi meruntuhkan simpulan teori sebelumnya Sikap yang positif terhadap sebuah buku memang harus masih diletakkan pada posisi yang sewajarnya, bila bangsa ini ingin maju, cerdas dan berwawasan. Begitu pula dengan maraknya kehadiran buku-buku fiksi, buku-buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan sebagainya. Dalam setiap agenda Aruh Sastra, selalu saja diupayakan penerbitan buku-buku itu, sejak pelaksanaan di Kandangan, sebagai cikal-bakal agenda akbar tersebut, sampai pada kegiatan aruh sastra yang dilaksanakan di kota Tanjung pada tahun 2010 ini. Sungguh sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Hal yang menarik untuk dicermati adalah semakin ‘meriahnya’ penjualan buku-buku yang digelar pada saat berlangsungnya agenda aruh itu. Saya melihat sejak di Pagatan telah ada upaya penjualan buku-buku (terutama buku-buku sastra) walau dalam jumlah sedikit, lalu berlanjut di Kotabaru. Di Amuntai bahkan sempat terlihat 3 lokasi (lapak) penjualan, di Paringin ada 2 lapak, di Marabahan ada 2 lapak, di Tanjung ada 3 lapak. Biasanya ada Bapak Samsiar Seman yang secara khusus menawarkan buku-buku bernuansa tradisional Banjar dan ini perlu dilanjutkan, lalu ada Isuur Loeweng cs, juga ada Hajriansyah cs dengan produk dari Tahura Media, kemudian saya sendiri dengan sedikit buku ikut meramaikan ‘kemeriahan itu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini lihatlah di setiap perpustakaan yang ada di dalam wilayah Kalimantan Selatan, berapa buah buku yang penulisnya merupakan ‘anak banua’, boleh jadi buku-buku itu ditulis oleh orang-orang dari luar. Sudah saatnya aktifitas menulis itu digiatkan dan dipompa daya ciptanya. Sudah saatnya rak-rak buku yang ada merupakan tempat bertengger, memajang nama-nama penulis ‘orang-orang kita sendiri’. Upaya untuk menggairahkan semangat kemeriahan itu harus ada dari semua sisi yang memang memungkinkan, pemerintah, masyarakat swasta, para pendidik, mahasiswa, pelajar dan siswa, pegiat pecinta buku, anak-anak pembaca mania, penulis, penyair dan sastrawan,bahkan dosen. Sayang bila ketika kita memasuki toko-toko buku yang terpampang nama-nama penulisnya melulu ‘orang asing’ dari diri kita sendiri. Upaya ini harus digalakkan, harus ada kerja keras agar kemeriahan dan gairah mencerdaskan itu benar-benar terwujud secara nyata. Kegairahan ini tentu saja wajib dikabarkan, boleh jadi selama ini lebih banyak buku-buku yang berupa kumpulan puisi walau dalam jumlah yang amat sangat sedikit sekali, tetapi kegairahan ini juga diharapkan kepada para penulis di ranah bidang ilmu yang lain, karena ini akan berdampak kepada kegairahan aktifitas lain, penelitian misalnya. Peran media massa juga sangatlah diharapkan dapat memberikan ruang seluas-luasnya untuk itu, terutama surat kabar, majalah, tabloid yang beredar di wilayah kita sendiri. Lomba-lomba penulisan harus pula lebih gencar dilakukan. Bila kita fokus kepada upaya ‘mencerdaskan anak banua’ maka tidak bisa lain selain melalui upaya-upaya yang tidak lepas dari aktifitas ‘membaca dan menulis’. Budaya lisan, budaya bapandiran, budaya orasi, budaya bakesah yang sudah berkembang terlebih dahulu pada masyarakat kita adalah lebih cerdas bila didasari oleh data-data yang terlebih dahulu harus diambil dan diserap dari teks-teks buku yang akurat. Jadi ada landasan teori serta dalil-dalil yang dapat dipertanggung-jawabkan, bukan berdasarkan ‘ilmu dadangaran’ yang kadangkala sangat kurang bernilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu memasarkan buku-buku di kota Tanjung saat peristiwa Aruh Sastra VII, saya teringat betapa ‘menghargainya’ panitia Temu Sastrawan Indonesia 3 (TSI 3) di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada bulan Oktober tahun 2010 yang lalu. Panitia TSI 3 telah memuat 1 puisi saya (Banjarbaru) yang berjudul Burung-Burung Murdjani. Puisi itu dimuat dalam buku berjudul Percakapan Lingua Franca. Dari Kalimantan Selatan selain saya ada pula Bang Eko Suryadi WS (Kotabaru) dengan menampilkan 2 puisi yang berjudul (1) Di Langit Kota Ada Menara, (2) Fenomena; Saudara Hajriansyah (Banjarmasin) menapilkan 3 puisi yaitu, (1) Tentang Badan dan Kepergian, (2) Tentang Dirimu,dan (3) Tentang Kehilangan; terakhir adalah Dangsanak Sandi Firly (Martapura) yang menampilkan 2 puisi dengan judul (1) Sajak Sebatang Pohon Karet, (2) Yang Bertahan dan Melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang istimewa adalah panitia memberikan honor atas pemuatan puisi tersebut kepada para penulisnya. Teristimewa lagi yang saya alami langsung adalah, walau saya tidak dapat berhadir ke Tanjungpinang tetapi oleh panitia dana honor itu ditransfer ke nomor rekening yang saya kirimkan, sebuah sikap ‘menghargai yang patut ditiru’ agar ke depan terutama untuk Barabai. Semisal setiap penulis yang karyanya (puisi atau cerpen) dimuat ke dalam buku kumpulan puisi Aruh Sastra mendapatkan honor sewajarnya, bagaimana bila kisaran nominalnya Rp. 100.000,- sampai dengan Rp. 250.000,- tentu saja disesuaikan dengan jumlah dana yang tersedia. Boleh saja berdasarkan jumlah karya yang dimuat atau disama-ratakan saja. Ini ‘bentuk apresiasi nyata karena karya penulisnya dihargai secara positif dan bernilai’. Semoga saja. Kemudian oplah buku yang diterbitkan oleh panitia pun dipastikan dalam jumlah yang banyak, karena akan didistribusikan ke setiap jajaran semua dinas di Pemkab HST, semisal setiap dinas dijatah 100 eksemplar. Itu tidak digratiskan tetapi dinas akan memberikan pembayaran selayaknya pembelian buku walau boleh jadi memberlakukan diskon sewajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra VIII di Barabai, adakah komitmen jelas dari instansi terkaitnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen para petinggi pemerintahan sangatlah ditunggu, diharap mereka terlibat masuk dan meleburkan diri pada ajang ini dengan formasi serta kekentalan nuansa sastra yang hadir dapat dirasakan, sederhana, bersahaja, apa adanya. Mampukah panitia menghadirkan bapak Bupati HST sebagai salah satu narasumber dalam suasana seminar atau minimal di ajang khusus, ada tanya jawab tentang pertumbuhan sastra, tentang perkembangan sastra,tentang kebijakan-kebijakan yang berkaitan sastra, serta tentang harapan-harapan bersama misalnya, dalam durasi yang cukup, bukan sekedar, sepintas, sekilas, lalu lenyap berlalu begitu saja. Kepala dinas kebudayaan pun sudah sewajarnya tampil ke depan, tidak perlu bersikap ‘diwakilkan saja’, Masyarakat Barabai (HST) adalah masyarakat yang hidup penuh dengan keramahan, kesederhanaan dan bersahaja, maka kita tampilkan itu dalam suasana aruh sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen dari semua unsur kepanitiaan pun harus pula benar-benar memahami maksud dan tujuan kegiatan aruh dimaksud. Bila tidak terbuka dalam hal pendanaan serta biaya pelaksanaan kepada semua anggotanya maka akan memberikan dampak kerja yang sangat merugikan. Terutama mereka yang pegang kendali keuangan, boleh jadi ketuanya, boleh jadi bendaharanya, boleh jadi para ketua bidang di masing-masing pos tugasnya. Apabila masih ada yang berkilah bahwa dananya kurang, dananya lambat cairnya, dananya entah di mana, maka itu akan beralamat kekacauan dan aruh sendiri menerima dampak yang tidak nyaman, sehingga wajarlah bila aruh itu akhirnya menjadi sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar yang sangat menggembirakan adalah pada saat agenda Temu Sastrawan Indonesia 3 di Tanjungpinang, ternyata Bupatinya benar-benar lebur dalam sepenuh acara, kabar gembira itu tentu saja berjalan lurus dengan pemandangan yang terjadi di daerah kita sebagai harapan. (akh, semoga tidak berlebihan harapan ini). Aruh Sastra VIII di Barabai nanti, bukan suasana yang formal, kaku dan ‘tidak puitis’ he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-7357065493624424020?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/7357065493624424020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=7357065493624424020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/7357065493624424020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/7357065493624424020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/buku-tidak-geratis-jelang-agenda-aruh.html' title='BUKU TIDAK GERATIS ( Jelang agenda Aruh Sastra VIII di Barabai tahun 2011 )'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-5551923914296785681</id><published>2011-08-10T04:42:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:43:58.780-07:00</updated><title type='text'>MENCIPTAKAN SASTRA SEBAGAI DAYA PIKAT</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata agenda sastra di Kalimantan Selatan sebagai Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) telah membuka perhatian beberapa rekan sastrawan yang berada di luar Kalsel, seperti rekan Jumari HS (Kudus), Dimas Arika Mihardja (Dr. Sudaryono, M.Pd, Jambi), Shanti Ned (Samarinda), Hassan Al-Banna (Sumut), Yvone de Fretes (Jakarta), Shobir (Tangerang Selatan), Diah Hadaning (Depok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hadirnya perhatian rekan-rekan sastrawan itu sedikit-banyaknya ada imbas dari beberapa faktor yang mampu dibaca oleh mereka. Boleh jadi karena beberapa tokoh sastra di luar Kalsel selalu diupayakan untuk hadir sebagai narasumber dalam setiap pelaksanaan ASKS. Di Kandangan (ASKS I) menghadirkan sastrawan kondang/penyair serta da’i potensial D. Zawawi Imron, di Kotabaru (ASKS III) menghadirkan D. Zawawi Imron bersama Sutardji Calzoum Bachri, di Amuntai (ASKS IV) menghadirkan Korry Layun Rampan, di Paringin (ASKS V) menghadirkan Maman S. Mahayana, di Marabahan (ASKS VI) menghadirkan Abdul Hadi WM, di Tanjung (ASKS VII) menghadirkan Raudal Tanjung Banua. Mereka yang telah datang memenuhi keinginan panitia sebagai narasumber itu adalah para penulis handal yang telah malang-melintang di dunia sastra dan tidak hanya dipandang secara ‘keindonesiaan’ saja tetapi di mata dunia mereka menjadi figur penting dan sangat konsisten di bidangnya. Mereka telah menjadi bagian dari ‘sastra dunia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, dari ujung atas Barat Sumatera sampai paling ujung kulon pulau Jawa, kemudian menyisir pantai-pantai pulau Dewata Bali, Lombok terus meniti di kepulauan Ambon, bahkan sampai bagian Papua dan melingkar berbalik arah ke Ternate, Sulawesi dan bertahan di Kalimantan, banyak sekali nama-nama tokoh sastra yang akan menampakkan jejak ‘keluar-biasaan’-nya. Ya, mereka adalah orang-orang yang luar biasa dalam bidang sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lepas daripada itu, dari beberapa tahun terakhir ini, beberapa orang Kalimantan Selatan sendiri telah menghadiri bentuk-bentuk perayaan sastra di pulau Jawa dan pulau Sumatera. Micky Hidayat, YS Agus Suseno, Sandi Firly, Hajriansyah, Jamal TS, Zulfaisal Putera, Harie Insani Putra, Isuur Loeweng, Eko Suryadi WS, M. Rifani Djamhari (alm), Karim ‘Oka Mihardja’, Arsyad Indradi, Arra, Maman S. Tawie, Hudan Nur, Sainul Hermawan serta tokoh budaya Syarifuddin R,  bahkan ada pula generasi di bawah mereka seperti Mus’ab, Reza, dan Zurriyati ‘Sysy’ Rosyidah. (hehe, saya juga=penulis). Dan bila disibak jauh ke belakang maka akan semakin panjang daftar nama-nama itu. Ada pula yang tidak terpantau tetapi mereka menghadiri agenda-agenda sastra di luar Kalsel. Ini tentu saja sangat menggairahkan dan menjadi bukti bahwa sastra mampu sebagai ‘daya pikat’ walau tidak sedikit keberangkatan mereka itu dengan dana atau biaya seadanya karena secara umum sastrawan atau penyair yang ada di Kalsel ini tergolong ‘manusia berekonomi pas-pasan’ bahkan banyak yang berada di bawah garis hidup ‘ekonomi lemah’. Mereka berangkat tentu saja secara umum membawa nama Kalsel di ajang agenda sastra tersebut. Sangat disayangkan bila masih banyak di dalam masyarakat kita yang tidak mempedulikan keberadaan sastra dengan segala macam ragam aspek di dalamnya. Mengapresiasi karya sastra adalah juga mengapresiasi pengarang karya sastra tersebut. Proses kreatif mereka pun perlu pula diketahui, bagaimana perjalanan sebuah karya sehingga dapat disuguhkan kepada para pembacanya atau penikmatnya. Ragam-jenis karya itu memang banyak, dan yang paling penting dalam perayaan ASKS VIII di Barabai atau di kota-kota beikutnya adalah ‘semaksimal mungkin menggali potensi ‘kesastraan’ yang ada di tanah banua, agar terangkat ke permukaan dan mampu menampilkan dirinya di layar lebar ‘sastra dunia’ sehingga dapat dibaca lebih lebar, meluas dan menjadi tahu apa saja yang ada di ‘banua Kalimantan Selatan’ ini. Salah satu contoh ketika tercetus untuk memajang “Bumi Banjar Bumi Bersyair” yang tercetus saat perayaan ASKS VI di Marabahan, kemudian dengan ‘daya provokasi gaya sastra’ maka di Tanjung dikuatkan pula terapan Basyair itu ke dalam ajang lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barabai, bila memang dilaksanakan dengan persiapan yang sangat memperhitungkan sampai kepada hal-hal sekecil apapun, maka diyakini bahwa akan ada hal-hal yang menarik dan mampu berperan sebagai daya pikat. Promosi daerah adalah hal yang utama yang harus disikapi secara positif oleh mereka yang memang berkaitan dengan hal ini. Ini memang harus selalu digelorakan, walau untuk saat-saat sekarang ini dunia sastra masih jauh dari jangkauan para pengusaha serta para penguasa. Sastra sendiri harus kembali membaca dirinya sendiri, dan orang-orang yang ada di luar sastra perlu juga membuka diri bahwa kita akan saling berbagi dan sama-sama menata bangunan megah menara yang akan dapat dinikmati bersama di hari-hari jauh ke depan. Kita tentu saja boleh bermimpi, tetapi ternyata dari mimpi itu tidak sedikit yang telah terbukti karena kerja keras semua pihak saling bahu-membahu dan terkadang capaian-capaian itu tidak disadari bahwa semua bermula dari secarik mimpi yang diwujudkan oleh goresan tinta, ujung pena menari-nari. Imajinasi kreatif bukanlah hayalan kosong belaka, bukanlah ruang dengan hampa udara, tetapi merupakan daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita juga memerlukan rekan-rekan penulis, penyair atau sastrawan luar dating menghadiri agar gairah, promosi, serta beragam pemikiran, kreasi dan ide-ide cemerlang yang inovasi hadir dalam perayaan ASKS di Barabai nanti. Semoga saja. Mereka bersedia datang (Pergi dan Pulang) menggunakan dana mereka sendiri. Panitia hanya menyiapkan akomodasi dan konsumsi. Tetapi karena kota Barabai berjarak sekitar 160 km dengan daya tembuh 3 – 4 jam perjalanan, maka perlu juga koordinasi agar perjalanan mereka lancar dan sebagai tuan rumah perlu bersikap memperhatikan, melayani perjalanan mereka terutama sejak tiba di bandara Syamsudin Noor menuju kota Barabai. Beberapa pilihan dapat ditentukan dan diseting sedemikian rupa, misalnya ada mobil yang sudah siap untuk memberangkatkan mereka dalam satu rombongan, tentu saja jadwal kedatangan mereka terus terpantau. Boleh juga dengan menyiapkan penginapan khusus entah di Banjarbaru atau di Banjarmasin, setelah terkumpul semua sebagai satu rombongan maka mereka langsung berangkat ke Barabai. Atau ada pula jenis pelayanan yang lain dan ini perlu persiapan yang matang-terkendali. Jangan sampai ada satu orang pun dari mereka yang mengalami hal-hal mengecewakan. Panitia harus siaga cepat tanggap dan tangkas untuk melayani dari kedatangan sampai akhirnya memberangkatkan mereka sesuai keinginan mereka. Panitia menjadi fasilitator, berfungsi sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan untuk itu tentu saja tidaklah dapat dilakukan bila hanya menunggu dalam hitungan satu bulan atau beberapa minggu. Agenda tidak bergesera, tanggal dan hari mutlak jelas dalam ketetapan pasti. Semua ‘orang-orang’ dalam kepanitiaan sudah tahu dan menguasai bidang kerjanya. Sarana-prasarana tidak kalang-kabut lagi bila tepat waktu, tepat tempat, tujuan dan fungsinya. Seting ini mutlak dan pertemuan demi pertemuan tidak dapat dikatakan tuntas bila hanya satu atau dua kali bertemu. Pertemuan tidak harus melulu dalam suasana rapat formal tetapi dirancang agar pembicaraan, pembahasan serta simpulan-simpulan langkah menjadi akurat dan membahagiakan, damai, bersahaja. Bila ada salah satu orang saja yang berpikiran untuk ‘menguras pundit-pundi dana’nya maka akan membuat semua jerih-payah itu akan sia-sia belaka, paling tidak ‘cacat dalam tata-laksana’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat berharap agenda ASKS ini dapat bergulir terus tanpa henti, walau di kemudian hari bentuk, nama, pelaku, spanduk serta sponsornya berbeda-beda. Paling tidak semangat untuk meraih kemajuan dan kesuksesan di semua bidang dalam pembangunan, tidak dapat mengesampingkan peranan di sisi budaya, seni dan kesenian. Bagaimana, wahai rekan-rekan di Barabai? Kita siap??! Ataukah, sampai saat ini masih banyak kendala karena yang namanya koordinasi itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akh, apakah hanya sampai batas wacana saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-5551923914296785681?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/5551923914296785681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=5551923914296785681' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5551923914296785681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5551923914296785681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/menciptakan-sastra-sebagai-daya-pikat.html' title='MENCIPTAKAN SASTRA SEBAGAI DAYA PIKAT'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-6356947343741068582</id><published>2011-08-10T04:41:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:42:38.116-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA 2008 TUTUP MULUT</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           Kalimantan Selatan, tepatnya di Balangan, pada 12 sampai 14 Desember ini, akan berlangsung suatu perhelatan besar tentang sastra dan kesusastraan. Aruh Sastra V namanya. Bagi kalangan sastrawan dan penggiat sastra dan kesusastraan tentu sudah tidak asing lagi. Masyarakat umum pada saat ini hanya mendengar sayup-sayup, bahkan hampir tak terdengar, padahal acara tersebut merupakan moment yang sangat besar bagi perkembangan sastra dan kesusastraan di Kalsel,  atau lebih kerennya merupakan ajang untuk menunjukkan adanya suatu gerak kemajuan dalam dunia sastra, khususnya di Kalsel.&lt;br /&gt;	Halaman Radar Banjarmasin Minggu, Cakrawala Sastra &amp;amp; Budaya, dalam beberapa minggu ini terakhir memang memuat hasil Lomba Cerpen dan Puisi Aruh Sastra 2008, namun masih saja terasa sepi dan senyap perjalanan menuju aruh sastra tersebut. Seakan, tiada hiruk pikuk dan berbagai kesibukan yang menandakan akan adanya suatu pertemuan (hajatan) besar dalam dunia sastra Kalsel di Balangan.&lt;br /&gt;	Memang ada perdebatan, atau lebih tepatnya gugatan, atas terbitnya Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (ESKS) dari Balai Bahasa Banjarmasin (BBB), yang juga menghiasi lembaran Carkrawala dalam beberapa bulan terakhir. Kehadiran ESKS yang sebenarnya sudah cukup untuk dimaklumi sebagai suatu kelahiran tidak normal dan membawa cacat bawaan, lebih cenderung mendominasi berbagai pembicaraan kalangan yang konsen terhadap sastra dan kesusastraan, dan terlalu banyak menyita kesempatan dalam ruang media yang terbatas hanya setiap Minggu, sehingga pra Aruh Sastra berlalu begitu saja tanpa ada pergulatan, pergumulan, perdebatan, lontaran ide dan gagasan, pandangan terhadap perkembangan dan pertumbuhan sastra dan kesusastraan sejak aruh sebelumnya, dan bagaimana harapan ke depan.&lt;br /&gt;	Perdebatan tentang kehadiran ESKS, berdasarkan tulisan di halaman Cakrawala,  memberikan kesan terlalu membesarkan sesuatu yang sebenarnya hanya bagian sempit dan kecil dari dunia sastra Kalsel. Para peneliti sastra, tidak terlalu naif untuk hanya mempercayai satu ensiklopedia sebagai rujukan dalam penelitiannya, sehingga ESKS tidakalah mampu mewakili luasnya sastra dan kesusastraan Kalsel. Juga, cenderung memposisikan para sastrawan Kalsel sangat tergantung dengan pemerintah dalam melaksanakan aktivitas dan kegiatan sastra. Apalagi, perdebatan ini dapat dikatakan tidak terlalu relevan dengan hajatan besar masyarakat sastra Kalsel di Balangan.&lt;br /&gt;	Masyarakat sastra Kalsel sudah sepatutnya mengarahkan segenap hati dan pikirannya dalam menyongsong Aruh Sastra V di Balangan. Membongkar kemapanan sastra Kalsel dalam setahun terakhir, agar tercipta keadaan “berantakan” yang kemudian digulirkan dalam berbagai kesempatan dan media oleh para sastrawan, seniman, dan pekerja sastra untuk dipilah, dipisahkan, dikelompokkan, dan disusun kembali. Bagaimanapun, pembicaraan ESKS merupakan contoh yang cenderung kepada kemapanan sastra, sedangkan bentuk bukunya yang lahir cacat seakan telah mengganggu kemapanan tersebut.&lt;br /&gt;	Aruh Sastra V terlalu besar jika hanya sekedar hajatan “kumpul-kumpul” yang cenderung kangen-kangenan dan nostalgia dengan berbagai acara hiburan “ngesastra”. Hajatan besar ini harus mampu memunculkan “prahara budaya” yang terjadi di Kalsel, dan dimana posisi para sastrawan dan seniman di dalamnya. Para sastrawan, yang memilih posisi tertentu dengan konsekuensi peran yang harus dimainkan, harus mulai terlibat dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Kalsel. Pembicaraan pertumbuhan, pembinaan, dan perkembangan sastra di Kalsel biarlah menjadi lahannya komunitas kecil sastra dan berskala lokal atau daerah.&lt;br /&gt;	Sastrawan dan seniman Kalsel sudah saatnya menunjukkan keberpihakan kepada berbagai masalah kehidupan masyarakat, sekaligus sebagai cara “menginjakkan kaki” di bumi, terutama dalam ide dan gagasan yang dilanjutkan dengan sikap terhadap setiap persoalan yang “menghujam dan menikam” masyarakat. Hal ini memang mempunyai konsekuensi terjadinya hubungan yang kurang “harmonis” dengan pemangku kekuasaan, tetapi pilihan cara dan kecenderungan keterbukaan memberikan peluang untuk mengurangi ketidakharmonisan tersebut. Kemandirian sastrawan dan seniman menjadi penting artinya untuk diperjuangkan. Walaupun selama ini para sastrawan dan seniman berusaha menjalin hubungan baik dengan elit kekusaan, kepedulian pemerintah terhadap sastra tetap saja masih kalah sangat jauh bila dibandingkan dengan kegiatan olahraga.&lt;br /&gt;Hajatan besar dari Aruh Sastra Kalsel I di Kandangan, HSS (2004), Aruh Sastra Kalsel II di Pagatan, Tanah Bumbu (2005), dan Aruh Sastra Kalsel III di Kotabaru, Kotabaru  (2006), hingga Aruh Sastra Kalsel IV di Amuntai, Hulu Sungai Utara masih belum mampu memperlihatkan suatu pilihan peran dan sikap dari para sastrawan dan seniman sebagai bagian dari masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan bersama yang lebih baik. Sebagai bagian masyarakat dan sebagai entitas bebas yang sadar, para sastrawan dan seniman, haruslah terlibat dalam memperjuangkan kebaikan bersama, karena bila masyarakat menjadi sejahtera secara otomatis sastrawan dan seniman termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;Aruh Sastra V jelas bukan hajatan besar untuk tutup mulut. Bersuaralah, bersuaralah dengan lantang, karena banyak yang tidak mampu bersuara sebagaimana sastrawan dan seniman. Para sastrawan dan seniman serta pencinta sastra dan seni, berkumpul untuk suatu hal yang besar sebagai ajang tahunan, yang tentunya digagas untuk “memercikkan cahaya” dalam berbagai kesadaran tentang situasi dan kondisi daerah. Jelas, harapan besar dibebankan kepada Aruh Sastra V, agar hajatan besar ini menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat, memberikan cahaya penyadaran kepada masyarakat, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk meraih kesejahteraan yang semestinya. Selamat, sukses Aruh Sastra!    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radar Banjarmasin, 13 Desember 2008: 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-6356947343741068582?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/6356947343741068582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=6356947343741068582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/6356947343741068582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/6356947343741068582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra-2008-tutup-mulut.html' title='ARUH SASTRA 2008 TUTUP MULUT'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-5067831024108006631</id><published>2011-08-10T04:40:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:41:33.628-07:00</updated><title type='text'>MEMANDANG BANJAR SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN (Aruh Sastra VI Batola)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hajatan tahunan sastra di Kalimatan Selatan sedang dipersiapkan pelaksanaannya. Aruh Sastra VI telah ditetapkan penyelenggaraannya di Batola sejak Aruh Sastra V Balangan, setahun berjalan,  waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan “perjalanan menuju” menghidupkan sastra dan sekaligus membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan; karena merupakan titik di mana tercipta dan berkembangnya budaya Banjar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra VI Batola terkesan masih sebagai acara tahunan yang pelaksanaannya hanya pada saat dilaksanakan acara tersebut. Pelaksana yang ditunjuk, sejauh yang dapat diketahui, terlihat tidak memanfaatkan waktu yang panjang dengan berbagai aktivitas dan gerakan dalam sastra dan budaya untuk menuju hari pelaksanaannya. Atau, aktivitas dan gerakan sastra dan budaya lebih banyak yang tersembunyi dan hanya untuk kalangan terbatas untuk mengatakan bahwa sebenarnya sastra dan budaya masih berdetak kehidupannya di banua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Aruh Sastra selanjutnya perlu memikirkan bagaimana memanfaatkan waktu yang panjang hingga menjelang aruh selanjutnya, tidak hanya diserahkan pada panitia pelaksana yang ditunjuk sebagai tuan rumah, tapi melibatkan semua untuk bersama dalam gerak budaya ini, karena kegiatan ini merupakan acara tahunan yang  strategis dalam membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan bagi segala daya hidup untuk kebudayaan Banjar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjar sebagai pusat kebudayaan bagi kebudayaan Banjar, tidak menapikkan perkembangan kebudayaan lain yang menjadi pusat sendiri bagi kebudayaan yang bersangkutan. Dalam bersikap dan bertindak, manusia Banjar harus menyadari bahwa mereka berada di pusat kebudayaan mereka sendiri, yang bangga dengan segala daya cipta dan karya yang dihasilkannya. Dengan menyatakan diri dalam dan berada di pusat kebudayaan sendiri, yang mengacu pada di mana manusia Banjar itu berdiri sebagai titik acuannya dalam memandang dunia sekitarnya dan dunia di luarnya, tentu tidak ada dan perlu lagi pertanyaan “mana karya sastra manusia Banjar yang diakui pusat (misalnya Jakarta)?” untuk menujukkan eksistensi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Banjar yang tidak mengarahkan pandangannya dalam gerak Banjar sebagai pusat kebudayaan, sama saja menyatakan bahwa kebudayaan Banjar tidak patut lagi hidup atau memang sudah terhenti detak kebudayaannya, karena mereka telah hidup dan berkehidupan dengan budaya lain meskipun berada di tanah Banjar, yang selalu mengacu pada bagaimana pusat kebudayaan di luarnya memberikan pengakuan terhadap eksistensinya. Dalam hal ini, meminjam ungkapan tentang bagaiman terhormatnya seseorang yang menjadi kepala dalam bisnis kecil yang dijalankannya daripada besar dalam perusahaan besar tetapi menjadi ekor. Di sini, ada suatu kebanggaan terhadap hasil karya dan daya cipta sendiri, yang terwujud dalam bagaimana cara memandang berdasarkan semangat budaya sendiri sebagai pusat kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal karya, membandingkan dengan hasil karya budaya lain memang perlu dan baik, tetapi tidak dengan menghilangkan sandaran budaya suatu karya itu tercipta atau diciptakan. Biarpun hasilnya tidak sebanding dengan perkembangan hasil karya dari budaya luar, tidak seharusnya menjadikan manusia di dalamnya lebih rendah atau merendahkan diri atas hasil karya sendiri. Perbandingan hasil karya, ataupun pengakuan dari luar, tidak lebih dari upaya penyadaran untuk terus berkarya dengan mengacu pada di mana manusia tersebut berada dalam memandang dunia di sekitar dan di luarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, yang keberadaanya sudah ada dengan berbagai hasil karya kebudayaan; hanya dilanjutkan generasi berikutnya,  tentu mempunyai berbagai hambatan, yang utama antara lain: (1) kesadaran pemegang kekuasaan di daerah betapa sangat pentingnya kebudayaan tidak terlihat, (2) keberpihakan elit kekuasaan untuk kegiatan budaya hanya ditunjukkan saat diperlukan untuk kepentingan sesaat, (3)  kepala daerah kurang atau tidak sama sekali mau mengerti dan memahami arti penting kebudayaan bagi dasar program pemerintahannya, dan (4) pemerintah daerah tidak mempunyai pemihakan dalam anggaran untuk kegiatan budaya. Hambatan juga bisa dari kalangan yang bergerak dalam bidang kebudayaan itu sendiri, namun hambatan ini cenderung bergantung pada kesadaran pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan dari pemerintah daerah dan elit kekuasaan daerah di atas, menyebabkan kebudayaan Banjar menjadi terkendala dan bahkan bisa terhenti, yang secara tidak langsung memberikan peluang tumbuh dan berkembangnya budaya yang sangat bergantung dengan perkembangan budaya yang menjadi rujukannya. Hal ini dapat lebih berkembang pada elit kekuasaan di daerah, sehingga mereka cenderung melupakan hidup dan berkembangnya kebudayaan sendiri, seperti terlihat pada tiadanya sensitivitas terhadap bangunan pemerintah yang sangat mengacu pada arsitektur luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal anggaran untuk kegiatan budaya, pemerintah daerah (provensi dan kabupaten/kota) tidak bisa diharapkan keberpihakannya, seakan kegiatan budaya tersebut tidak mempunyai hubungan penting dan bermakna dalam membangkitkan semangat dalam pembangunan dan menunjang keberhasilan program pemerintah. Elit kekuasaan daerah juga cenderung tidak peduli, jika kepala daerah berupaya memperjuangkan anggaran untuk kegiatan budaya.  Jelas terlihat betapa kegiatan budaya, seperti sastra dan kesenian, tidak dapat dipahami dan dimengerti  oleh elit kekuasaan sebagai bagian penting dalam gerak kemajuan. Kemungkinan besar, sebagian peserta Aruh Sastra VI Batola kurang mendapat perhatian dan bantuan fasilitas dari daerah masing-masing dalam mengikuti acara tersebut, karena alasan yang sangat tidak peka dan mengada-ngada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya, kegiatan budaya disadari sebagai suatu kegiatan yang penting dalam pembangunan dan pemerintah merasa berkepentingan dengan kegiatan tersebut, tentu tidaklah sulit untuk membantu para peserta yang akan berangkat ke Batola (bahkan dengan uang saku) dan memberikan tugas kepada guru-guru bahasa atau mata pelajaran sastra atau muatan lokal (SD/MI – SMA/Sederajat) di daerah masing-masing melalui dinas terkait untuk mengikuti acara Aruh Sastra. Apalagi kegiatan ini diselenggarakan setahun sekali, yang tentu dapat memberikan suatu penyegaran dan pengayaan guru-guru tersebut, dengan harapan para guru tersebut termotivasi untuk membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan yang hanya dapat diwujudkan bila terus berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, manusia Banjar harus menyadari bahwa dirinya yang memandang dunia di sekitar dan di luarnya. Selama manusia Banjar menyadari bahwa dirinya yang terikat dengan budaya Banjar terus menciptakan karya sastra, maka tidak berlebihan jika dia menganggap dirinya sebagai pusat pandang dalam dunia sastra yang dihasilkannya, terlepas itu bisa diterima penerbitan di luar (seperti Jakarta sebagai pusat yang lain) atau tidak diakui sebagai karya sastra yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Aruh Sastra VI Batola, menjadi tawaran wacana yang penting bagaimana membangkitkan visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, karena Banjar sebagai suatu kebudayaan tentu masih diharapkan mampu terus menjadi sistem nilai budaya yang hidup dan berkembang. Sebagai pusat kebudayaan sendiri, sekecil apapun adanya, ia tetap merupakan suatu bentuk dan roh yang hidup dalam kehidupan manusia Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sangat banyak harapan dalam hajatan Aruh Sastra, untuk terus menghidupkan budaya dan membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, dengan mendorong dan mendukung dalam berkarya dan berbuat dengan cara pandang sendiri, sebagai manusia Banjar yang juga mempunyai pandangan terhadap dunia. Biarlah orang luar atau manusia Banjar sendiri yang melihat adanya sinar dari tanah Banjar, redup atau terang, itulah karya dari manusia Banjar yang terus bergerak dan berproses dalam kebudayaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Radar Banjarmasin, 2 Desember 2009:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-5067831024108006631?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/5067831024108006631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=5067831024108006631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5067831024108006631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5067831024108006631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/memandang-banjar-sebagai-pusat.html' title='MEMANDANG BANJAR SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN (Aruh Sastra VI Batola)'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-2020578897947922118</id><published>2011-08-10T04:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:40:06.316-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA VII TANJUNG 2010 : SARABA KAWA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 di Tanjung, Kabupaten Tabalong, menandai telah berlalunya setahun dari pelaksanaan Aruh Sastra tahun sebelumnya. Pelaksanaannya berlangsung dari tanggal 26 – 28 November 2010 dengan tema “Saraba Kawa: Menjunjung Kesenian, Bahasa, dan Sastra Daerah”, yang memperlihatkan adanya semangat dalam mengapresiasi daya cipta dan karya yang dilahirkan dari daerah sendiri; terutama kesenian, bahasa, dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan satu tahun setelah Aruh Sastra VI Batola 2009, tentu telah banyak karya yang berhubungan dengan kesenian, bahasa, dan sastra yang dilahirkan oleh para pelaku, baik yang telah lama bergumul maupun yang baru terlibat dengan kegiatan pengembangan daya cipta dan kreativitas dalam bidang-bidang tersebut. Misalnya, seperti penerbitan buku-buku dari masing-masing daerah (kabupaten/kota) yang terkait dengan dilaksanakannya Aruh Sastra tersebut. Karena, berdasarkan hasil karya dan kreativitas tersebut yang dapat membukakan berbagai kemungkinan apresiasi dan membuka jalan untuk menjunjung suatu karya sebagai membanggakan. Bagaimana mungkin kita menjunjung sesuatu yang sama dari tahun ke tahun, dan seandainya ada yang baru itupun hanya sebagian daerah yang terlihat dapat mempertunjukkan hasil karya dan kreativitas, seperti dalam bentuk buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah (kabupaten/kota) yang belum memperlihatkan hasil karya sebagaimana yang ingin dijunjung dalam semangat Aruh Sastra, atau masih bangga dengan yang sudah ada, sudah selayaknya dapat menunjukkan adanya peningkatan kualitas karena dalam hal kuantitas belum tergarap.  Karena, pelaksanaan aruh sastra ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga dan penting dalam hal pemberian apresiasi dan pertukaran semangat untuk terus meningkatkan daya cipta dan karya serta kreativitas.  Memang, apresiasi terhadap suatu karya dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun dalam aruh sastra lebih memberikan penguatan yang berbeda dengan bertemunya dari berbagai daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan di media massa, terlihat ada beberapa pemerintah daerah yang begitu antusias dengan pelaksanaan aruh sastra, yang memberikan penegasan dukungan terhadap warga masyarakatnya yang akan menjadi utusan daerahnya, tentu hal tersebut memperlihatkan adanya kesadaran betapa pentingnya kegiatan aruh sastra dan berbagai hal yang menjadi dasarnya, yaitu: kesenian, bahasa, dan sastra. Mungkin, daerah yang lain juga telah mempersiapkan diri tetapi tidak terekspos di media massa, sehingga tidak terlihat bagaimana sikap pemerintah daerahnya terhadap event seperti aruh sastra ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian pemerintah daerah (kabupaten/kota) dalam pelaksanaan aruh sastra, apalagi berusaha memberikan peluang dan fasilitas kepada warganya (khususnya para pelaku) untuk menjadi peserta aktif, menunjukkan bahwa pemerintah daerah tersebut menyadari tentang kesenian, bahasa, dan sastra daerah merupakan bagian penting dari pembangunan, yang bahkan dapat menjadi dasar dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Hal ini juga berhubungan dengan kesadaran bahwa daerah sangat berkepentingan dengan daya cipta dan kreativitas warganya, yang merupakan penanda adanya perkembangan dan kemajuan  suatu daerah dalam pelaksanaan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya cipta dan kreativitas selalu mengarahkan  pada munculnya nilai tambah, yang mendorong tumbuhnya berbagai peluang baru dalam mengoptimalkan pemanfaatan bahan mentah atau nilai budaya yang ada untuk lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Di sini, terlihat bagaimana panitia pelaksana Aruh Sastra 2010, telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengarahkan peluang daya cipta dan kreativitas dengan memilih tema yang menjunjung kesenian, bahasa, dan sastra daerah. Karena, hal itu berhubungan dengan cara pandang manusia di daerah ini dalam daya cipta dan kreativitas, yang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh memang sepatutnya dijunjung dan sanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 Tanjung seharusnya mendapatkan perhatian pemerintah daerah (kabupaten/kota) dan pemerintah provinsi, karena daya cipta dan kreativitas yang dapat mengangkat daerah dan menjadi pembeda, yang sekaligus menjadi ukuran bagi daerah masing-masing dalam melihat dan memperhatikan denyut kehidupan kesenian, bahasa, dan sastra yang selama ini berlangsung.  Apalagi, apa yang menjadi fokus aruh sastra sebenarnya sangat berhubungan dengan dinas pendidikan, pariwisata dan budaya, dan perindustrian, yang tentu sangat berkepentingan untuk kemajuan daerah masing-masing. Semua itu berhubungan dengan daya cipta dan kreativitas sebagai keniscayaan untuk dikatakan adanya keberhasilan dan pencapaian tujuan. Semua itu yang memberikan peluang dan kemungkinan Saraba Kawa sebagaimana tema aruh sastra kali ini. Selamat untuk pertemuan daya cipta dan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Radar Banjarmasin, 26 November 2010: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-2020578897947922118?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/2020578897947922118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=2020578897947922118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2020578897947922118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2020578897947922118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra-vii-tanjung-2010-saraba.html' title='ARUH SASTRA VII TANJUNG 2010 : SARABA KAWA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-648510109721558585</id><published>2011-08-10T04:37:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:38:47.099-07:00</updated><title type='text'>GAGASAN DARI PERISTIWA SASTRA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEKALI WAKTU saya ikut bergabung dengan Abang Erwin Dede Nugroho (Bang Erwin) yang Pemimpin Redaksi koran ini, biasanya di sana juga ada Abang Ogi Fajar Nujuli (Bang Ogi) yang di hadapanku berkapasitas sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, tidaklah berlebihan bila sekali waktu terlontar juga uneg-uneg yang telah lama ingin dikemukakan, dari banyak hal mungkin yang satu ini saya anggap paling penting, yaitu tentang sebuah upaya lebih tinggi terhadap motivasi menulis sastra di koran ini (Radar Banjarmasin): Honor, ya tidak lain soal honor. Ketika menyampaikan permohonan agar honor menulis sastra diperhatikan dengan adanya kenaikkan nilai rupiahnya, dalam hati, saya menjadi ingat kepada dangsanak Sandi Firly yang bertindak sebagai penjaga gawang dua halaman Sastra &amp;amp; Budaya, saya berdoa pada waktu itu, semoga Sandi dalam keadaan sehat dan sukses selalu. “Berapa sebaiknya honor menulis sastra itu ditingkatkan?”Tanya Bang Erwin mencoba (seperti) mau tahu.”Yaah, cobalah sedikit dinaikkan menjadi seratus ribu untuk sekali dimuat tulisan itu, “ jawab saya penuh harap. Dalam hati saya, sambil mengkalkulasikan semisal sepuluh kali dalam setahun kan lumayan juga jumlahnya. Jawaban yang didapat adalah,”nanti akan dibicarakan.” Saya pun berdoa, sampai sekarang, “moga saja terkabul bahkan sampai ke angka lima ratus ribu rupiah.” Ketika pulang dari begadang malam itu, di kepala saya ada kalimat, mimpi apa lagi yang hadir dari peristiwa demi peristiwa yang saya anggap sebagai salah satu peristiwa sastra, secara pribadi merupakan akumulasi keinginan untuk meramaikan dunia kecil yang bernama sastra di daerah ini atau katakan saja di kota kita masing-masing di propinsi paling selatan pulau Kalimantan. Padahal wilayah Kalimantan Selatan sangat diperhitungkan dibanding wilayah lain sepulau karena alasan jumlah pegiat sastranya, untuk kualitas pun tidaklah mengecewakan. Untuk peta kesastraan wilayah ini cukup terwakili di setiap kabupaten dan kota karena adanya orang-orang yang selalu bergairah dalam setiap kegiatan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI WAKTU YANG LAIN ketika saya bersama M. Rifani Djamhari serta Syaefuddin menghadiri acara dengan bentangan spanduk bertulis huruf besar, DIALOG SASTRAWAN KALIMANTAN, di Samarinda pada hari Sabtu tanggal 9 Desember 2006 yang telah lewat, ada yang menarik ketika seorang pembicara memaparkan gagasannya. Gagasan itu menarik dan lumayan unik tetapi rada-rada sulit direalisasikan. Tetapi tidaklah salah bila itu pun mendapat porsi untuk disikapi bersama. Adalah sebuah usul yang dilontarkan oleh Kepala Kantor Bahasa Kaltim, agar persoalan tulis menulis sastra dan bahasa mendapat tempat di setiap penerbitan koran-koran yang ada di Samarinda atau Kalimantan Timur, dan urusan honor akan disediakan oleh pihak kantor Bahasa Kaltim.  Wah, saya langsung merespon dengan senyum seraya kening berkerut, apa mungkin itu, tetapi bagus juga gagasan Anda Bung!!! Adalah Drs. Pardi, M.Hum. yang bertindak sebagai penanggung-jawab pertemuan itu sambil berdiri menawarkan sebuah kerja sama. Saya tidak memperhatikan lagi apa yang diutarakan oleh Bung Syafril Teha Noer yang dihadirkan dari unsur penerbitan (wartawan Kaltim Post). Saya lebih tersedot pemikiran tentang tawaran kerja sama itu daripada paparan untung ruginya bisnis penerbitan sebagai proses yang sangat ketat dalam persaingan. Walau saya tahu bahwa paparan Bung Syafril adalah paparan cerdas dalam bidang yang digeluti beliau yang intinya tidak jauh beda dengan alasan Sandi Firly, bahwa hanya halaman Sastra &amp;amp; Budaya saja yang menyediakan honor di koran Radar Banjarmasin. Sementara rubrik lain tidak sama sekali, pun untuk opini. Nah, bagaimana dengan gagasan kerja sama tadi, berbesar hatikah pihak Balai Bahasa Banjarmasin bila ada tulisan sastra dan bahasa yang terbit di koran untuk memberikan kontribusi honornya ? Besarkah pertanyaan ini, akh tidak juga, tetapi cukup melapangkan bila memang apresiasi terhadap tulisan dan penghidupan penulisnya dimulai dari honor yang lumayan besar agar pemenuhan kebutuhan penulis dapat terpenuhi.  Mimpi apa lagi yang bergelantungan di ujung rambutku ketika pulang dari Samarinda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU USAI MAGHRIB saya ditunggu Bapak Mugeni, Kepala Balai Bahasa Banjarmasin di sebuah tempat, sambil makan malam beliau bercerita banyak tentang komitmen balai yang dipimpin beliau dalam mengembangkan kehidupan Sastra dan Bahasa di wilayah Kalimantan Selatan ini. Saya sangat suka itu. Saya merespon positif segala upaya itu&lt;br /&gt;Saya buktikan respon positif itu dengan kesediaan saya ikut bergabung menjadi pembimbing kegiatan Bengkel Sastra yang diadakan di berbagai daerah di Kalsel ini, yaitu mulai dari Rantau, Tanjung, Pelaihari, Barabai, dan Marabahan, selain di Banjarbaru dan Martapura. Sebenarnya menurut beliau gagasan untuk Dialog Sastrawan Kalimantan itu diilhami dengan adanya Aruh Sastra yang ada di wilayah kita yang setiap tahun dilaksanakan dengan tempat pelaksanaan secara bergilir dari satu kabupaten atau kota yang ada di Propinsi Kalsel. Jadi, semacam Aruh Sastra-nya Kalimantan. Wah, gagasan yang patut direalisasikan untuk tahun-tahun ke depan. Pasti ada gairah baru yang lebih besar lagi dalam dunia planet sastra kita di pulau ini. Lalu, apa siapa bagaimana dan untuk apa, itu urusan yang harus dimusyawarahkan dengan pihak-pihak lain. Dinas Pendidikan, adakah andilnya dalam hal ini. Dinas Pariwisata dan Budaya, adakah gelitik hati untuk bersanding dalam acara ini. Bagaimana dengan pemerintah propinsi atau kabupaten bahkan pemerintah kota. Hai hai. Saya melihat acara yang mulai dibangun di Samarinda itu adalah awal yang baik dan saya katakan juga bahwa saya sepakat bila itu dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan cara berpindah tempat penyelenggaraan. Bagaimana dengan angka tahun 2007 ? Adalah sangat bagus bila mampu disinergikan dengan agenda sastra  yang terjadi pada tahun depan di Kalsel. Sangat bagus bahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURUN WAKTU TAHUN 2007 tidaklah lama lagi. Pertama. Bergulirnya agenda Aruh Sastra untuk pelaksanaan yang ke-4 di Amuntai, Hulu Sungai Utara, memberikan kesan sangat dalam dan dapat dijadikan tolak ukur tentang sejauh mana geliat sastra di Kalsel ini. Kepada Bapak Harun al-Rasyid yang bertindak sebagai tokoh nomor satu di Amuntai sekarang pada agenda aruh tersebut saya menyarankan beberapa hal yang perlu dipikirkan kembali acaranya. Mata acara yang sangat menjadi perhatian saya adalah Festival Pagelaran Sastra. Saya melihatnya dari sudut yang boleh jadi berbeda dengan rekan pegiat sastra lain.  Saya melihat masing-masing peserta membawa konsep pemahamannya ke atas panggung yang belum tentu sama dengan konsep yang ada di benak para juri. Apalagi  semua juri berangkat dari ketidakterwakilan pada seluruh peserta. Ini bukan berarti saya meragukan kemampuan ketiga juri pada waktu itu, mereka masing-masing adalah pakar sastra yang boleh dipercaya pada bidangnya. Tetapi apakah mereka telah memahami benar tentang apa yang sedang terjadi pada saat itu. Adalah di rumah M. Rifani Djamhari saya katakan kepada salah satu unsur panitia Aruh Sastra ke-3 kemarin, begini, “berkaca dari pelaksanaan Aruh Sastra ke-2 di Pagatan, maka saya berkesimpulan bahwa para sastrawan datang ke tempat yang jauh itu, tempat diadakannya aruh itu, adalah sangat diharapkan mereka tampil, walau sekedar membaca puisi atau cerpen. Jadi, bukan yang tampil itu para penari atau para pemain drama. Sekali lagi yang ingin tampil itu adalah para Sastrawannya. Artinya, penampilan para sastrawan itu menjadi pokok acara, bukan sebagai tempelan pengisi acara di sela-sela acara lain” Boleh jadi ada yang beralasan bahwa bentuk festival pagelaran sastra  itu untuk lebih melebarkan sayap ke wilayah lain, agar sastra menjadi lebih beragam cakupannya. Saya tidak menolak festival itu, tetapi formatnya yang lebih baik menurut saya tidak untuk dilombakan, tidak untuk difestivalkan, tetapi cukup untuk pengisi acara di antara acara Sastranya sendiri. Bahkan boleh saja bentuk festival itu ditiadakan sama sekali. Saya melihat kebermaknaan sastra akan lebih dekat dengan bentuk lain seperti musikalisasi puisi atau visualisasi cerpen. Oke, itu hanya sebagai masukkan kepada panitia pelaksana. Aruh Sastra adalah sebuah kerja akbar, jadi, selalu berkoordinasi dengan pihak lain adalah sebuah keharusan. Persiapannya pun tidak bisa hanya sebulan atau dua bulan, paling tidak perlu waktu 6 bulan sebelumnya, karena ada mata acara yang memerlukan waktu persiapan lebih jauh terutama publikasinya, seperti mata acara Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen, juga Pembuatan Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan. Kedua.  Adanya rekomendasi dari Kongres Cerpen Indonesia di Riau yang mempercayakan kepada rekan-rekan di Kalsel sebagai tempat pelaksanaan Kongres Cerpen Indonesia pada tahun 2007 adalah sebuah agenda sastra yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Pada hal ini saya belum bisa memberikan kontribusi gagasan lebih banyak karena memang saya sendiri tidak terlibat secara langsung apa yang terjadi, walau pun ketika saya menghubungi Saudara Raudal Tanjung Banua disarankan olehnya untuk berangkat saja ke Riau nanti segala sesuatu bisa dia bantu urus di sana, tetapi aku katakan nanti sajalah. Ketiga. Apabila pihak Balai Bahasa Banjarmasin jeli melihat ini sebagai agenda sastra yang mampu memberikan warna dari kedua agenda sastra di atas maka ini harus mereka upayakan agar pelaksanaan Dialog Sastrawan Kalimantan  dapat dilaksanakan di Kalimantan Selatan. Untuk agenda ini saran saya terfokus kepada para pembicara sebagai narasumber, saya katakan kepada kakawanan di Banjarbaru bahwa harus ada pembagian jumlah, yang ideal menurut saya adalah 10 orang pembicara. Empat dari tuan rumah, lalu dua  pembicara dari masing-masing Propinsi tamu.  Pada intinya para pembicara harus mampu menyuarakan peta sastra di masing-masing propinsi yang ada di Kalimantan, agar mampu menguak tirai-tirai sastra di masing-masing tempat, bukan seperti yang terjadi di Samarinda (Kaltim) yang pada simpulan saya adalah bagaimana cara kita (kalau tidak dikatakan mereka) untuk memajukan kesastraan di Kaltim,  karena dari semua pembicara tidak ada yang menyampaikan peta sastra Kalimantan secara umum di dalam kertas kerjanya. Agenda ketiga ini kita berharap banyak, sekali lagi,  agar dapat diupayakan oleh pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Bagaimana Bapak Mugeni, saya bertanya, ketika angin berhembus pelan di ujung daun telinga dan orang-orang sedang menikmati jagung bakar di lapangan Murdjani. (Saya jadi teringat betapa nikmatnya duduk santai di Tepian Mahakam yang membentang sepanjang bantaran Sungai Mahakam di pusat kota Samarinda bersama gemerlap lampu yang memantul di permukaan sungai, bergabung juga keluarga Mugiharto Wakhmadi, S.S, keluarga yang kami tempati bertiga, sebagai kenalan kami di kota Samarinda).Keempat.  Agenda ini sebenarnya sudah rutin dilaksanakan di kota Banjarbaru, yaitu Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra. Memasuki tahun 2007 ia akan menjadi tahun ke-4 pelaksanaan yang bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan.Kami telah menambah mata acara Lomba Baca Puisi Islami se-Kalimantan Selatan pada tahun 2006 di bulan Oktober yang baru lewat. Sebenarnya ada satu agenda yang belum terlaksana, yang ketika saya konsultasikan  dengan Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, Bang Ogi, yaitu mengundang sastrawan luar pulau Kalimantan, dan saya sudah kontak rekan penyair Acep Zamzam Noor, redaktur budaya Ahmadun Y Herfanda serta rekan Hasif Amini, tetapi maaf rencana ini belum dapat terlaksana. Moga saja di lain waktu dapat terwujud, mimpi itu perlu walau untuk mewujudkannya haruslah pula berkaca kepada realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun bergulir dan terus bergulir, tidaklah mampu dibendung, bahkan oleh kita sendiri. Karena barang siapa yang dapat mengikuti irama dari pergerakkan arus waktu itu maka yakinkan saja ia akan dapat menemukan muara-muara yang membahagiakan baginya atau juga bagi orang lain. Nah, bila di waktu yang berangka tahun 2007 dapat kita laksanakan agenda sastra seperti yang saya tuliskan di atas maka Kalimantan Selatan boleh saja menjadikan tahun itu sebagai Tahun Sastra. Tentu saja kita tidak boleh mengabaikan agenda-agenda sastra lain, seperti rutinnya Lomba MusikalisasiPuisi di STIKIP PGRI Banjarmasin, Bengkel Sastra oleh Balai Bahasa Banjarmasin, SSSI di (tiga kota: Banjarmasin, Martapura dan Kotabaru). Lalu saya menatap kepada Bang Erwin dan Sandi, dalam hatiku, terkabul jugakah tawaranku seperti tawaran rekan-rekanku yang lain tentang kenaikkan honor itu.Ataukah kita atur bersama-sama, karena alasan kualitas tulisan sangat berperan di dalamnya? Malam telah larut,saya pulang ke rumah, tertangkap serpih-serpih embun di daun pintu, pagi hampir tiba menyeruak dan kita membawa harapan masing-masing di telapak tangan terbuka tengadah. Hanya kepada Tuhan permohonan demi permohonan di panjatkan, tetapi jika boleh menawarkan maka itulah tawaran yang paling mulia untuk dapat memulai ke arah yang lebih baik. Demi kita semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-648510109721558585?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/648510109721558585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=648510109721558585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/648510109721558585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/648510109721558585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/gagasan-dari-peristiwa-sastra.html' title='GAGASAN DARI PERISTIWA SASTRA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-1287843637443145854</id><published>2011-08-10T04:35:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:37:08.352-07:00</updated><title type='text'>ALAM SEKITAR DI MATA PENYAIR KALSEL</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di buku kumpulan puisi Tarian Cahaya di Bumi Sanggam, menampakkan data yang cukup menarik diperhatikan adalah puisi-puisi bertema ‘alam sekitar atau lingkungan’. Buku yang digagas berdasarkan pelaksanaan akbar Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-5 tahun 2008 di Kabupaten Balangan, dan kota Paringin sebagai tempatnya semua rangkaian kegiatan. Menarik untuk ditelisik, buku setebal 260 itu menampung 86 penulis dengan 187 puisi. Dari jumlah itu terlihat ada 76 puisi bertema atau mengandung tafsiran alam sekitar atau lingkungan yang diciptakan oleh 50 orang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut telisik saya, tema alam sekitar atau lingkungan dimaksud adalah adanya keterkaitan kata-kata beridentifikasi alam sekitar atau lingkungan di dalam puisi tersebut. Kata-kata beridentifikasi itu (1) ada yang secara utuh sejalan dengan tema alam sekitar atau lingkungan, dan (2) sebagai metafor atau idiom-idiom yang dapat saja menghadirkan tafsiran lain, selain makna denotasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang saya dapat sejumlah puisi dengan kandungan tema alam sekitar atau lingkungan tersebut adalah sebagai berikut: Selepas dari  hutan (Taufiq Ht), Ketika aku berjalan menembus hutan; Ketika aku berjalan menyusur sungai; Ketika aku berjalan menyisir pantai (Tarman Effendi Tarsyad), Biografi kayu gelondongan; Biografi deru mesin; Biografi sungai mengalir (Tajuddin Noor Ganie), Wajah (Syafiqotul Machmudah), Tentang aku dan sajak (Sandi Firly), Sketsa (Rosydi Aryadi Saleh), Sajak pembebasan; Berlari bersama angin (Robby Syachra), Sebab hujan adalah pertemuan kita (Ratih Ayuningrum), Dulu aku pernah melukis langit (Rahmiyati), Raja gundul; Nyanyian hutan larangan (R. Syamsuri Saberi), Kepada kawan segenggam pasir; Kembang hidupku (Oka Miharja S), Dari puncak gunung hauk kulihat dia (Murjani Hasan), Laskar embun; Buram (Misbah Munir Akhdy), Gerimis kehidupan (Muhammad Noor), SOS kalimantan selatan; Hutan di mataku; Reportase dari kaki  pegunungan meratus (Micky Hidayat), Jadikan kuda sumbawa (Meylida Mayangsari), Di batas laut saijaan; Gunung batu aji (Mas Alkalani Muchtar), Alia cikini 702; Dalam malam Jakarta (Maman S. Tawie), Duka meratus (M. Sulaiman Najam), Jamban (M. Nahdiansyah Abdi), Setelah pagi tiba (Lilies MS),  Pada kerinduan (Isuur Loeweng S), Kenalkan laut padaku;  Pada keasinan yang sama; Sebelum kau datang (Imra’atul Jannah), Amsal sebatang pohon; Balangan (Ibramsyah Amandit), Diam-diam berubah menjadi (Hudan Nur), Ritus meratus (Hardiansyah Asmail), Putihnya harap (Hamami Adaby), Potret ayah (Haliem Kr), Terbujur-halang menahan rindu; Gunung, laut, dan lelaki; Kerikil logam api (Hajriansyah), Sungaiku (H. Rizhanuddin Rangga), Kau jangan latah (Fitri Yani), Tuhan; Darah impian (Fahrurraji Asmuni), Sebuah mimpi (Fahmi Wahid), Sajak tentang bunga (Embeka), Sebelum halimun (Eko Suryadi WS), Karang bolong dini hari (Eddy Wahyudin SP), Persembahanku (Dwi Upayani), Salju turun di senja martapura; Bougenville (Dewi Alfiani),  Loksado; Potret kehilangan (Burhanuddin Soebely), Sebuah dangau di tengah telaga; Dari tanganmu bunga-bunga berdaun kematian (Aspihan N Hidin), Reruntuhan pagi; Reruntuhan hujan (Arsyad Indradi), Aku menyimpan laut; Langgam bumi sanggam (Ariffin Noor Hasby), Lautku (Andi Jamaluddin Ar Ak), Surat putih seberang selat (Ali Syamsudin Arsi),  Tadarus ombak (Aliman Syahrani), Menunggu hujan tumpah dalam puisiku (Abdurrahan el-Husaini), Gundah (A. Tajuddin Bacco), Jemari lembut; Gundah (A. Syarmidin),  Nature in destruction; Surat cinta (A. Rahman al-Hakim), Episode perjalanan; Di dermaga  Margasari suatu siang (A. Kusairi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet daftar puisi yang saya tulis berdasarkan judulnya  di atas sebenarnya dapat saja tidak sebanyak itu bila ditelisik berdasarkan tema dengan penekanan ‘harus’ masalah alam sekitar atau lingkungan karena sejumlah puisi yang secara utuh membicarakan atau dengan sengaja bertemakan alam sekitar atau lingkungan masih dapat dipilah lagi darinya. Hanya saja ada kecenderungan, walau hanya berupa kelompok kata atau sebaris kata-kata atau pun  hanya sebait, saya katagorikan (sementara) bahwa puisi itu mengandung ‘nilai-nilai alam sekitar atau lingkungan’. Sebagai contoh coba kita simak puisi pendek yang berjudul Tentang Aku dan Sajak, karya Sandi Firly sebagai berikut:  semalam,/ aku bercakap-cakap dengan gerimis/ tentang aku ingin menggores kata-kata/ tentang kata-kata ingin menggores sajak/ tentang sajak ingin menggores aku/ kadang aku mencoret kata-kata/ kadang kata-kata mencoret sajak/ kadang sajak mencoret aku/ semalam,/ aku bercakap-cakap dengan gerimis/ bisakah aku berumah dalam kata-kata? /// Dalam tema besarnya jelas sekali bahwa puisi itu tidak bicara tentang alam sekitar atau lingkungan. Yang menjadi penguat sebagai metafor alam hanya terwakilkan oleh kata ‘gerimis’, tetapi ternyata suasana puitis itu lahir dari peristiwa ‘aku lirik’ dengan ‘gerimis’. Kata ‘gerimis’ di sini mampu menghadirkan suasana keragu-raguan ‘aku’ penulis terhadap kemampuan ‘kata-kata’ pun terhadap kedahsyatan ‘sajak’. Rangkaian baris ‘aku bercakap-cakap dengan gerimis’ yang kemudian dilakukan lagi pada bagian akhir sebagai bentuk pengulangan selengkapnya adalah juga sebagai penanda bahwa baris itu menjadi penting. Pada tataran semacam ini, nilai-nilai alam sekitar atau lingkungan hanyalah sebagai tema kecil saja, dan secara keseluruhan ia menjadi satu kesatuan dengan tema yang lebih besar dalam konteks puisi secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jauh berbeda bila kita baca puisi yang berjudul SOS Kalimantan Selatan, karya Micky Hidayat (maaf karena cukup panjang, saya nukil  2 bait saja): … Maka terimalah pelampiasan dendam kesumatku: bumi Kalimantan Selatan beserta seluruh isinya ini akan kutenggelamkan dan kuredam sedalam-dalam hingga lenyap dari peta negeri beribu pulau ini. Maka terimalah laknat dan azabku: semua desa dan kota kusirnakan sesirna-sirnanya jangan pernah kalian cari lagi di mana geografi kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tabalong, Hulu Sungai Utara, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Barito Kuala, Kota Banjarbaru dan Banjarmasin. Semuanya kuhabiskan dan lenyap tanpa sisa – hilang dari peta kemanusiaan. //  Terimalah gelegak air bah amarahku ini sebagai tumbal dan ganjaran atas keserakahan, kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia memerlakukan keseimbangan dan kelestarian alam  ini. Segalanya kulumatkan, kululuh-lantakkan, kuhancurleburkan !// …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan bahwa sederet puisi-puisi itu dalam pembicaraan baik atau tidak baik berdasarkan nilai-nilai sebuah puisi. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa betapa seriusnya para penulis dalam buku  kumpulan puisi tersebut menyuarakan isi hatinya, respon positifnya, tanggapannya, pikiran-pikiran kritisnya terhadap pentingnya kelestarian alam sekitar atau lingkungan sebagai tempat tinggal. Semua itu adalah bukti nyata bahwa para penulis puisi yang boleh jadi disebut juga sebagai penyair telah memberikan sumbangan besar terhadap keberlangsungan pembangunan di tanah tercinta ini. Dengan cara dan ungkapan estetisnya pula para penyair Kalimantan Selatan, yang dalam hal ini termuat dalam buku tersebut memberikan gambar, menampilkan cermin besar tentang keadaan alam sekitar kita atau lingkungan kita. Dan saya pun berharap agar puisi-puisi tersebut tidak hanya dibaca oleh para penyairnya saja, tetapi mampu pula dipahami oleh para petinggi, para penentu kebijakan, terutama yang sangat dekat dengan persoalan alam sekitar atau lingkungan agar setiap keputusan setiap kebijakan mereka tidak terkepung oleh kepentingan-kepentingan yang berakibat fatal terhadap pelestarian dengan segala macam manfaat positifnya. Kemudian saya ikut memberikan dorongan bila ada seorang guru, banyak guru, sekelompok guru,  dimana pun berada bertulus hati membawa buku tersebut ke dalam kelas dan memaparkan bahwa ada banyak puisi di dalamnya yang menuliskan, yang membicarakan, yang menyuarakan masalah alam sekitar atau lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya heran juga dengan dunia pendidikan kita, setelah sekian lama diberikan pemahaman tentang pentingnya sikap positif untuk melestarikan alam sekitar atau lingkungan, masih saja banyak keputusan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan positif itu. Dengan berbagai alasan, terutama yang bersifat ekonomis dan politis, sementara persoalan-persoalan keberlangsungan hidup manusia secara damai dan jauh dari bencana tetap saja terabaikan. Mungkin sudah saatnya kita memikirkan dan memulai langkah-langkah nyata yang bersifat non-ekonomi sebagai landasan fundamental dalam setiap keputusan dan kebijakan yang dilakukan oleh para penentu keputusan atau penentu kebijakan itu. Bila tidak sekarang, maka nyakinlah bahwa bencana alam dan kerusakan alam itu akan menjadi tontonan yang biasa-biasa saja, tanpa mampu lagi memberikan keharuan, kepiluan, kesedihan, karena sudah dianggap biasa-biasa saja. Dan pernahkah terpikir oleh para penentu keputusan dan kebijakan itu bahwa bila datang bencana, bila hadir sengsara yang diakibatkan oleh alam sekitar atau lingkungan itu, saudaranya juga yang menderita, saudaranya juga yang merana, saudaranya juga yang terperangkap dalam jebak-jebak, bahkan anak dan cucu mereka juga yang terkepung di dalam duka-lara.. Oh, alangkah celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan alam sekitar atau lingkungan tentu tidak hanya terdapat pada buku kumpulan puisi itu, tetapi telah banyak para penyair yang menuliskannya. Nah,  pertanyaannya adalah, sampai separah apakah pikiran orang-orang yang seharusnya bersikap membela upaya-upaya pelestarian tetapi malah sebaliknya berbuat sekuat-kuatnya agar alam sekitar atau lingkungan itu menjadi hancur, dan ini sebuah sistem. Sistem penghancur yang mengacu kepada cara kerja mesin. Mesin tanpa hati, tanpa nurani, tanpa perasaan. Hal-hal yang bersinergi dengan hati nurani dan perasaan adalah kebudayaan, dalam hal ini kesenian. Bila saja nilai-nilai kesenian itu telah ‘dibuta dan ditulikan’ maka yang tampak adalah lahirnya produk-produk keputusan dan kebijakan yang juga bersifat ‘dibuta dan ditulikan’. Apakah kalian mendengar, wahai ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-1287843637443145854?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/1287843637443145854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=1287843637443145854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/1287843637443145854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/1287843637443145854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/alam-sekitar-di-mata-penyair-kalsel.html' title='ALAM SEKITAR DI MATA PENYAIR KALSEL'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-6435571088377912910</id><published>2011-08-10T04:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:35:00.622-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA DI BARABAI PERLU ANGKAT HASANAH  LOKAL</title><content type='html'>                                                                                                                                  &lt;br /&gt;Oleh: Hamami Adaby&lt;br /&gt;(Penulis Puisi, Cerpen, sesekali naskah Film/Mamanda, tinggal di Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aruh Sastra VII yang telah berlangsung di Tanjung sudah lulus dari jerat tanggung jawab sebagai pelaksana seperti halnya daerah  lainnya; Kandangan, Amuntai, Balangan, Marabahan. Begitu juga  di daerah; Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Tanjung, yang penulis secara langsung ikut sebagai peserta termasuk dalam rombongan Kota Banjarbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh daerah di atas yang disebutkan telah berhasil melaksanakan hajat haulan aruh sastra, yang kalau kita maknai kata aruh yang berarti menjamu besar-besaran para undangan yang datang dari daerah-daerah ke tempat haulan tersebut. Di mana tersedia fasilitas penginapan; rumah-rumah atau gedung sekolah, dengan alas kepala tidur seadanya dan berkelompok sampai 25 orang dalam satu ruangan, yang sudah menjadi biasa, hingga semalaman melek tidur sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca catatan Ali Syamsudin Arsi mengenai Aruh Sastra Tanjung 26 – 28 November 2010 (Radar Banjarmasin, 5 Desember 2010: 5),  cukup menggelitik sekaligus mengetuk pintu hati seniman/sastrawan untuk turut urun rembug menyongsong aruh sastra berikutnya, dalam tulisan tersebut  dapat ditarik satu kesimpulan yang menarik tentang gambaran keberhasilan atau tidaknya pengelolaan acara aruh sastra dalam pelaksanaannya.&lt;br /&gt;Ada beda-beda tipis dalam acara yang pernah dilaksanakan sebelumnya, gelar puisi spontan dari peserta dari antologi, lomba teater ditandingkan, seperti di Tanjung sebelum aruh bermula didahului dengan lomba menulis puisi dan cerpen bahasa Banjar yang kemudian hasilnya dibukukan dalam antologi yang menjadi cenderamata bagi masing-masing peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra Tanjung menampilkan seni tradisional dengan lomba basyair dan madihin, salut jempol buat panitia dalam gelar tersebut yang dilaksanakan di Taman Tanjung malam Sabtu 26 November 2010 sekaligus sebagai acara pembukaan aruh sastra oleh Bupati Tabalong H. Rachman Ramsyi serta sambutan gubernur yang disampaikan Kabid Kebudayaan dan Kesenian mewakili Kadis Porbudpar Provinsi Kalsel (Yusirwan Bangsawan), suasana malam cukup mendukung hingga berakhir sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada gelar baca puisi siang hari di tempat sama kurang mendapatkan perhatian karena situasi tak mendukung, yang semestinya lebih bagus dan elok pada malam hari, ditambah dengan kejaran waktu  karena ada seminar Kesenian, Bahasa Banjar dan Sastra Daerah yang juga dilaksanakan secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pelaksanaan ketujuh daerah tersebut perlu kita catat, bahwa aruh sastra harus memberi nilai tambah pada daerah yang menjadi tempat pelaksanaannya; seperti dalam  pariwisata yang diharapkan berkembang, menggali cerita rakyat yang tumbuh berakar di masyarakat, dan menghidupkan kesenian tradisional, basyair, mamanda, lamut, madihin, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum hari H acara pelaksanaan, seperti Aruh Sastra VII Tanjung melaksanakan lomba tulis puisi dan cerpen bahasa banjar, yang juga seharusnya diikuti agar bagaimana cerita rakyat terangkat kepermukaan, mengenalkan sastra ke sekolah dasar dan menengah sebagai sosialisasi dalam rangka menyambut aruh sastra yang dilaksanakan di kota mereka, namun sampai hari ini masih stagnan merangkak jalan di tempat atau sebagaimana ungkapan Ali Syamsudin Arsi, “seberapa besar antusias peserta didik dalam “bersastra” atau sejauh mana motivasi guru terlibat dan disampaikan ke peserta didik”, mari kita sama-sama memaknainya agar ke depan aruh sastra dapat menjadi kebanggaan seluruh masyarakat yang menjadi tempat pelaksanaannya..&lt;br /&gt;Atau paling tidak 1 (satu) atau 2 (dua) bulan sebelum hari H pelaksanaan  mulai gencar dalam menyambut gebyar aruh sastra dan diharapkan setelah selesai aruh kegiatan terus dilaksanakan mungkin secara berkala 3 bulan sekali penampilan ringan, diskusi sastra, gelar sastra, gelar teater baik modern maupun tradisional, temporer hingga generasi muda  merasa terpanggil untuk melestarikan kesenian tradisional dan membangkitkan daya cipta dan membuat karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang harus saya lontarkan pada panitia terutama pada aruh yang akan datang, khususnya Kota Barabai, diharapkan tidak terulang lagi peserta atau rombongan tiap kabupaten seperti terisolasi, terkurung dalam ruang hampa, komunikasi verbal terputus seperti asing satu kelompok dengan kelompok lain, tak saling bersapa, namun dapat diarahkan dalam suasana face to face comunication agar tercipta suasana yang penuh keakraban dan terjadinya pertukaran ide dan gagasan dengan santai. Hal ini sebenarnya bisa teratasi dengan satu jamuan, makan bersama (presmanan sederhana) di suatu tempat (gedung/ruang)  yang dapat menampung atau di lapangan terbuka (taman), paling tidak satu kali dalam acara makan pagi atau siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam hal penerimaan tamu, pelaksanaan aruh berikutnya harus memikirkan bagaimana setelah lapor sekretariat panitia harus ada pemandu ke lokasi inap, paling tidak ada bagian penyambut tamu supaya tak terjadi benturan, disiapkan pemandu khusus, masing-masing kabupaten didampingi minimal 1 (satu) pemandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu untuk mencapai klimaks, akuratisasinya perlu didukung dana memadai daerah masing-masing, jauh sebelum hari H, fasilitas anggaran sudah turun jelas agar planning ke depan bisa terlaksana dengan lancar, juga transparansi panitia yang menyangkut planning, organizing, actuiting dan controlling berjalan dengan semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya garis bawahi dari ketujuh daerah yang telah lulus uji materi aruh sastra sangat bervariabel tingkat akuratisasinya, di sana-sini perlu dibenahi bersama. Aruh Sastra VII Tabalong patut diapresiasi, terutama salut buat Lilis MD (dra.) dan sekretaris Bambang Rukmana yang telah kerja keras bersama jajarannya hingga berakhir selamat dalam pelaksanaan aruh sastra di Tanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh sastra VIII tahun 2011 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Barabai, kota apam, harapan saya harapan kita semua, Barabai pasti mampu berinovasi, berdikari, dan mandiri mencari sisi-sisi tepi yang harus diangkat ke permukaan jadi trade mark, harapan kita bersama setelah terbentuknya kepanitiaan bekerja semaksimal mengayomi teman-teman menuju perhelatan akbar ini, apakah  mau seperti Jambi dalam pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia atau menjadi diri sendiri. Pilihlah menjadi diri sendiri! Mengangkat hasanah lokal; Barabai. Vita brevis ars longe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-6435571088377912910?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/6435571088377912910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=6435571088377912910' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/6435571088377912910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/6435571088377912910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra-di-barabai-perlu-angkat.html' title='ARUH SASTRA DI BARABAI PERLU ANGKAT HASANAH  LOKAL'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-4043596896123264430</id><published>2011-08-10T04:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:32:59.227-07:00</updated><title type='text'>TERBENTUKNYA KOMUNITAS SASTRA DAN TEATER DI BARABAI  (HASIL PRA ARUH SASTRA VIII BARABAI)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam kegiatan Pra Aruh Sastra VIII se Kalsel di Barabai yakni Pelatihan Penulisan Karya Sastra, Teknik Membaca Puisi dan Pergelaran Sastra ( 27-28 Juli 2011 ) siswa SMP/MTs/SMA/SMK se Kab.HST, guru-guru  pendamping menyarankan agar membentuk Komunitas Sastra dan Teater dengan tujuan mewadahi minat dan bakat lintas pelajar se Kab.HST. Dalam komunitas ini pelajar dapat belajar,memupuk dan mengembangkan minat dan bakat Sastra dan Teater. “ Selama ini belum ada Komunitas kegiatan Sastra dan Teater di Barabai “ ujar guru-guru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penutupan Pelatihan yang ditutup oleh Ismail Wahid Ketua KSI Kab HST, peserta pelatihan menindaklanjuti saran dari pendamping mereka mengadakann rapat membentuk Komunitas Sastra dan Teater Murakata Muda Barabai, terpilih sebagai ketua Umum : Heldayanti Rukmana, Ketua I Bidang Teater : M.Fahriansyah, Wakil Ketua : Merry Winda Herlianti, Ketua II Bidang Sastra : Nurniawati, Wakil Ketua : Gt.Rahmat Hariyadi. Sekretaris Umum : M.Habibi Anshari, Sekterasis I : Dahliani, Sekretaris II : M.Fahri, Bendahara : Fajar Rizki Rahayu. Bidang Pendataan : Selvia Stiphanie dan Novi Indriani, Bidang Publikasi dan Penerbitan : M.Nirwan Rifani, Bidang Pagelaran : Lina Rahayu dan Hamidah, Bidang Usaha dan Dana : Fitri Febrianti dan Khairunnisa Aziati. “ Program kami jangka pendek salah satunya akan menerbitkan Antologi Puisi hasil karya puisi pelatihan “ kata Heldayanti Rukmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepengurusan komunitas ini langsung dilantik oleh Fahmi Wahid Ketua Dewan Kesenian Kab.HST.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-4043596896123264430?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/4043596896123264430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=4043596896123264430' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/4043596896123264430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/4043596896123264430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/terbentuknya-komunitas-sastra-dan.html' title='TERBENTUKNYA KOMUNITAS SASTRA DAN TEATER DI BARABAI  (HASIL PRA ARUH SASTRA VIII BARABAI)'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-556458062830037053</id><published>2011-08-10T04:30:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:31:29.801-07:00</updated><title type='text'>SAFARI PENYAIR NUSANTARA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga tujuan dalam penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang yang diselenggarakan dari tanggal 16-19 Juli 2011, yaitu :Memberikan ruang ekspresi bagi para penyair yang tumbuh dan berkembang di nusantara seperti Indonesia, Malaysia,Brunei Darussalam, Thailand, Filipina dan lain-lain. Mendorong generasi muda untuk mengapresiasi puisi dari karya-karya penyair nusantara. Dan mempererat hubungan silahturrahim sastrawan antar bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian acara PPN V ini selain seminar,diskusi, tarung puisi, ada acara “safari penyair nusantara” yaitu peserta mengunjungi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Palembang. Tempat yang akan dikunjungi dan peserta yang akan mengunjungi diatur oleh panitia. Tidak seperti acara sebelumnya, acara ini merupakan acara yang perlu dilaksanakan dalam PPN VI ini. Peserta ikut aktif memberikan dorongan dan motivasi agar tumbuh apresiasi sastra dan minat bersastra di kalangan pelajar dan mahasiswa. Memang kunjungan para penyair ini sangat diharapkan  dan diperlukan sekali oleh sekolah mau pun di lingkungan kampus dalam rangka ikut menunjang pembelajaran, pengembangan diri bagi siswa dan kegiatan ekstrakurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rangkaian acara “Aruh Sastra” ke-8 Kalsel di Barabai yang rencananya dilaksanakan tgl 16-19 September 2011 ?&lt;br /&gt;Seperti juga di Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang, Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Barabai nanti, panitia telah menyusun program “Safari Sastrawan” yang tentu saja sama dengan kegiatan  “Safari Penyair Nusantara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara “Safari Sastrawan” Aruh Sastra ini panitia supaya mempersiapkan sedemikian rupa agar sukses seperti “Safari Penyair Nusantara”. Semoga. (AI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-556458062830037053?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/556458062830037053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=556458062830037053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/556458062830037053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/556458062830037053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/safari-penyair-nusantara.html' title='SAFARI PENYAIR NUSANTARA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-1020961449695314410</id><published>2011-08-10T04:28:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:30:12.392-07:00</updated><title type='text'>GUA LIANG HIDANGAN WISATA YANG MENAKJUBKAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah Desa bernama “ Karatau “ Kecamatan Batu Benawa di Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah Desa yang bersih. Masyarakatnya, nampaknya sangat peduli akan kebersihan lingkungan walau pun rumah-rumah di kiri kanan jalan cukup sederhana. Suasana Desa ini terasa nyaman dan menyenangkan dalam sebuah pemukiman penduduk. Di ujung Desa inilah terdapat Gua bernama Liang Hidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita akan ke Gua Liang Hidangan, dari Kota Barabai berjarak  sekitar 8 km menuju Desa Karatau naik mobil atau sepeda motor sekitar  kurang dari satu jam. Tetapi dari Desa Karatau menuju Gua Liang Hidangan berjarak 3 km yang agak sulit ditempuh dengan mobil melainkan dengan sepeda motor sekitar  satu jam atau jalan kaki sekitar satu setengah jam manakala musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Liang Hidangan berada hampir di tengah – tengahnya Gunung Batu Benawa, yang memiliki panorama yang sungguh menakjubkan. Selain keindahan hutan di sekitar gua, juga gua ini memiliki keunikan tersendiri. Gua yang mempunyai kisah zaman dahulu, kisah Raden Panganten anak durhaka yang disumpah Diang Ingsun ibunya sehinga menjadi batu. Kisah ini dituturkan secara lisan mau pun dikemas dalam sebuah buku yang selalu melekat dalam masyarakat Tanah Banjar sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya,Gua Liang Hidangan ini merupakan objek wisata yang sangat strategis bagi Kabupaten HST khususnya Kota Barabai dan Kalimantan Selatan umumnya,  namun kondisi potensi  wisata ini masih belum diolah dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah Daerahnya baik Pemkabnya mau pun Pemda Prov.Kalsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan sepanjang 3 km menuju ke Gua Liang Hidangan dalam kondisi sangat buruk dan berlumpur jika  hujan.  Di kaki gunung dimana letak gua tersebut ada sebuah bangunan kecil tempat peristirahatan pengunjung sangat memperihatinhan. Ada beberapa bagian bangunan itu sudah lapuk dan coret-moret di bangku dan langit-langit bangunan dan lebih-lebih lagi disekitarnya ditumbuhi hutan kecil yang menutupi serkitar bangunan itu sehingga yang terlihat hanya atapnya saja. Jalan bertangga yakni pendakian menuju Gua Liang Hidangan yang dibangun dari beton nampak rusak berat.  Untuk mencapai gua begitu sulit kalau tidak hati-hati akan membahayakan karena tangga ini licin ditumbuhi semak dan pohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat potensi Gua Liang Hidangan ini, pemerintah dan masyarakatnya dapat mengemasnya dengan bungkus paket wisata yang rapi dan menarik maka akan menguntungkan bagi daerahnnya dan kemakmuran masyarakatnya. Apalagi jika  menjadikan sebuah komplek taman wisata budaya sehingga akan menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional tentu  tak kalah dengan gua-gua yang lain di Indonesia, seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta ada Gua Braholo ( arena susur gua), Goa Cerme (Gua siluman), Gua Selarong (sejarah ) di Langse (Gua Kanjeng Ratu Kidul ) Gua Jatijajar  (alam). Gua Sunyaragi (Budaya) di Cerebon, Gua Selomangleng (batu andesit hitam) di Kediri, Gua Pawon di Badung, Gua Maharani. Jatim,Gua Jepang (sejarah) Di Biak Papua dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik dari keunikan yang terkandung dalam Gua Liang Hidangan, selain menjadi objek pariwisata yang potensial juga menjadi tempat penelitian bagi para ahli. Menurut tutur tetuha masyarakat setempat bahwa di dalam Gua Liang Hidangan itu terdapat batu-batu berupa manusia, hewan ternak, alat-alat rumah tangga dan perabot kapal. Gua Liang Hidangan ini pada zaman dahulu adalah sebuah pecahan perahu yang ditumpangi Raden Panganten dan isterinya (putri china) beserta awak kapalnya yang disumpah oleh Diang Ingsun ibunya menjadi batu. Cerita ini apakah merupakan sebuah sejarah atau legenda atau mitos,  kita serahkan saja kepada para ahli untuk menelitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Kabupaten HST, Barabai, mengagendakan kunjungan wisata bagi peserta Aruh Sastra se Kalsel di antaranya adalah Gua Liang Hidangan. Kunjungan wisata ini bertujuan bahwa Kabupaten HST juga mempunyai kekayaan objek wisata seperti juga yang ada di daerah lain yang tak kalah menariknya. *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Penulis seorang  penyair dan pemerhati seni dan budaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-1020961449695314410?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/1020961449695314410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=1020961449695314410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/1020961449695314410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/1020961449695314410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/gua-liang-hidangan-wisata-yang.html' title='GUA LIANG HIDANGAN WISATA YANG MENAKJUBKAN'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-8592194535216531663</id><published>2011-08-10T04:26:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:28:39.898-07:00</updated><title type='text'>PEMENANG LOMBA ARUH SASTRA 2010</title><content type='html'>Oleh : ysas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah sepekan bekerja keras, Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar dan Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII memutuskan para pemenang. Keputusan diambil dalam rapat akhir di Bengkel Sastra dan Teater Karantika, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Minggu (29/8).&lt;br /&gt;Puisi berjumlah 120 judul (56 peserta), cerita pendek 68 judul (54 peserta), tidak termasuk naskah yang diterima panitia setelah tanggal penutupan. Lomba yang terbuka untuk umum dan berlangsung sejak Juni (ditutup 20 Agustus 2010) ini diikuti peserta dari seluruh kabupaten/kota Kalimantan Selatan, termasuk Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;Dewan Juri puisi (Arsyad Indradi, Ali Syamsuddin Arsy, Zulfaisal Putera) menetapkan Manyanggar Banua (Erika Adriani, Kota Banjarmasin) sebagai Juara I, Diang Hirang (Syarifuddin, Kabupaten Batola) Juara II, Mambuang Tatanjuk, Manggantung Tajak (Aria Patrajaya, Kabupaten Banjar) Juara III; Maratus (East Star From Asia, Kota Banjarbaru) Juara Harapan I, Madam (Rahmatiah, Kabupaten Batola) Juara Harapan II dan Sapanjadi (M. Nahdiansyah Abdi, Kota Banjarbaru) Juara Harapan III.&lt;br /&gt;Selain itu, ada 19 puisi nominasi (nonperingkat, tanpa hadiah), yang akan dibukukan bersama puisi dan cerpen pemenang utama: Karasmin Sungai (Apriadi Darmawan, Kota Banjarmasin), Kariau (Arif Rahman, Kabupaten Tanah Bumbu), Bubur Habang Bubur Putih (Aria Patrajaya, Kabupaten Banjar), Sajak Panjual Kalakai (Arief AlRifany, Kota Banjarmasin), Syair Mangganang Paguruan (A. Rahman Al Hakim., Kota Banjarmasin), Kumarau Landang (Eza Thabry Husano, Kota Banjarbaru), Kamarau Lingkah Dapatnya Banyu (Herlianti, Kabupaten Banjar), Ada Masigit di Hatiku (H. Fahmi Wahid, Kabupaten HST), Wawarah Pikurat (H. Fahmi Wahid, Kabupaten HST), Gasan Mamanya Nabil (H. Muhaimin, Kabupaten HST), Lalakun (Jaya Ginmayu, Kabupaten Tabalong), Handak Waras (Jakaria Kastalani, Kabupaten Batola), Tihang (Nasrullah, Kabupaten Batola), Karindangan Saurangan (Komariah Widyastuti, Kabupaten Batola), Mahayabang (Rahman Rijani, Kabupaten HSS), Kunci Naraka (Randi Arma Prayuda, Kota Banjarmasin), Mandulang Intan (Sudarmi, Kabupaten HSU), Papat Pitutur Panglima Wangkang (Trie Restu Panie, Kabupaten Batola) dan Marasnya Bumiku (Zurriyati Rosyidah, Kota Banjarbaru).&lt;br /&gt;Untuk cerpen, Dewan Juri (Aliman Syahrani, Jamal T. Suryanata, Nailiya Nikmah JKF) memutuskan Tagaian (Erika Adriani, Kota Banjarmasin) sebagai Juara I, Bapintaan (M. Fuad Rahman, Kabupaten HST) Juara II, Kada Tamakan Habar Lagi (Komariah Widyastuti, Kabupaten Batola) Juara III; Manggantang Sayang (Muhammad Rifqi, Kabupaten HST) Juara Harapan I, Kada Bakasudahan (Nur Hidayah, Kabupaten Batola) Juara Harapan II, dan Jujuran (Hatmiati, Kabupaten HSU) Juara Harapan III.&lt;br /&gt;Para pemenang dan nominator diminta mengirim puisi dan cerpen serta biodatanya melalui e-mail ke hajrian@yahoo.co.id. (untuk disusun dalam buku yang akan diterbitkan), selambatnya 7 September 2010; dan diharap hadir untuk menerima hadiah uang tunai dan piagam penghargaan pada ASKS VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, 26 s.d. 28 November 2010. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan langsung pada contact person (0852 4995 4849). [] (ysas)&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://hariesaja.wordpress.com/2010/10/21/pemenang-lomba-aruh-sastra-2010/#more-616&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-8592194535216531663?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/8592194535216531663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=8592194535216531663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8592194535216531663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8592194535216531663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/pemenang-lomba-aruh-sastra-2010_10.html' title='PEMENANG LOMBA ARUH SASTRA 2010'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-2338614950405843822</id><published>2011-08-10T04:25:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:26:37.478-07:00</updated><title type='text'>GAGASAN BESAR ARUH SASTRA YANG BERSERAKAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Ali Syamsuddin Arsi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang berlangsung sejak tahun 2004 di Kandangan, kemudian terus bergulir sampai sekian tahun, merupakan agenda sastra yang patut mendapat perhatian bagi masyarakat sastra dan masyarakat di luar sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra itu sendiri tidak dapat lepas dari peran beberapa nama yang merupakan tokoh-tokoh pencetus/penggagas, keberlangsungan agenda dari tahun ke tahun. Burhanuddin Soebly boleh jadi sebagai pemicu awal keberlangsungan agenda aruh dengan agenda dasarnya pada tahun 2004 itu melaunching buku “La Ventre de Kandangan”, buku yang merupakan mozaik perjalanan panjang kesastraan tokoh dan karyanya warga Kandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak terduga, saudara Abdul Karim “Oka Mihardja” memberanikan diri –atas nama Pemerintah Kab. Tanah Bumbu- menyambut pelaksanaan Aruh tersebut di wilayah Kab. Tanah Bumbu, maka berlangsunglah Aruh Sastra II di kota Pagatan yang masuk agenda penanggalan Mappanre Tasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Eko Suryadi WS membuka peluang agar Kotabaru siap sebagai ‘tuan rumah aruh sastra’ selanjutnya. Sebagaian rekan memberikan respon, memberikan apresiasi kuat bahwa pelaksanaan Aruh Sastra III di Kotabaru sebagai ‘standar’ dari segi kemeriahan dan segala pernik-perniknya. Tokoh kuat yang berada di balik layar pelaksanaan agenda tersebut dengan terlibatnya Y.S. Agus Suseno, Micky Hidayat serta Burhanuddin Soebly sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra merupakan bukti keberpihakan Pemerintah Kabupaten lewat Dinas Pariwisata dan Budaya (HSS, Tanah Bumbu, Kotabaru, HSU, Balangan, Barito Kuala, Tabalong dan HST), selanjutnya pada pelaksanaan aruh yang akan datang belum dapat ditentukan, tetapi tentu saja kita berharap sama dengan yang sudah terjadi. Semoga. Peduli dan keberpihakan itu tetaplah diperlukan. Pun tidak kalah pentingnya peran dari Dewan Kesenian di masing-masing Kabupaten pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pembicara/pemakalah dari Kalsel sendiri ternyata Aruh Sastra Kalimantan Selatan telah pula menghadirkan beberapa sastrawan dari luar Kalsel, mereka adalah D. Zawawi Imron semula datang di Kandangan pada Aruh Sastra I. Kemudian bersama Sutardji Calzoum Bakhri, D. Zawawi Imron bertandang pula di Kotabaru pada Aruh Sastra III. Korie Rayun Rampan pada aruh di Amuntai. Maman S. Mahayana di Balangan, Abdul Hadi WM di Marabahan. Raudal Tanjung Banua di Tanjung. Kemudian Dimas Arika Miharja (Dr. Sudarjono, M.Pd) dari Jambi dan Akhmad Subhanudin Alwi dari Cirebon yang telah menyatakan siap hadir di Barabai (Aruh Sastra VIII tanggal 16 – 19 September 2011 ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini menjadi penting untuk mendokumentasikan hal-hal yang berkenaan dengan Aruh Sastra, untuk membuka pemikiran tentang pernak-pernik Aruh Sastra Kalimantan Selatan ini, seperti dalam bentuk buku. Semoga gagasan pendokumentasian ini mampu memberikan inspirasi kepada pihak lain agar apa siapa bagaimana dan mau dibawa kemana Aruh Sastra itu sebenarnya. Sebaiknya ada yang memulai mengumpulkan kembali kertas kerja dari seluruh pembicara, termasuk di dalamnya keputusan-keputusan hasil musyawarah para sastrawan yang tertuang dalam bentuk rekomendasi di setiap akhir agenda aruh. Rekomendasi itu perlu dievaluasi tingkat capaian pelaksanaannya, seberapa jauh kekuatan serta daya dorongnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sastra dan kebersastraannya para pelaku, peminat dan pemerhati sastra di Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 13 Kabupaten dan Kota, bila telah selesai bergulir di tahap pertama ini, maka adalah penting dirancang secara bersama-sama agar tahap kedua bergulir kembali karena dengan Aruh Sastra ini posisi sastra-kesastraan serta sastrawan Kalimantan Selatan dapat melanjutkan ‘napas kreatif’-nya, walau bukan bersifat mutlak adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ketua Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru, Pengelola TOSI: Taman Olah Sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**) Dimuat HU Radar Banjarmasin, 6 Agustus 2011: 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-2338614950405843822?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/2338614950405843822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=2338614950405843822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2338614950405843822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2338614950405843822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/gagasan-besar-aruh-sastra-yang.html' title='GAGASAN BESAR ARUH SASTRA YANG BERSERAKAN'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-2714816044993210784</id><published>2011-08-10T04:21:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:22:40.391-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Harie Insani Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARANGKALI aruh sastra kembali asyik diperbincangkan, khususnya oleh para pelaku, penikmat dan pemerhati sastra di Kalsel. Lewat tulisan ini, saya nekat untuk menebak-nebak perbincangan apa saja yang sedang terjadi. O, ya. Namanya tebak-tebakan, maka tak menjamin kebenarannya.&lt;br /&gt;Pertama, seputar agenda lomba Aruh Sastra. Saya yakin, lebih dari 500 orang saat ini di Kalsel sedang berdarah-darah menyiapkan naskah untuk diikutkan dalam agenda lomba Aruh Sastra. Entah itu berupa cerpen, puisi, cerita rakyat, atau sibuk latihan untuk lomba  gelar sastra. Nah, pentingkah mengikuti lomba ini? Kita teruskan saja ke pertanyaan berikutnya. Andai tidak ada agenda lomba, apa yang terjadi dengan Aruh Sastra? Pertanyaan di atas tidak perlu buru-buru dicarikan jawabannya. Barangkali saya pun tak perlu menjawabnya pula.&lt;br /&gt;Masih ada pertanyaan lagi yakni, melihat deretan panjang Aruh Sastra pertama hingga kini, maka apa yang sudah tercapai, dicapai dan ingin mencapai apa Aruh Sastra? Apakah sederet pertanyaan di atas juga masuk ke dalam bilik-bilik diskusi anda? Jangan-jangan tak ada yang mendiskusikannya!&lt;br /&gt;Sampai detik ini, tentunya kita terus berharap perkembangan sastra di Kalsel terus menanjak. Untuk menilai berapa persen tanjakan yang telah dicapai memang perlu ekstra waktu untuk mengkajinya. Apakah ada yang merosot, terus menanjak naik, ataukah masih berdiri ditanjakan yang sama?&lt;br /&gt;Dengan dilaksanakannya Aruh Sastra tahun ini, berarti event besar itu masih bertahan. Ini sebuah prestasi. Mundur atau majunya pelaksanaan Aruh Sastra dari tahun ke tahun, masing-masing pesertalah yang bisa menilai. Pastinya, saya berusaha memahami bahwa mustahil jika kemajuan sastra Kalsel justru menjadi tanggung jawab Aruh Sastra semata. Aruh Sastra hanyalah bagian dari akumulasi perkembangan sastra Kalsel itu sendiri. Masih banyak event sastra lain yang seharusnya tetap dipertahankan, atau justru menambah agenda baru.&lt;br /&gt;Jika membandingkan nama-nama penulis karya sastra di koran selama ini dengan peserta lomba Aruh Sastra, lalu mempertanyakan  kemana para peserta lomba itu sekarang karena tidak terlihat namanya di koran, bagi saya adalah kasuistis. Artinya, motivasi setiap orang berbeda. Ada yang bersastra demi lomba, ada yang tanpa lomba tapi mereka tetap bersastra, pun ada pula yang berlomba demi sastra. Gejala ini lazim terjadi dimana-mana. Meski begitu, tak ada salahnya berharap kepada mereka untuk meramaikan penulisan sastra di Kalsel dengan mempublikasikannya di koran. Itu jika mereka mau.&lt;br /&gt;Saya setuju jika lomba adalah bagian motor penggerak iklim bersastra di Kalsel. Siapa pun yang melaksanakannya, saya anggap penting. Sampai di sini, Aruh Sastra sudah berusaha menangkap semangat itu. Hanya saja bagaimana melaksanakannya, itulah barangkali pokok persoalan yang perlu dicermati dengan serius. Alangkah sayangnya jika gawe besar justru hasil yang dicapai sangat kecil. Manajemen Event Organizer (EO) wajib diterapkan. Sekadar contoh, kasus sederhana adalah; aneh apabila panitia pelaksana tidak bisa menunjukkan tempat buang air kecil saat peserta ada yang membutuhkannya. Koordinasi merupakan bagian manajemen EO yang sering kedodoran. Tidak hanya dalam Aruh Sastra, tapi juga event lainnya di luar sastra. Akibatnya adalah, tak harus disebut gagal, tapi hasilnya tak maksimal. Bagi Aruh Sastra sendiri, dampak terburuk adalah, menurunnya kepercayaan orang terhadap kredibilitas Aruh Sastra itu sendiri.&lt;br /&gt;Bagi saya, Aruh Sastra tak ubahnya sebuah nama. Pemilik nama itulah yang akhirnya menentukan ingin dinilai sebagai apa. Baik atau buruk, tergantung pelaksananya.&lt;br /&gt;Jika pelaksananya bertekad mensukseskan Aruh Sastra dengan manajemen terbaik, koordinasi yang terpola, strategi yang jitu, maka perkembangan Aruh Sastra sudah tentu memberikan andil sangat penting untuk perkembangan sastra Kalsel. Itulah barangkali yang ingin dicapai. Setiap orang akan mengingatnya dengan baik bahwa Aruh Sastra itu teramatlah sayang untuk dilewatkan, sangatlah rugi jika tak diikuti. Sampai berjumpa di Aruh Sastra ke-8 di Barabai, HST (16-19 September 2011) mendatang. []&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-2714816044993210784?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/2714816044993210784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=2714816044993210784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2714816044993210784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2714816044993210784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra.html' title='ARUH SASTRA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-7173186846349579404</id><published>2011-08-10T04:18:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T04:20:11.571-07:00</updated><title type='text'>KARYA PUISI TERBAIK  DIDOMINASI BATOLA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marabahan, KP – Sepuluh dari hasil karya puisi terbaik, pada penyelenggaraan ‘Aruh Sastra’ VI Kalsel, yang dilaksanakan di Kabupaten Batola, dari tanggal 25 hingga 27 Desember 2009, tujuh puisi terbaik diraih warga Batola.&lt;br /&gt;Kesepuluh karya puisi terbaik tersebut antara lain diraih oleh Arif Al Rifani, Aspihan, Komariah, Nasrullah, Nining Susanti, Nana Noraida, Syaifudin semuanya dari Batola, sedang tiganya diraih oleh Erika A dari Banjarmasin, Taufik dari HST dan Arif dari Banjarbaru.&lt;br /&gt;Sementara, dalam festival dramatisasi puisi juara I diraih peserta dari Banjarbaru, juara II HSU, juara III Tabalong, sedang juara harapan I, II, dan III pemenangnya peserta dari Batola, Kotabaru dan HST, sedang juara favorit peserta dari Batola.&lt;br /&gt;Untuk pemenang festival dramatisasi puisi ini, untuk juara I mendapatkan tropi dan uang pembinaan Rp2 juta, juara II Rp1,750 juta, juara III Rp1,5 juta, harapan I Rp1,3 juta, harapan II Rp1,150 juta dan harapan III Rp1 juta.&lt;br /&gt;Sedang juara favorit hanya memperoleh tropi, sedang kesepuluh karya puisi terbaik diberikan uang masing-msing Rp500 ribu.&lt;br /&gt;``Saya menyambut baik, atas dilaksanakannya aruh sastra VI Kalsel tahun 2009 ini, karena mempunyai nilai yang sangat penting dalam pengembangan budaya di tanah air, khususnya kebudayaan yang ada di Kalsel, lebih khusus lagi kebudayaan yang ada di Batola,’’ ujar Bupati H Hasanuddin Murad, dalam sambutannya pada penutupan aruh sastra tersebut, yang diwakili Sekda Supriyono, Minggu (27/12), di Marabahan.&lt;br /&gt;``Melalui kegiatan ini, saya harapkan kita semua, khususnya generasi muda di Batola, dapat menggali dan mengenali berbagai budaya kita secara benar, serta dapat melestarikan budaya–budaya tersebut di masa yang akan datang,’’ sambung bupati, yang berharap agar kegiatan aruh sastra VI Kalsel ini, tidak semata-mata sebagai momentum untuk menerima secara pasif budaya yang telah ada, tetapi juga sebagai wadah untuk mempelajari berbagai kebudayaan dan lebih mematangkan kemampuan dalam mengapresiasikan kebudayaan tersebut.&lt;br /&gt;``Hal lain yang harus menjadi perhatian serius para sastrawan dan budayawan di tanah air, khususnya sastrawan dan budayawan yang ada Kabupaten Batola adalah melindungi hak cipta kebudayaan daerah kita,’’ tandasnya.&lt;br /&gt;Dari informasi yang didapat, pelaksanaan serupa pada tahun 2010 mendatang yakni aruh sastra ke VII diselenggarakan di Tabalong dan aruh sastra ke VIII pada tahun 2011 di HST. (yus/K-5)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-7173186846349579404?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/7173186846349579404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=7173186846349579404' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/7173186846349579404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/7173186846349579404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/karya-puisi-terbaik-didominasi-batola.html' title='KARYA PUISI TERBAIK  DIDOMINASI BATOLA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-2543612777158449604</id><published>2011-08-10T01:37:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:39:24.605-07:00</updated><title type='text'>PENJURIAN ALA PERKONCOAN (Tanggapan Tulisan Jamal T. Suryanata)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca tulisan Jamal T. Suryanata (Media Kalimantan, 12 Januari 2011: B5), yang dapat dianggap sebagai tanggapan dewan juri terhadap kontroversi dugaan plagiat salah satu nominasi Lomba Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra 2010, terlihat adanya kebesaran jiwa dan ketegasan terhadap tindakan plagiat yang diungkapkannya dengan, “(benar, ini masalah serius, Saudaraku!)”, serta pernyataan yang berani mengambil tanggung jawab sebagai pihak yang paling berdosa jika kasus plagiat tersebut terbukti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan Jamal T. Suryanata dalam tulisannya secara gamblang dan terbuka mengenai proses penjurian, yang sebenarnya tidak perlu dinyatakan dengan ungkapan “Tak Ada Gading yang Tak Retak” untuk menggambarkan ketidaksempurnaan para juri, karena masalah plagiat tidak berakar dari ketidaksempurnaan dewan juri namun berhubungan dengan kepribadian seseorang dan bagaimana lingkungannya apakah membiarkan atau mencegahnya. Masalah ketidaksempurnaan sudah inheren ada pada setiap manusia, yang sudah menjadi kesadaran umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan (tulisan JTS) ketidaksempurnaan dewan juri dapat dianggap sebagai kebesaran jiwa juri,  namun tidak menghilangkan kasus dugaan plagiatnya dan menganggapnya menjadi selesai. Apalagi dianggap sudah cukup untuk mengakhiri kontroversi berdasarkan pengakuan dewan juri itu (Media Kalimantan, 13 Januari 2011: B5), yang sebenarnya membuat semuanya menjadi mengambang, terutama bagi pengarang yang diduga sebagai plagiator. Kontroversi itu akan terus muncul jika tidak diselesaikan secara tegas, dan jika dianggap selesai dengan pengakuan dewan juri itu malah lebih mengarahkan situasi yang sifatnya tidak produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya menarik apa yang dikemukakan JTS dalam tulisannya berkenaan dengan proses penjurian, yang dianggapnya sebagai 2 kali ketol... (maaf katanya tak utuh), yaitu bagaimana kecenderungan juri pada cerpen peserta lomba yang lebih melihat siapa pangarangnya meskipun nama pengarangnya sudah dihapus dalam naskah cerpen-cerpen peserta lomba. Kecenderungan juri pada orang yang dikenalnya, seperti pada kasus dugaan plagiat ini, yang terpaku pada Seroja Murni dengan harapan cerpen itu saduran oleh yang bersangkutan lalu kemudian nama pengarangnya adalah nama samaran, menunjukkan tidak profesionalnya juri dan adanya pemihakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan juri yang diungkapkan tersebut dapat merendahkan semua nominasi peserta Lomba Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra 2010, karena bisa saja hal tersebut juga berlaku pada semua nominasi yang juga berdasarkan kecenderungan kepada seseorang tersebut. Hal ini sangat membuat Aruh Sastra yang sudah 7 kali penyelenggaraannya, setingkat propinsi, seperti lomba perkoncoan saja, yang benar-benar merendahkan hajatan aruh. Apalagi, TJS sepertinya masih ada sebersit keyakinan bahwa pengarang Kada Bakasudahan tersebut adalah Seroja Murni sendiri, yang dapat dilihat dari “(jika ia memang bukan Seroja Murni)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, JTS dalam tulisannya secara tidak langsung sebenarnya sudah menyatakan cerpen Kada Bakasudahan merupakan hasil plagiat dari cerpen Karindangan, namun masih tidak terlihat adanya keputusan dewan juri dalam menyelesaikan kasus dugaan plagiat tersebut, mungkin tulisan tersebut merupakan pendapat pribadi. Padahal, dewan juri dapat membuat keputusan tegas terhadap nominasi yang dinyatakan sebagai hasil plagiat, misalnya dengan membatalkannya. Meskipun JTS juga menghimbau dan berharap kepada  pengarang cerpen Kada Bakasudahan untuk membuat pengakuan tertulis dan meminta maaf jika memang merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri sudah seharusnya proaktif untuk menyelesaikan kasus dugaan plagiat tersebut agar tidak terus menjadi kontroversi. Walaupun pada sisi lain, kontroversi itu merupakan pembelajaran yang sangat berharga dan peringatan terhadap siapa saja untuk tidak melakukan plagiat, bukan sesuatu yang sifatnya tidak produktif. Pendekatan kepada pengarang Kada Bakasudahan perlu dilakukan dewan juri, mungkin pengakuan tertulisnya cukup ditujukkan kepada dewan juri saja, dan selanjutnya dewan juri yang membuat keputusan apakah benar atau tidak cerpen Kada Bakasudahan sebagai hasil plagiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan dewan juri pada perkoncoan dalam suatu lomba harus disingkirkan dan jangan sampai terulang lagi pada Aruh Sastra 2011 di Barabai atau lomba-lomba event lainnya. Karena, kecenderungan itu sebenarnya sangat merugikan para nominasi yang memang layak menjadi tidak terhormat yang dihasilkan dari penjurian ala perkoncoan. Hal ini (kontroversi) merupakan pelajaran yang sangat berharga dan memberikan ruang pada peningkatan pemihakan pada norma dan etika dalam berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Media Kalimantan, 15 Januari 2011: B5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-2543612777158449604?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/2543612777158449604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=2543612777158449604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2543612777158449604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2543612777158449604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/penjurian-ala-perkoncoan-tanggapan.html' title='PENJURIAN ALA PERKONCOAN (Tanggapan Tulisan Jamal T. Suryanata)'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-2861125190017922228</id><published>2011-08-10T01:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:37:39.498-07:00</updated><title type='text'>BUKAN PLAGIAT ?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerpen&lt;br /&gt;KADA BAKASUDAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Nur Hidayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aku tahu ai amun baampik sabalah tangan tu lacit ka kiamat kada bakal babunyi.&lt;br /&gt;2. Aku tahu ai amun urang nang kuganang siang malam nangitu kada tahu manahu.&lt;br /&gt;3. Aku maka am ciling-ciling maitung cacak, gulang-gulik bakawan gaguling, ngalih       banar mancari guring.&lt;br /&gt;4. Ganap talu sanja sudah kada ampih jua.&lt;br /&gt;5. Aku bingung kada sakira, dusa nangapa nang maulah aku pina mambungul kaya ini?&lt;br /&gt;6. Badiri barangkat rasa mangulir, makan guring kada karuan pangrasa, dibawa balingkar di kaguringan makin mandalami mata luka haja. Dasar liwar sakitnya hati, kada nyanyamanan.&lt;br /&gt;7. Amunnya kada hilap, ari itu ari Jumahat.&lt;br /&gt;8. Napa yu, bubuhannya pina rami handak ka masigitan.&lt;br /&gt;9. Ada jua nang pina ungut-ungutan di buncu warung.&lt;br /&gt;10. Pina habang mata, pina layu, kada basumangat.&lt;br /&gt;11. Luput pulang, kalu.&lt;br /&gt;12. “Ka?” ujarku bagamat mangiyau inya.&lt;br /&gt;13. “Napa, Ding?” ujarnya pulang manyahuti, pina kada tatahu ja muhanya.&lt;br /&gt;14. “Kada ai, Ka ai.&lt;br /&gt;15. Pina lawas kada talihati…”&lt;br /&gt;16. Sambil lihum bapair aku manyahuti rasa saraba salah.&lt;br /&gt;17. Takurinyum ha inya, apakah saku nang dipikirakannya.&lt;br /&gt;18. Aku babanaran kagum.&lt;br /&gt;19. Supan saurangan.&lt;br /&gt;20. Inya nitu kalaliwaran bingkingnya.&lt;br /&gt;21. Kada muha haja pang nang bungas, tapi langkar luar dalam.&lt;br /&gt;22. Lacit ka parut lilit.&lt;br /&gt;23. Inya kada sarik mandangar aku manager tadi.&lt;br /&gt;24. Asa tatilambung aku kahimungan.&lt;br /&gt;25. Dalas tatinggal ngaran, di mana pacah di situ tambikarnya, ujarku dalam hati ka wadah inya.&lt;br /&gt;26. Ditulak inya mantah-mantahkah, aku kada hiran lagi.&lt;br /&gt;27. Kaya apa haja kajadiannya, tatap aku sandang.&lt;br /&gt;28. Nyaman tahu kasudahannya.&lt;br /&gt;29. Aku sanghaja mamilih ari Ahad bailing ka rumah inya, nyaman pas urangnya takumpul.&lt;br /&gt;30. Pas jua ai, jijingian urang batatawaan di palataran.&lt;br /&gt;31. Inya ngitu balima badingsanak.&lt;br /&gt;32. Nang panuhanya sudah babini.&lt;br /&gt;33. Inya ngini anak nang numur dua.&lt;br /&gt;34. Kuitihi adingnya nang bibinian, pina asik badaku lawan nang kaka di palataran.&lt;br /&gt;35. Inya kulihat balogo lawan nang adding numur tiga.&lt;br /&gt;36. Dalam hatiku, wayah ini ada haja nang masih main logo lawan badaku.&lt;br /&gt;37. Babanaran kagum aku lawan kaluarganya ngini, pina ruhui rahayu banar.&lt;br /&gt;38. Inya ngitu jua bisa mambawai paadingan bamainan, padahal umur kaya inya ngini kada cucuk lagi lawan pamainan balogo.&lt;br /&gt;39. Rahatan mandam di muka rumah, takajut aku mandangar ada nang mangiau.&lt;br /&gt;40. “Naik!&lt;br /&gt;41. Aida, maapa di situ?” ujar inya sambil mangawai.&lt;br /&gt;42. “Inggih,” ujarku pulang, sambil lihum.&lt;br /&gt;43. Lawas aku tadiam, umpat baduduk di palataran inya, sambil maitihi kuitan bini maulah wadai.&lt;br /&gt;44. “Ngaran wadai nangini babalungan hayam, tagal kada pas banar kaya babalungan hayam nang sabujurannya.&lt;br /&gt;45. Bila handak maulah wadai babalungan hayam, maka nang disadiakan galapung lakatan satangah biji nyiur.&lt;br /&gt;46. Banyu kapur tiga sinduk, uyah sadikit, hinti gula habang,” ujar sidin lancer bapandir manarangakan, padahal aku kada batakun.&lt;br /&gt;47. Tagal sidin tahu kalu aku pina bingung maliat apa nang digawi sidin.&lt;br /&gt;48. “Hanyar am ulun tahu ada wadai babalungan hayam.&lt;br /&gt;49. Ngalih ai, kakanakan wayah ini tahunya pizza haja, atawa hot dog.”&lt;br /&gt;50. “Bujur jar ikam, Diang ai.”&lt;br /&gt;51. Sidin mangiu aku Diang.&lt;br /&gt;52. Diang ngitu sambatan gasan bibinian bujang di wadahku.&lt;br /&gt;53. Aku ngini badiam di Marabahan.&lt;br /&gt;54. Lamun di Banjar, Diang tu sama lawan Galuh.&lt;br /&gt;55. “Ngarannya Aida, Ma ai,” ujar Ka Dani mamadahi.&lt;br /&gt;56. Panjangnya Hamdani.&lt;br /&gt;57. Sambil malirik ha inya lawan diaku.&lt;br /&gt;58. “Aida, tulung pang ambilakan wadah gasan maudak adunan ngini di dapur,” ujar sidin.&lt;br /&gt;59. “Inggih…”&lt;br /&gt;60. Aku masih bingung, sadadikit kada marasa kulir, nang kaya hadangan ditarik hidung tu pang.&lt;br /&gt;61. Padahal amun disuruh kuitan di rumah, kalaliwaran kulirnya aku.&lt;br /&gt;62. Tagal am ngini nang manyuruh calun mintuha, jarku dalam hati, sambil jihi-jihi saurangan.&lt;br /&gt;63. Aku bakalimpusut ka dapur.&lt;br /&gt;64. Umai, umai, kababagusan dapur urang.&lt;br /&gt;65. Kada tapipirit lawan rumah saurang.&lt;br /&gt;66. Kada jua pang amun harat banar, tapi rasa sanang tu pang bagawian.&lt;br /&gt;67. Pakakasnya kada saraba larang, kada saraba ulin, papan biasa haja, tapi bagus, taatur, barasih pulang.&lt;br /&gt;68. Kaya paribasa jangan baya balingsar, dijilat gin kawa.&lt;br /&gt;69. Cucuk banar lawan nang maharagu, putih barasih lacit ka hati.&lt;br /&gt;70. Mahancap aku maambil nang disuruh sidin.&lt;br /&gt;71. Kalu kalawasan mahadang.&lt;br /&gt;72. Limbah sampai ka palataran, langsung kuunjuk.&lt;br /&gt;73. Tapi sidin kada manyambut.&lt;br /&gt;74. “Ikam haja nang manggawi,” ujar sidin.&lt;br /&gt;75. “Ulun kada bisa,” ujarku, kulir badusta.&lt;br /&gt;76. Mun dasar kada bisa.&lt;br /&gt;77. “Buati galapung lakatan nitu dalam wadah nang ikam ambil tadi, tuangi lawan santan.&lt;br /&gt;78. Tambah banyu parasan daun pudak, banyu kapur lawan uyah, sadikit.&lt;br /&gt;79. Diudak sampai rata, sampai jadi adunan nang sadang likatnya, supaya kawa ditampa.&lt;br /&gt;80. Banyu kapur nitu gunanya supaya ada rasa sintal.”&lt;br /&gt;81. “Inggih,” ujarku manghancap manggawi.&lt;br /&gt;82. “Umai, umai, adingku ngini bisa jua sakalinya maulah wadai, “ ujar Ka Dani sambil baduduk di palatar.&lt;br /&gt;83. “Kada, Ka ai.&lt;br /&gt;84. Mama pian nang malajari.&lt;br /&gt;85. Pian gin harat banar sakalinya, Ka lah, balogo.”&lt;br /&gt;86. “Aku ni, Aida ai, sahibar mananamakan rasa bangga lawan banua saurang, nang kaya lawan parmainan tradisiunal.&lt;br /&gt;87. Supaya adding-adingku ni kaina bisa malastariakannya.&lt;br /&gt;88. Sakira jangan sampai punah.”&lt;br /&gt;89. “Ngalih nang ngaran mantan Nanang Banjar nilah,” jarku pulang, nang disambut lawan karinyum Ka Dani nang maulahku rasa rabah rumpiuh iman.&lt;br /&gt;90. “Ikamkah jua, Aida, handak kulajari balogo?”&lt;br /&gt;91. “Ayu nah, Ka, nyaman humpimpah dulu kita…”&lt;br /&gt;92. Sambil tatawaan kami sabarataan.&lt;br /&gt;93. “Sudahlah, Aida?” ujar mama Ka Dani.&lt;br /&gt;94. “Inggih, sudah.”&lt;br /&gt;95. “Adunan nitu diambil sasanggam, lalu diulah nangkaya babalungan hayam.&lt;br /&gt;96. Tagal di dalamnya diisi dahulu lawan hinti.”&lt;br /&gt;97. “Maulah hinti nitu bahannya nyiur baparut nang anum, bacampur lawan gula habang nang basasap.&lt;br /&gt;98. Ada jua nang ditambahi lawan gula putih, tambahi sadikit uyah, gasan manimbulakan rasa.&lt;br /&gt;99. Samunyaan ngitu buat  ka rinjing nang batanggar di api, tambahi sadikit banyu.&lt;br /&gt;100. Diudak rata sampai karing.”&lt;br /&gt;101. Aku takajut.&lt;br /&gt;102. Nang manyahuti lain uamnya Ka Dani, tapi bibinian nang kira-kira 2 tahun di atas aku.&lt;br /&gt;103. Bingking.&lt;br /&gt;104. Putih.&lt;br /&gt;105. Rambutnya panjang maikal mayang.&lt;br /&gt;106. Alis mangumpang parang.&lt;br /&gt;107. Batahi lalat.&lt;br /&gt;108. Matanya carat-cirat.&lt;br /&gt;109. Managuk banyu liur aku malihat.&lt;br /&gt;110. “Naik, Nak,” ujar Umanya Ka Dani.&lt;br /&gt;111. Mandibar sumangatku.&lt;br /&gt;112. Nak ?&lt;br /&gt;113. Rasa bagaritik ai hatiku.&lt;br /&gt;114. “Aida, ngini ngarannya Rahma.&lt;br /&gt;115. Pacarnya Dani.”&lt;br /&gt;116. Taritisan banyu mataku kada sadar.&lt;br /&gt;117. “Aida, ikam kanapa?” ujar Ka Dani.&lt;br /&gt;118. “Kada, Ka ai.&lt;br /&gt;119. Ulun kalimpanan…&lt;br /&gt;120. Ni diapai lagi ?&lt;br /&gt;121. Ulun kada tahu.”&lt;br /&gt;122. “Disumap sampai masak,” ujar Rahma manyahuti.&lt;br /&gt;123. “Ma, ulun mambawaakan pian lawan Abah gangan manis nang isinya kacang panjang, karawila, waluh habang, lawan bayam.&lt;br /&gt;124. Iwaknya papuyu baubar.&lt;br /&gt;125. Miar tupang sasingut Abah,” ujar Rahma&lt;br /&gt;126. Rami buhannya tatawaan.&lt;br /&gt;127. Aku kada sanggup lagi, bapikir handak bulik.&lt;br /&gt;128. Imbah basalaman, aku lalu bagamat handak bulik.&lt;br /&gt;129. Kada jadi manulusakan niat awalku bailang ka rumah Ka Dani.&lt;br /&gt;130. “Hau, kanapa maka bulik?&lt;br /&gt;131. Wadai kita balum masak,” umanya Ka Dani manager.&lt;br /&gt;132. “Anu, ari pina muru.&lt;br /&gt;133. Ulun handak mamutiki tatapasan di rumah.&lt;br /&gt;134. Kalu kahujanan.”&lt;br /&gt;135. Padahal ari liwar bagusnya.&lt;br /&gt;136. Kadada lalu muru, apalagi handak hujan.&lt;br /&gt;137. Rupanya paham kalu Ka Dani.&lt;br /&gt;138. Mahancap inya manyasah aku.&lt;br /&gt;139. “Sudah lawaslah lading ikam tu simpak?” ujarnya batakun babaya kadangaran.&lt;br /&gt;140. Sambil bagariwih tangannya mamusuti kapala lawan bahuku.&lt;br /&gt;141. Kuitihi tanganku.&lt;br /&gt;142. Aku ada mambawa lading.&lt;br /&gt;143. Mambawa plastik banar ai, nang isinya kain sasirangan, gasan umanya Ka Dani.&lt;br /&gt;144. Marigap hatiku, lalu mangarti ai aku, kamana sabujurnya ampah tatakunan inya nangitu.&lt;br /&gt;145. “Hanyar am…”&lt;br /&gt;146. Aku sahuti sambil manggitir.&lt;br /&gt;147. Awakku panas dingin saikungan.&lt;br /&gt;148. Kada wani maitihi muhanya.&lt;br /&gt;149. Imbah maunjuk sasirangan nang bamotif ‘Dara Manginang’, nang warnanya habang tarang, bagamat ai aku bulik.&lt;br /&gt;150. Sambil ingui-ingui manangis.&lt;br /&gt;151. “Banyak nang handak ulun pandirakan.&lt;br /&gt;152. Tapi asa kasat rakungan. Rasa dijarat, dada asa sasak, rasa ngalih manyintak hinak .,” ujarku manutup pander.&lt;br /&gt;153. Inya tamandam mancangangi aku.&lt;br /&gt;154. Matanya nang galak nitu pina muru, pina puang, manarawang.&lt;br /&gt;155. Limbah batunduk satumat, inya takurihing bapair sambil bajauh ampah ka palatar.&lt;br /&gt;156. “Ka, asal pian tahu haja.&lt;br /&gt;157. Cinta ulun ni kadada habis-habisnya gasan pian.&lt;br /&gt;158. Kada bakasudahan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;159. Jaruju padang jumampai&lt;br /&gt;160. Paikat laki dadaian kain&lt;br /&gt;161. Amun judu baluman sampai&lt;br /&gt;162. Hakikat hati kada ka lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara Harapan II Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII 2010 di Kota Tanjung, Kab. Tabalong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data penulis&lt;br /&gt;Nur Hidayah,lahir di Banjarmasin, 11 Agustus 1991. 10 besar Finalis Galuh Banjar (2009), mahasiswi Jurusan Ilmu Komputer di Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Sering menjuarai lomba tulis puisi, cerpen, lomba bakisah bahasa Banjar, lomba model dan pemilihan Diang Barito di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala. Puisinya dipublikasikan di Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Bergabung dengan Sanggar Seni Rindang Bahalap di Marabahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita perbandingkan dengan tulisan di bawah ini, lalu bertanyalah kita, bukan plagiatkah itu ?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Cerpen&lt;br /&gt;KARINDANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Seroja Murni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aku tahuai amun baampik sabalah tangan tu lacit kiamat kada bakal babunyi.&lt;br /&gt;2. Aku tahuai amun urang nang kuganang siang malam nangitu kada tahu-manahu.&lt;br /&gt;3. Mandingkur karuh urang dihiga nang bini.&lt;br /&gt;4. Aku makaam ciling-ciling maitung kasau, gulang gulik bakawan guguling, ngalih banar mancari guring.&lt;br /&gt;5. Samakin rapat aku bapajam, samakin nampak sidin manggaliwayang.&lt;br /&gt;6. Mandi di burit jamban sudah jua.&lt;br /&gt;7. Dalas manggalatak dagu kadinginan tatap kuariti, asal kawa mancukupakan tujuh subuh.&lt;br /&gt;8. Tapi nangapa hasilnya ?&lt;br /&gt;9. Jangan mau hilang, babangat saapa.&lt;br /&gt;10. Dipadahakan urang mandi banyu yasin, kugawi jua, ganap talu sanja kada ampih jua.&lt;br /&gt;11. Aku bingung kada sakira, dusa nangapa nang maulah aku pina mambungul kaya ini?&lt;br /&gt;12. Masih waraskah aku ini atawa sudah gilakah?&lt;br /&gt;13. Badiri barangkat rasa mangulir, makan guring kada kakaruan pangrasa, dibawa balingkar di kaguringan makin mandalami mata luka haja.&lt;br /&gt;14. Dasar liwar sakitnya hati, kada nyanyamanan karindangan saurangan.&lt;br /&gt;15. Amun kaya ini naga-naganya, jangankan jalanan hidup jalan mati kujalani.&lt;br /&gt;16. Dalas tatinggal ngaran, dimana pacah disitu tambikarnya.&lt;br /&gt;17. Aku musti bailing ka wadah sidin.&lt;br /&gt;18. Ditulak sidin mantah-mantahkah, barungkup baubar lawan bini sidinkah, aku kada hiran lagi.&lt;br /&gt;19. Kaya apa haja kajadiannya tatap kusandang.&lt;br /&gt;20. Nyaman tahu kasudahannya.&lt;br /&gt;21. Lamun dipikirakan lawan pikiran nang waras musti kada tagawi.&lt;br /&gt;22. Urang gila nang mana hakun mailangi bakal madu?&lt;br /&gt;23. Cakadada habar dipahabar urang waras hakun nang kaya itu.&lt;br /&gt;24. Paling kada, urang bpikir dua kali dahulu.&lt;br /&gt;25. Amunnya kada hilap, ari itu ari Kamis.&lt;br /&gt;26. Napa yu, bubuhannya nang baangan-angan handak sugih mangajut nangitu ungut-ungutan di buncu warung.&lt;br /&gt;27. Ada nang batundukan bapicik kapala, ada nang manarawang langit basangga wihang, ada jua nang tasandar maisap ruku, paguni pina habang mata, pina layu kada basumangat, luput pulang kalu.&lt;br /&gt;28. Bangsa pukul sapuluh kakanakan sudah sudah habis bulikan, kami basingsat jua handak bulik.&lt;br /&gt;29. Aku kada singgah di rumah, balarut manurutakan hati, tarus hanya (haja ?) ka rumah sidin.&lt;br /&gt;30. Sidin balum bulik di sakulahan.&lt;br /&gt;31. Bini sidin manyuruh aku masuk sambil takarinyum.&lt;br /&gt;32. Dasar cucuk pata lawan habar, sasuai lawan ngaran Nurjanah, cahaya surga, langkar lawan bibingkingnya.&lt;br /&gt;33. Pangawak kaya bintang pilim, awak sintal mancirunung kaya hintalu bajarang hanyar dikuyak.&lt;br /&gt;34. Pantas lamun guru Ahmad kada kapingin lagi lawan nang lain.&lt;br /&gt;35. Nang ngaran pambawaan hati rusak, kalu pang tahu disupan, dalas tabujur-tahalang, aku kada ingat lagi di burit kapala.&lt;br /&gt;36. Sambil basimbah lawan banyu mata, sakakalinya kukuyakakan samuaan nang ada di dalam parutku.&lt;br /&gt;37. Aku babanaran kagum, supan saurangan.&lt;br /&gt;38. Bini urang itu kada muha haja nang bungas, tapi langkar luar dalam, lacit ka parut lilit.&lt;br /&gt;39. Sidin kada sarik mandangar aku batarus tarang, pina maras saapa.&lt;br /&gt;40. Sambil lihum dikulum inda kikiliran banyu mata sidin, lalu baucap, “Aku basukur lawan Tuhan, amun ikam babanaran hakun maringanakan gawianku,” ujar sidin sambil mamaluk mamusuti awakku, matan di kapala lacit ka balukuk.&lt;br /&gt;41. Kada sasalisih lawan mama wayah mambisai aku manages bahari.&lt;br /&gt;42. “Asal abahnya kakanakan hakun maambil ikam bini, aku kada manangat sadikit-sadikit.&lt;br /&gt;43. Aku ihlas babagi rasa lawan diikam.&lt;br /&gt;44. Sabab, nangngaran judu, rajaki, bahagi diri kalawan maut, itu kada kita nang maatur.&lt;br /&gt;45. Kita kada kawa baindah malawan takdir Tuhan,” ujar sidin sambil bagamat badiri, lalu bakinjut ampah ka dapur.&lt;br /&gt;46. Kada lawas sidin babulik pulang, mambawa dua galas banyu tih kalawan babarapa buting pais panas dalam piring.&lt;br /&gt;47. “Ayu ding, rasaiakan pais ulahanku, kaina amun dingin kada nyaman lagi,” ujar sidin lamah-limambut sambil maarahakan piring pais ka hadapanku.&lt;br /&gt;48. Dasar ulahan urang bingking ka hati-hati, paisnya lamak manis, sintal pulang.&lt;br /&gt;49. Kada kaya paribasa, amun marasa maka tahu.&lt;br /&gt;50. Sadidikit aku kada marasa supan, habis talu buting aku mauntal pais nangitu.&lt;br /&gt;51. Padahal jaka pais tukaran di warung sabuting gin balum tantu kawa aku mahabisakan.&lt;br /&gt;52. “Satumat lagi kaka ikam awan kakanakan bulikan di sakulahan, amun ikam babujuran handak maringanakan gawianku, kita yu dangani aku bamasak!”&lt;br /&gt;53. Sidin mambawai aku ka surambi.&lt;br /&gt;54. Aku makin bingung, sadidikit kada marasa kulir, nang kaya hadangan ditarik di hidung tupang, aku bakalimpusut mairingi sidin.&lt;br /&gt;55. Umai-umai kababagusan dapur urang, kada tapipirit awan di rumah saurang.&lt;br /&gt;56. Kada juapang amun harat banar, tapi rasa sanang bagawian.&lt;br /&gt;57. Pakakasnya kada saraba larang, kada saraba ulin, papan biasa haja, tapi bagus baatur, barasih pulang.&lt;br /&gt;58. Kada kaya paribasa, jangan baya balingsar, dijilat gin kawa.&lt;br /&gt;59. Cucuk banar lawan nang maharagu, putih barasih lacit ka hati.&lt;br /&gt;60. Nang kaya urang patuh lawas tupang, kada cacanggungannya kami bagawian.&lt;br /&gt;61. Sidin mahidupi api, mananggar panic, lalu mambasuh baras.&lt;br /&gt;62. Aku maririp kacang panjang, karawila waluh habang, lawan bayam.&lt;br /&gt;63.  “Digangan napa yu ding nang nyaman?”&lt;br /&gt;64. “Tasarah pian haja ka ai, ulun manuruti haja.”&lt;br /&gt;65. “Digangan maniskah, balamakkah&amp;gt;”&lt;br /&gt;66. “Nyamanai kaduanya.”&lt;br /&gt;67. Sidin tamandam mancangangi aku, mata sidin nang galak itu pina muru, pina puang manarawang, mangalum kalu sidin?&lt;br /&gt;68. Batinku bagaritik.&lt;br /&gt;69. Limbah batunduk satumat, sidin takurihing bapair sambil bakinjut mamaraki aku, lalu duduk dihigaku.&lt;br /&gt;70. Bagariwih tangan sidin mamusti kapala lawan bahuku.&lt;br /&gt;71. Rasa apakah kalu pangrasa sidin?&lt;br /&gt;72. Rasa maras banar kalu sidin malihat aku?&lt;br /&gt;73. “Sudah lawaslah lading ikam itu simpak?” ujar sidin batakun babaya kadangaran.&lt;br /&gt;74. Kuitihi lading di tanganku, sing bagusan kadada simpak sadikit-dikit.&lt;br /&gt;75. Marigap hatiku, lalu mangartiai aku, kamana sabujurnya ampah tatakunan sidin nangitu.&lt;br /&gt;76. “Kada, tadapat gin hanyar, pihan ka Jakarta samalam haja.”&lt;br /&gt;77. “Banyaklah urangnya nang umpat panataran itu.”&lt;br /&gt;78. “Parak ratusan ka ai.”&lt;br /&gt;79.  “Banyaklah nang anum-anum kaya ikam ini?”&lt;br /&gt;80. “Banyak banar, labih saparu ka ai.”&lt;br /&gt;81. “Nang matan banua kita ini pang barapa ikung?”&lt;br /&gt;82. “Kabalujuran ka ai, kami haja baduduaan.”&lt;br /&gt;83.  “Ramiailah makan-guring di kuta ganal?”&lt;br /&gt;84. “Rami-rami sakit ka ai, napa yu, balajar baisukan kamarian lacit ka malam.&lt;br /&gt;85. Rasa lantur pinggang.&lt;br /&gt;86. Amun kada pukul sawalas malam hanyar lapang bahinak, kawa jua mambujurakan batis.”&lt;br /&gt;87. “Damintukah?&lt;br /&gt;88. Dalam hatiku urang basuka barami haja di situ.”&lt;br /&gt;89. “Iya hajaah ka ai, napa lagi amun kaka laki, patahu sidin kada baguguringan.&lt;br /&gt;90.  Napa yu, sidin tapilih manjadi urang nang pahaharatnya.&lt;br /&gt;91. Parasa ulun, ulun ni sadang jua bahimat balajar, kada kawa jua manandingi sidin nang sudah tuhanangitu.&lt;br /&gt;92. Tapipiritnya haja cakada.”&lt;br /&gt;93. “Buh…, kada juaah kalu ding?”&lt;br /&gt;94. Sidin takarinyum kahimungan.&lt;br /&gt;95. “Bujur tu ka ai.”&lt;br /&gt;96. “Ayu ja dingai, amun dasar judu Tuhan patut haja tu alurnya, tapi amun kahandak iblis haja hilang saurangan haja kaina.”&lt;br /&gt;97. Sidin badiri mamaraki panci nang gagalagak manggurak.&lt;br /&gt;98. “Parasaku, tangah hari nyaman digangan manis haja.”&lt;br /&gt;99.  “Inggih, iya ai, napa lagi amun iwaknya papuyu baubar, miar tupang sisingut.”&lt;br /&gt;100. Aku mangalangkang saurangan.&lt;br /&gt;101. “Bujur dingai, acannya padas-padas, buj tapaluh, kada kalihatan tupang mintuha lalu.”&lt;br /&gt;102. Sidin umpat jua tatawa, rasa kahimungan dimapakah kalu.&lt;br /&gt;103. Rami banar kami batatawaan, rasa bagaya awan kakaku di rumah tupang.&lt;br /&gt;104. Kaya patuh lawas, sampai aku kada ingat lagi, amun bibinian di hadapanku ini bini urang nang maulah aku tagila-gila.&lt;br /&gt;105. Kada lawas limbah kami bakakaut basasadi, kadangaran bunyi urang mangatuk lawang di luar.&lt;br /&gt;106. Kami sawat bamamandaman satumat mandangarakan, lalu sidin maungut sambil lihum dikulum.&lt;br /&gt;107. “Bukai ding, itu kaka ikam sudah datangan!”&lt;br /&gt;108. Sidin manyuruh (aku?) nang mambukaakan lawang.&lt;br /&gt;109. Rasa ringan aku balimbai, badadas bakinjut, kupang-kapik kada ingat di burit kapala lagi.&lt;br /&gt;110. Mandapat kanugarahaan ganal yang kaya ini.&lt;br /&gt;111. Pas banar lawan urang mancari undayang tadapat suluh.&lt;br /&gt;112. Hanyar sadikit lawang itu kubuka, mandirau nang di luar mambari salam.&lt;br /&gt;113. Mandibar darahku, takibar sumangatku, muntung rasa barat diungapakan, tapi kupaksa jua, biar bagugu tatap haja kusahuti.&lt;br /&gt;114. Sabab, ujar urang badusa amun kada manyahut.&lt;br /&gt;115. “Pabila ibu kasini?”&lt;br /&gt;116. Guru Ahmad batakun sambil manyurung tangan.&lt;br /&gt;117. “Hanyaram.”&lt;br /&gt;118. Aku manyahut sambil manggitir, awakku panas dingin saikungan manyambut tangan sidin basalaman.&lt;br /&gt;119. Anak sidin dua ikungannya, nang kaka bibinian, adingnya lalakian.&lt;br /&gt;120. Kaduduanya bingking lawan lalangkarnya, bungas nang kaya kuitannya jua.&lt;br /&gt;121. Rasa marigap dadaku, limbah nang badua naitu sujud mancium tanganku.&lt;br /&gt;122. Aku rasa himung banar jaka adingku di rumah mau jua nang kaya ini.&lt;br /&gt;123. Rupanya urang di rumah ini sudah tapatuh, limbah basilih baju kada tarus balajur makanan, tapi mambasuh siku dahulu.&lt;br /&gt;124. Pina rakat banar, taatur bagantian.&lt;br /&gt;125. Rasa iri hati malihat urang pina akur banar saparanakan.&lt;br /&gt;126. “Ikam kada bahalangan kalu ding?”&lt;br /&gt;127. Nang bini batakun malihat aku batajukan.&lt;br /&gt;128. “Inggih, kada.”&lt;br /&gt;129. Aku manyahut rasa saraba salah, tapi rasa kada purun pulang mangaramputi sidin.&lt;br /&gt;130.  “Tampulu takumpul kita baimbai haja sabarataan, malah tabanyak pahalanya, iya kalu bah?”&lt;br /&gt;131. Nang bini mangijipi lalakiannya sambil lihum bapair.&lt;br /&gt;132. “Iya hajaah, ujar nabi kita sambahyang bajamaah tu dua puluh tujuh kali lipat pahalanya.”&lt;br /&gt;133. Nang laki manahapiakan.&lt;br /&gt;134. “Ambilakan Ti, mukana mama nang hanyar di lamari sagan acil ikam!”&lt;br /&gt;135. Ujar kaka bini manyuruh nang anak nang pangganalnya.&lt;br /&gt;136. Dasar anak urang nang paasian lawan kuitan, kada banyak bunyi kada, babaya libas baamin limbah baudu, mangunyur ka kamar.&lt;br /&gt;137. Aku gin kada kawa bakutik jua, rasa ringan manggawi nang sidin padahakan naitu.&lt;br /&gt;138. Kada mahadang salang disuruh lagi aku bagamat manumpangi piring bakas makanan, limbah malihat sidin badiri laki-binian.&lt;br /&gt;139. “Kada usah gin dingai, Yanti bisa haja manyimpunakannya.”&lt;br /&gt;140. Kaka bini mangijipi aku, inda muyung muntung sidin mambari utau, mambawai aku kaluar.&lt;br /&gt;141. Aku babanaran jadi urang nang paling paasian hari ini.&lt;br /&gt;142. Aku manurut tarus nangapa haja nang sidin kahandaki.&lt;br /&gt;143. Kami dudukan di kursi di pamindangan, kaka laki mangitik maisap bintul.&lt;br /&gt;144. Pinda nyaman banar kada sakira, mangapul kukus tmatan muntung wan hidung sidin.&lt;br /&gt;145. Kaka bini batumat bagurimih mangisahakan maksud kadatanganku, pajam buncilak sidin bacalatun, matan di alip lacit ka nang paampihan, sabatik-batik kadada nang kalumpanan.&lt;br /&gt;146. “Ikam pang kaya apa?”&lt;br /&gt;147. Kaka laki batakun lawan bini sidin.&lt;br /&gt;148. “Siapa nang hingkat mangikis judu Tuhan?&lt;br /&gt;149. Amun itu sudah kahandak nang di atas, ulun ihlas ka ai.&lt;br /&gt;150. Napa lagi adding ini anum banar lawini, kasian amun balalawasan basakit hati.&lt;br /&gt;151. Ulun marasa badusa ganal, amun inya sampai kada kakaruan naajar di sakulahan.&lt;br /&gt;152. “Amun ikam akur badudua, rasa kawa haja batuturutan, aku kada kawa jua baindah.&lt;br /&gt;153. Ujar urang badusa ganal amun maliungi rajaki nang handak bahinggap, mubajir.”&lt;br /&gt;154. Lanjar kurihing sidin handak samap ka talinga.&lt;br /&gt;155.  “Tapi amun ikam bakal bacakut papadaan, bakal mariributakan urang sakampungan, bakal mambari malu kadang warga haja, baik paraya ha.”&lt;br /&gt;156. Ujar sidin pina nahap.&lt;br /&gt;157. Kami bacacangan lawan kaka bini, babarapa kali sidin mangijipi aku sambil unggut-unggut mambari utau, manyuruh maakuri, tapi muntungku rasa ngalih banar diungapakan.&lt;br /&gt;158. “Urang balaki-babini itu kada kawa bacucubaan, kadada kawin iincaan.&lt;br /&gt;159. Jadi musti digugu dahulu, apa ngalih mancabut amun sudah tabarusuk pander.”&lt;br /&gt;160. Ujuar sidin makin banahap.&lt;br /&gt;161. Kami tamandam badudua, batundukan maipii buku pandir sidin.&lt;br /&gt;162. Saikung-ikung kadada nang waninya maangkat muha.&lt;br /&gt;163. Hinip sangiuk, kada sing burinikan, kaya malihat malaikat lalu.&lt;br /&gt;164. “Damintu ha.”&lt;br /&gt;165. Ujar sidin mancangangi muhaku, “Ikam hakunlah kusuruh sambahyang tahjud 41 malam?”&lt;br /&gt;166. Sidin cangang kada sing kilipan, rasa mancucuk lacit ka jantung.&lt;br /&gt;167. Nangaran hati handak, aku kada bapikir panjang lagi, balajur haja baungut sambil manyahut, “Ayu ja ka ai,” ujarku babaya kadangaran.&lt;br /&gt;168. “Kaina amun kada hilang jua, ikam bapadah kasini, nyaman kaka ikam nang badatang ka rumah ikam.”&lt;br /&gt;169. Ujar sidin takarinyum.&lt;br /&gt;170. Malam Jumahat itu jua aku batumat manggawi sambahyang tangah malam.&lt;br /&gt;171. Malam itu aku bangun parak kasiangan, parak pukul tiga subuh.&lt;br /&gt;172. Ngalih pang mambuang batu ka palatar, nangaran balum tapatuh manyubuh, rasa ringkut raat awak malawan dingin.&lt;br /&gt;173. Samalaman, dua malam, talu malam balum kalihatan lagi cirri cagar mambari bakas, tapi imbah ganap malam nang kasalikur, labaram karasaan banar padilatnya.&lt;br /&gt;174. Aku makin cangkal bangun mambasuh siku, jangan tatinggal nang wajib nang sunat haja asa rugi.&lt;br /&gt;175. Makan sasain nyaman, guring sasain janak, bagawian sasain basumangat, pikiran nang kada kakaruan hlang saurangannya, kaya mambuang kalipanan.&lt;br /&gt;176. Aku singhaja mamilih ari Ahad bailing ka wadah sidin, nyaman pang urangnya takumpulan.&lt;br /&gt;177. Pas jua ai jijihian urang tatawaan di palatar, umanya badaku awan nang ganal, abahnya bacatur awan nang halus. Inda sanang banar pinanya.&lt;br /&gt;178.  “Ulun ini ka ai handak bapadah lawan pian, ulun handak umpat manjarat tali kakaluargaan lawan kaluarga di rumah ini sarumahan.”&lt;br /&gt;179. Aku mambuka pandir imbah basasalaman.&lt;br /&gt;180. “Ayu ja dingai, aku akur banar amun ikam hakun jadi kaluarga kami.&lt;br /&gt;181. Tapi amun kada salah rikinanku ikam ini balum wayahnya manuntut janji.”&lt;br /&gt;182. Ujar kaka bini&lt;br /&gt;183. “Ulun kada handak manuntut janji ka ai, ulun handak nang tapisit pada naitu.”&lt;br /&gt;184. “Kada usah bamajas bamantikah ding ai, sambat haja tarus tarang, nyaman kami mangarti sarumahan.”&lt;br /&gt;185. Ujar kaka bini inda kasasahangan.&lt;br /&gt;186. Aku kada purun malihat sidin nang kaya itu, balajur aku basungkam di asuhan sidin, 187. “Tampani ka ai ulun ini manjadi dangsanak pian dunia ahirat, mintu jua lawan kaka laki, jadi kakanakan pian sama lawan kamanakan ulun di ujud.”&lt;br /&gt;188. “Adingku ai!”&lt;br /&gt;189. Ujar sidin sambil mamaluk aku saling pisitan.&lt;br /&gt;190.  Banyak pang nang handak kupandirakan, tapi asa kasat rakungan, rasa dijarat, dada asa sasak, rasa ngalih manyintak hinak ………….. sadang haja kalu lah ?????????&lt;br /&gt;191. Hinggan di sini haja dahulu …. Aku mangannnttuuuuuuuuukkk banar …….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuta Bahalap, Oktober 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-2861125190017922228?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/2861125190017922228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=2861125190017922228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2861125190017922228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/2861125190017922228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/bukan-plagiat.html' title='BUKAN PLAGIAT ?'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-4491143005450316837</id><published>2011-08-10T01:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:33:59.418-07:00</updated><title type='text'>SUDAHKAH BAKASUDAHAN (Karindangan vs Kada Bakasudahan</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nur Hidayah (NH) boleh jadi pemilik cerpen Kada Bakasudahan (KB), ide cerita, gagasan, pokok landasan cerita sudah melekat padanya karena cerita itu (KB) merupakan pengalaman pribadi dan itu sah-sah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu kurun waktu, jauh tahun sebelumnya, ternyata ada cerpen berjudul Karindangan (K) buah pena Seroja Murni (SM). Kedua cerpen ditulis dalam Bahasa Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah sulit bagi KB untuk melepaskan dirinya dari jerat-jerat struktur kalimat yang terdapat pada K. Bukti yang menggiring ke arah sana terlalu vulgar dan sangat jelas terpampang. Jumlah kalimat pada KB ada 162, sedang pada K terdapat 191 kalimat. Berdasarkan paparan ini ada sebanyak 32 kalimat yang sama. Ada beberapa kalimat dalam KB yang secara utuh merunut alur K, tetapi di beberapa bagian terdapat ‘lompatan-lompatan’ yang membuka peluang agar cerita menjadi tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuka kedua cerpen adalah kalimat yang sama :&lt;br /&gt;(KB, 1) Aku tahu ai amun baampik sabalah tangan tu lacit ka kiamat kada bakal babunyi.&lt;br /&gt;(K, 1) Aku tahuai amun baampik sabalah tangan tu lacit kiamat kada bakal babunyi.&lt;br /&gt;Perbedaan ada pada penulisan kata ‘tahu ai’ dengan ‘tahuai’, juga kata penunjuk arah ‘ka’ (KB, 1) yang tidak terdapat pada (K, 1). Selanjutnya adalah sebagai berikut:.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(KB, 2) Aku tahu ai amun urang nang kuganang siang malam nangitu kada tahu manahu.&lt;br /&gt;(K, 2) Aku tahuai amun urang nang kuganang siang malam nangitu kada tahu-manahu.&lt;br /&gt;Perbedaan hanya pada penulisan kata ‘tahu ai’ dengan ‘tahuai’,juga pada ‘tahu manahu’ tanpa garis hubung dengan ‘tahu-manahu’ menggunakan garis hubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(KB, 3) Aku maka am ciling-ciling maitung cacak, gulang-gulik bakawan gaguling, ngalih banar mancari guring.&lt;br /&gt;(K, 4) Aku makaam ciling-ciling maitung kasau, gulang gulik bakawan guguling, ngalih banar mancari guring.&lt;br /&gt;Ada yang diganti pada kata ‘kasau’ (K) dengan kata ‘cacak’ (KB), juga penulisan kata ‘maka am’ dengan ‘makaam’, ‘gaguling’ dengan ‘guguling’..&lt;br /&gt;‘Lompatan” kalimat terjadi karena ada urutan kalimat pada K yang dilewati oleh KB yaitu (K, 3) Mandingkur karuh urang dihiga nang bini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rinci dapat saja ditemui pengutipan kalimat-kalimat dari cerpen K yang diletakkan langsung begitu saja ke dalam struktur bangunan cerpen KB. Seluruhnya ditemukan 32 bagian kalimat yang sangat-amat-jelas-sekali pengambilan kalimat-kalimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Nur Hidayah berada pada posisi yang sulit dalam hal ini, tetapi alangkah arif dan bijaksananya bila ada pihak yang secara cepat untuk memediasi agar ‘kasudahan kisah panjang kita ini bukan berakhir pada kada bakasudahan’. Kisah panjang kita ini harus pula direspon secara positif oleh pihak dewan juri terlebih lagi oleh panitia aruh sastra yang katanya sekalsel dan bergengsi. Perasaan ini saya (secara pribadi) ungkapkan agar pada agenda aruh di Barabai, Hulu Sungai Tengah, tahun 2011 nanti serta di kabupaten atau kota lain menjadi benar-benar terjaga. Bagaimana pun panitia aruh sastra ke-7 di kota Tanjung, kabupaten Tabalong ikut terlibat, tidak dapat melepaskan diri begitu saja, dan tentu para dewan juri dapat menentukan sikap. Benar yang paparkan oleh Sainul Hermawan, bahwa kata kunci yang selalu menghambat di lembar-lembar keputusan (tentang even apa saja), “Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu-gugat,” adalah sesuatu yang mesti kita bongkar. Terbukti, bahwa para dewan juri bukanlah dewa yang dapat menentukan secara mutlak dan ternyata ‘korup’ dalam kapasitas penilaiannya.&lt;br /&gt;Dan kita selalu saja ‘korup’ dengan wawasan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lompatan yang sangat ‘ekstrim’ terjadi pada, misalnya:&lt;br /&gt;(KB, 139) “Sudah lawaslah lading ikam tu simpak?” ujarnya batakun babaya kadangaran.&lt;br /&gt;Lompatan ini jauh melampaui posisi kalimat yang ada pada K, yaitu (K, 73) “Sudah lawaslah lading ikam itu simpak?” ujar sidin batakun babaya kadangaran. Dilanjutkan pada (KB, 144) Marigap hatiku, lalu mangarti ai aku, kamana sabujurnya ampah tatakunan inya nangitu. Bandingkan dengan (K, 75) Marigap hatiku, lalu mangartiai aku, kamana sabujurnya ampah tatakunan sidin nangitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan kata ‘inya’ dengan kata ‘sidin’ karena alasan yang sangat kuat dan mendasar. Kata ‘inya’ digunakan untuk untuk kata penganti ‘orang ketiga’ yang dalam cerita itu adalah Ka Dani. Ka Dani inilah lelaki pujaan, lelaki yang diharapkan oleh ‘aku’, lelaki yang telah membuat hati ‘kada kakaruan, karindangan buta’. Sedang penggunaan kata ‘sidin’ adalah untuk sikap menghormati dari ‘aku, perempuan muda’ kepada seorang wanita yang lebih tua, yaitu istri dari pak Ahmad. Nah kepada pak Ahmad inilah kerinduan itu tertanam di hati ‘aku’. Karena kerinduan itu sangat kuat maka dengan sangat percaya diri ‘aku’ secara jujur, tulus dan terbuka mengutarakannya kepada ‘wanita, bini pak Ahmad dengan cara menemui langsung ‘bailang’ ke rumah. Suasana dramatikal pun terpampang sangat menyentuh, tulus dan murni. Sebuah penerimaan yang sangat melapangkan dada bagi semua pihak dalam cerita Karindangan tersebut. Dan pak Ahmad tidak ingin melepaskan burung merpati yang terbang melayang menuju rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ‘penyimpangan cerita’ yang terjadi pada cerpen Kada Bakasudahan. Kedatangan ‘aku’ yang bernama Aida ke rumah Ka Dani mula-mula berjalan datar saja, tetapi ketika seorang ‘perempuan muda’ lain datang yang bernama Rahma maka malapetaka rindu itu pun menjadi kabut. Dari suara ibu Ka Dani terdengar jelas dan yakin bahwa Rahma adalah pacar Ka Dani, pupuslah kedalaman rindu itu di lubuk yang ‘maulak-ulak’ hati Aida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun akan mampu memilih, pasti ada cerpen yang berkualitas di antara banyak cerpen. Sekalipun itu dalam Bahasa Banjar. Salut untuk Seroja Murni. Siapa takut berbahasa Banjar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimantan Selatan, 17 Desember 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-4491143005450316837?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/4491143005450316837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=4491143005450316837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/4491143005450316837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/4491143005450316837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/sudahkah-bakasudahan-karindangan-vs.html' title='SUDAHKAH BAKASUDAHAN (Karindangan vs Kada Bakasudahan'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-8950713957023115986</id><published>2011-08-10T01:29:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:31:10.631-07:00</updated><title type='text'>KADA BAKASUDAHAN KARINDANGANNYA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dugaan plagiat merupakan persoalan yang sangat serius. Bertambah serius persoalannya jika hal itu menjadi bagian dari pemenang suatu lomba, sebagaimana yang terjadi pada Lomba Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra VII Tabalong, karena tidak hanya menyangkut si tertuduh tapi juga menyangkut kompetensi dewan jurinya beserta segala keputusannya.&lt;br /&gt;Lambatnya respon dewan juri terhadap dugaan plagiat cerpen karya nominasi Kada Bakasudahan dengan karya Karindangan (Seroja Murni) dapat dianggap sebagai petunjuk yang menguatkan pandangan tidak berkompeten dan kurang seriusnya dewan juri, yang terkesan dugaan plagiat tidak menjadi persoalan penting dan serius dalam berkarya. Seakan dewan juri memposisikan diri yang bebas dengan persoalan dugaan plagiat, karena yang terpenting bagi mereka hanya kualitas cerpen peserta lomba, yang lebih mengesankan posisi dewan juri seperti penggabungan kedua judul cerpen; Kada Bakasudahan Karindangannya karena keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan yang ada masih merupakan tanggapan pribadi juri, yang lebih berkesan pemakluman terhadap persoalan dugaan plagiat. Sebagaimana tanggapan Nailiya Nikmah JKF (Media Kalimantan, 13 Desember 2010: B5) yang menggunakan istilah bacakut papadaan dalam melihat dugaan plagiat yang sebenarnya tidak konteks dengan persoalan. Lagi pula persoalan dugaan plagiat tidak tepat dikatakan sebagai bacakut papadaan. Padahal dalam tulisannya sudah memperkuat dugaan plagiat tersebut dan merupakan pandangan yang menjadikan cerpen Kada Bakasudahan layak dinominasikan karena pengutipan dinyatakan sebagai, “tidak hanya mendukung cerpen ... tetapi juga menjadi kekuatan cerpen ini. Sebagai contoh, paragraf awal yang begitu memesona tak lain adalah paragraf awal cerpen ‘Karindangan’” (MK, 13/12/10:B5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penggunaan istilah yang kurang tepat, Nailiya Nikmah JKF (juri) menjadi berburuk baik adanya kesan ketidaksenangan terhadap person, yang juga melebarkan persoalan dugaan plagiat. Karena persoalan dugaan plagiat itu tidak menyangkut hubungan antar pribadi, tetapi merupakan persoalan serius bersama yang memang harus secepatnya diselesaikan. Hal ini juga berhubungan dengan penyadaran bagi siapa saja untuk tidak menganggap hal biasa untuk “menenggak anggur” sebagai plagiator, dan merupakan bagian dari menyuarakan dan mensosialisasikan betapa hinanya memplagiat karya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lolosnya cerpen yang diduga plagiat sebagai nominasi pemenang lomba, tentu saja arah jari telujuk ditujukan kepada dewan juri, apalagi cerpen yang dilombakan adalah cerpen berbahasa Banjar yang masih sangat sedikit, sehingga alasan tidak ada waktu dan kurangnya data atau bahan bacaan menjadi petunjuk tidak berkompetennya para juri. Kompetensi juga menyangkut pengetahuan yang bersangkutan terhadap bidang yang akan dinilai, seandainya cerpen yang dinilai berbahasa Indonesia tentu dapat dimaklumi dewan juri kecolongan memenangkan cerpen plagiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga tanggapan Aliman Syahrani (juri)  yang masih menegaskan posisi dewan juri dengan ungkapan, “Yang jelas keputusan dewan juri sifatnya tidak bisa diganggu gugat karena sudah dibahas dalam juklak lomba” (Media Kalimantan, 18 Desember 2010: B5) yang mengesankan ada orang lain yang ingin mencampuri keputusan dewan juri. Padahal yang menjadi persoalan bukan keputusan dewan juri, tapi dugaan plagiat dari salah satu nominasi lomba. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat lebih berkenaan dengan kualitas cerpen nominasi, berkualitas atau tidak itu urusan dewan juri yang memang tidak dapat diganggu gugat, meskipun keputusan tersebut menetapkan cerpen yang tidak layak. Sedangkan persoalan plagiat tidak hanya berhubungan dengan hak veto dewan juri, tapi menyangkut karya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi dewan juri dalam lomba cerpen bahasa Banjar Aruh Sastra menjadi dipertanyakan, karena terlalu lamban dalam bertindak, padahal beberapa pihak sudah menyarankan untuk segera bertemu antar dewan juri dan dewan juri dengan pengarang cerpen Kada Bakasudahan sebagaimana dikemukakan Y.S. Agus Suseno (Media Kalimantan, 18 Desember 2010: B5), yang jika tidak segera diselesaikan dapat berpengaruh pada mentalitas berkarya orang yang diduga melakukan plagiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri dapat melakukan klarifikasi langsung terhadap pengarang cerpen Kada Bakasudahan, dan membandingkan kedua karya yang dimaksud, yang kemudian dewan juri dapat menentukan berapa panjang indikasi penjiplakannya, juga tentang tokoh dan penokohan, alur, latar dan sudut pandangnya sebagaimana saran Sainul Hermawan (Media Kalimantan, 14 Desember 2010: B5). Disamping itu, dewan juri juga perlu membuka diri terhadap orang-orang yang berkompeten dalam menilai kedua cerpen tersebut, sebagai pembanding atas penilaian dewan juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan plagiat sudah semestinya dapat diselesaikan dengan segera. Rencana Aliman Syahrani (juri) untuk segera bertemu dengan Nailiya Nikmah JKF (juri) perlu secepatnya direalisasikan (juga dengan juri Jamal T. Suryanata), yang merupakan sikap dan tindakan yang perlu diapresiasi dan terus didorong untuk menyamakan persepsi dalam menanggapi persoalan yang sepatutnya cepat diselesaikan. Di samping itu, beberapa pihak sudah menyarankan jika seandainya dugaan itu benar dan diakui yang bersangkutan akan selesai dengan permintaan maaf untuk tidak mengulanginya dan dewan juri tidak perlu sungkan juga untuk menyatakan maaf. Untuk itu, dewan juri perlu meletakkan persoalan pada tempatnya, dan tidak perlu menarik persoalan lainnya menjadi bagian persoalan dugaan plagiat Lomba Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra VII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan plagiat diharapkan dapat diselesaikan dengan tepat, agar tidak seperti suasana tokoh dalam cerpen Kada Bakasudahan (Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek Berbahasa Banjar, Manyanggar Banua, 2010: 114), “Banyak nang handak ulun pandirakan. Tapi asa kasat rakungan. Rasa dijarat, dada asa sasak, rasa ngalih manyintak hinak ...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Media Kalimantan, 23 Desember 2010: B5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-8950713957023115986?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/8950713957023115986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=8950713957023115986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8950713957023115986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8950713957023115986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/kada-bakasudahan-karindangannya.html' title='KADA BAKASUDAHAN KARINDANGANNYA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-4695171260740002369</id><published>2011-08-10T01:28:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:29:42.058-07:00</updated><title type='text'>BANUA YANG PERLU DISANGGAR ULANG (Catatan untuk Dewan Juri Lomba Cerpen Berbahasa Banjar Pasca Aruh Sastra Kalsel VII 2010 di Tanjung)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Tajuddin Noor Ganie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 Tabalong dapat dikatakan telah sukses dilaksanakan, namun ada hal yang membuat sobekan yang sebenarnya sangat berat berupa dugaan plagiat salah satu dari cerpen nominasi Lomba Cerpen Bahasa Banjar. Dugaan ini tergambar dengan jelas dalam tulisan Tajuddin Noor Ganie (TNG), Banua yang Perlu Disanggar Ulang (Media Kalimantan, 6 Desember 2010: B5). Hasil perbandingan dari 7 kutipan yang dikemukakan dalam tulisan itu, sebenarnya lebih cenderung sebagai plagiat dan sepakat dengan apa yang dikemukakan Micky Hidayat (Media Kalimantan, 11 Desember 2010: B5) bahwa jika kemiripan hampir satu alenia tentu bukan kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus dugaan plagiat, apalagi dalam bahasa Banjar di mana jumlah cerpen yang dipublikasikan masih sangat sedikit, sebenarnya mempertanyakan kompetensi dan keseriusan dewan juri. Jika dugaan plagiat ini terbukti, maka berpengaruh pada penilaian dewan juri pada cerpen peserta lomba yang lainnya, karena dewan juri dapat dianggap tidak mempunyai pengetahuan yang cukup sebagai ukuran penilaiannya. Dalam buku Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek Bahasa Banjar, Manyanggar Banua (2010) terdapat catatan dewan juri, yang salah satunya adanya penilaian terhadap cerpen yang dianggap sebagai cerpen yang ditulis dalam bahasa tertentu lalu dialihbahasakan ke bahasa Banjar, yang memperlihatkan keseriusan dewan juri dalam memperhatikan cerpen peserta lomba, namun ternyata yang lebih penting yang berkenaan dengan plagiat kada taitihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tulisan TNG, sudah seharusnya dewan juri melakukan klarifikasi dengan penulis cerpen tersebut dengan melihat cerpen pembandingnya. Jika hasilnya sesuai dengan dugaan TNG, maka dewan juri harus melakukan tindakan yang semestinya. Apa yang telah dituliskan TNG di media massa telah masuk dalam ruang publik, yang harus mendapatkan tanggapan yang seharusnya. Pertemuan antara TNG dengan pengarang cerpen dan dewan juri (Media Kalimantan, 10 Desember 2010: B5) tidak perlu dilakukan, karena TNG tidak mempunyai wewenang  dalam memutuskan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh dewan juri. Hal ini juga bukan persoalan antara TNG dengan pengarang cerpen tersebut ataupun dewan juri. Tulisan TNG dapat  dijadikan bahan dalam melakukan klarifikasi, dan sebagai pelajaran bagi siapa saja untuk tidak melakukan plagiat dalam berkarya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keterangan yang dikemukakan salah satu juri cerpen dalam menanggapi dugaan keserupaan cerpen Kada Bakasudahan dengan cerpen Karindangan (Media Kalimantan, 9 Desember 2010: B5), bahwa meraka mempunyai keterbatasan waktu dan kurangnya data atau buku yang dapat dijadikan pembanding untuk melakukan klarifikasi cerpen yang meragukan tersebut, sehingga cenderung hanya berdasarkan cerpen dari peserta, dan karena menurut juri kualitas tulisan cerpen tersebut memang bagus dan layak mendapatkan nominasi. Di sini sebenarnya secara tidak langsung menggambarkan bahwa dewan juri tidak layak dan tidak serius mengemban amanah. Karena, cerpen yang berbahasa Banjar masih sangat sedikit, apalagi yang sudah dipublikasikan seperti dalam bentuk buku kompilasi yang dapat dihitung dengan jari. Salah satu buku tersebut adalah yang dikarang salah satu juri, lalu buku kompilasi yang dikemukakan TNG, sehingga apabila dewan juri merasa kekurangan data sama saja mengatakan bahwa dewan juri tidak berkompeten menjadi juri. Jika cerpen yang dilombakan dalam bahasa Indonesia, alasan di atas masih bisa diterima karena begitu banyaknya cerpen yang telah diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sebagai dewan juri yang menemui sesuatu yang meragukan sepatutnya mencari tahu tentang keraguan tersebut, hal ini sangat memungkinkan karena publikasi cerpen berbahasa Banjar masih sangat terbatas. Dewan juri dalam melakukan penilaian terhadap cerpen peserta lomba, seharusnya mempunyai pengetahuan yang cukup tentang cerpen berbahasa Banjar, setidaknya mereka sudah pernah membaca cerpen berbahasa Banjar yang pernah dipublikasikan seperti Kompilasi Naskah Cerpen Bahasa Banjar (Taman Budaya Kalsel, 2004) atau buku lainnya. Seandainya, cerpen peserta lomba Aruh Sastra tersebut plagiat dari cerpen yang tidak pernah dipublikasikan, maka hal seperti ini dapat dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan tindakan plagiat dari salah satu nominasi Lomba Cerpen Bahasa Banjar, yang jika hal ini benar berimplikasi pada penilaian dewa juri keseluruhan, karena cerpen bahasa Banjar yang dipublikasikan masih terlalu sedikit sehingga terlihat dewan juri tidak mempunyai kompetensi yang memadai. Hal ini akan merembet pada penilaian nominasi cerpen-cerpen yang lainnya, meskipun keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat namun kasus ini memperlihatkan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat tersebut terlalu lemah dan berasal dari orang-orang yang tidak berkompeten. Oleh karena itu, dewan juri harus secepatnya melakukan klarifikasi secara serius terhadap dugaan itu, dan melakukan tindakan yang seharusnya.&lt;br /&gt;(Media Kalimantan, 12 Desember 2010: C3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-4695171260740002369?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/4695171260740002369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=4695171260740002369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/4695171260740002369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/4695171260740002369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/banua-yang-perlu-disanggar-ulang_10.html' title='BANUA YANG PERLU DISANGGAR ULANG (Catatan untuk Dewan Juri Lomba Cerpen Berbahasa Banjar Pasca Aruh Sastra Kalsel VII 2010 di Tanjung)'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-8262959032218923946</id><published>2011-08-10T01:23:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:28:20.336-07:00</updated><title type='text'>BANUA YANG PERLU DISANGGAR ULANG (Catatan untuk Dewan Juri Lomba Cerpen Berbahasa Banjar Pasca Aruh Sastra Kalsel VII 2010 di Tanjung)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh:TajuddinNoorGanie&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya sudah cukup lama berakrabria dengan cerpen Seroja Murni berjudul Karindangan (K) (selesai ditulis tahun 1993). Saya sudah membacanya jauh sebelum cerpen  dimaksud dimuat dalam Kompilasi Naskah Cerpen Bahasa Banjar (Taman Budaya Kalsel, 2004:1-6). Tidak hanya itu, saya juga pernah mengkajinya untuk keperluan mengerjakan tugas kuliah di PBSID STKIP Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi karena itulah maka saya langsung teringat dengan cerpen dimaksud begitu membaca cerpen Nur Hidayah berjudul Kada Bakasudahan (KB) yang dimuat dalam Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek Bahasa Banjar berjudul Manyanggar Banua (Editor : Abdus Syukur MH, Hajriansyah, dan YS Agus Suseno, 2010:109-114). Nur Hidayah membuka cerpennya dengan narasi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu ai amun baampik sabalah tangan tu lacit ka kiamat kada bakal babunyi. Aku tahu ai amun urang nang kuganang siang malam nangitu kada tahu manahu. Aku makaam ciling-ciling maitung cacak, gulang galik bakawan gaguling, ngalih banar mancari guring (Hidayah, 2010:109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Seroja Murni membuka cerpennya dengan narasi sebagai berikut.&lt;br /&gt;Aku tahu ai amun baampik sabalah tangan tu lacit ka kiamat kada bakal babunyi. Aku tahu ai amun urang nang kuganang siang malam nangitu kada tahu manahu. Mandingkur karuh urang dihiga nang bini. Aku makaam ciling-ciling maitung kasau, gulang galik bakawan gaguling, ngalih banar mancari guring. Samakin rapat aku bapajam, samakin nampak sidin manggaliwayang (Murni, 2004:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain paragraf di atas saya juga menemukan sejumlah paragraf cerpen K (Murni) lainnya dalam cerpen KB (Hidayah), yakni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan 2 teks paragraf cerpen KB (Hidayah).&lt;br /&gt;Ganap talu sanja sudah kada ampih jua. Aku bingung kada sakira, dusa nangapa nang maulah aku pina mambungul kaya ini? Badiri barangkat rasa mangulir, makan guring kada karuan pangrasa, dibawa balingkar di kjaguringan makin mandalami mata luka haja. Dasar liwar sakitnya hati, kada nyanyamanan (Hidayah, 2010:109).&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kutipan teks paragraf cerpen K (Murni) di bawah ini.&lt;br /&gt;Aku bingung kada sakira, dusa nangapa nang maulah aku pina mambungul kaya ini? Masih waraskah aku ini atawa sudah gilakah?. Badiri barangkat rasa mangulir, makan guring kada kakaruan pangrasa, dibawa balingkar di kaguringan makin madalami mata luka haja. Dasar liwar sakitnya hati, kada nyanyamanan karindangan saurangan (Murni, 2004:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan 3 teks paragraf cerpen KB (Hidayah)&lt;br /&gt;Dalas tatinggal ngaran, di mana pacah di situ tambikarnya, ujarku dalam hati ka wadah inya. Ditulak inya mantah-mantahkah, aku kada hiran lagi. Kaya apa haja kajadiannya, tatap aku sandang. Nyaman tahu kasudahannnya (Hidayah, 2010:110).&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kutipan teks paragraf cerpen K (Murni) di bawah ini.&lt;br /&gt;Amun kaya ini naga-naganya, jangankan jalanan hidup jalan mati kujalani. Dalas tatinggal ngran, dimana pacah disitu tambikarnya. Aku musti bailang ka wadah sidin. Ditulak sidin mantah-mantahkah, barungkup baudar lawan bini sidinkah, aku kada hiran lagi. Kaya apa haja kajadiannya tatap kusandang. Nyaman tahu kasudahannya (Murni, 2004:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan 4 teks paragraf cerpen KB (Hidayah)&lt;br /&gt;Amun kada hilap, ari itu ari Jumahat. Napa yu, bubuhannya pina rami handak ka masigitan. Ada jua nang pina ungut-ungutan di buncu warung. Pina habang mata, pina layu, kada basumangat. Luput pulang, kalu (Hidayah, 2010:109).&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kutipan teks paragraf cerpen K (Murni) di bawah ini.&lt;br /&gt;Amunnya kada khilap, ari tu ari Kamis. Napa yu, bubuhannya nang baangan-angan handak sugih mangajut nangitu ungut-ungutan di buncu warung. Ada nang batundukan bapicik kapala, ada nang manarawang langit basangga wihang, ada jua nang tasandar maisap ruku, paguni pina habang mata, pina layu kada basumangat, luput pulang kalu (Murni, 2004:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan teks 5 paragraf cerpen KB (Hidayah)&lt;br /&gt;“Inggih…”Aku masih bingung, sadidikit kada marasa kulir, nang kaya hadangan ditarik hidung tu pang. Padahal amun disuruh kuitan di rumah, kalaliwaran kulirnya aku. Tagal am ngini nang manyuruh calun mintuha, ujarku dalam hati, sambil jihi-jihi saurangan. Aku bakalimpusut ka dapur (Hidayah, 2010:111).&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kutipan teks paragraf cerpen K (Murni) di bawah ini.&lt;br /&gt;Aku bingung sadidikit kada marasa kulir, nang kaya hadangan ditarik hidung tupang, aku bakalimpusut mairingi sidin (Murni, 2004:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan 6 teks paragraf cerpen KB (Hidayah)&lt;br /&gt;Umai, umai, kababagusan dapur urang. Kada tapipirit lawan rumah saurang. Kada jua pang amun harat banar, tapi rasa sanang tu pang bagawian. Pakakasnya kada saraba larang, kada saraba ulin, papan biasa haja, tapi bagus, taatur, barasih pulang. Kaya paribasa : jangan baya balingsar, dijilat gin kawa. Cucuk banar lawan nang maharagu, putih barasih lacit ka hati (Hidayah, 2010:111).&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kutipan teks paragraf cerpen K (Murni) di bawah ini.&lt;br /&gt;Umai-umai kababagusan dapur urang, kada tapipirit awan di rumah saurang. Kada juapang amun harat banar, tapi rasa sanang bagawian. Pakakasnya kada saraba larang, kada saraba ulin, papan biasa haja, tapi bagus taatur, barasih pulang. Kada kaya paribasa, jangan baya balingsar, dijilat gin kawa. Cucuk banar lawan nang maharagu, putih barasih lacit ka hati (Murni, 2004:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan 7 teks paragraf cerpen KB (Hidayah)&lt;br /&gt;Sudah lawaslah lading ikam tu simpak?” ujarnya batakun babaya kadangaran. Sambil bagariwih tangannya mamusuti kapala lawan bahuku.Kuitihi tanganku. Aku kada mambawa lading. Mambawa plastik banar ai, nang isinya kain sasirangan, gasan umanya Ka Dani. Marigap hatiku, lalu mangarti ai aku, ka mana sabujurnya ampah tatakunan inya nangitu.”Hanyar am…” Aku sahuti sambil manggitir. Awakku panas dingin saikungan. Kada wani maitihi muhanya (Hidayah, 2010:113-114).&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kutipan teks paragraf cerpen K (Murni) di bawah ini.&lt;br /&gt;Sudah lawaslah lading ikam tu simpak?” Ujar sidin batakun babaya kadangaran.&lt;br /&gt;Kuitihi lading di tanganku, sing bagusan kadada simpak, sadikit-diki. Marigap hatiku, lalu mangatiai aku, kamana sabujurnya ampah tatakunan sidin nangitu.&lt;br /&gt;“Kada, tadapat gin hanyar ka Jakarta samalam haja.” (Murni, 2004:2-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil perbandingan yang dilakukan atas 7 kutipan teks paragraf kedua cerpen dimaksud, maka dapat dikatakan bahwa cerpen K (Murni) merupakan cerpen hypogram dari cerpen KB (Hidayah). Dalam hal ini penulisan cerpen KB (Hidayah) diilhami oleh cerpen K (Murni).&lt;br /&gt;Para kritikus sastra sering menyebut kasus seperti ini sebagai kasus intertekstualitas, yakni cerpen yang ditulis berdasarkan sumber ilham (hyporam) dari cerpen yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah dengan adanya kasus ini, maka cerpen KB (Hidayah) sesungguhnya tidak layak untuk dinobatkan oleh dewan juri sebagai cerpen juara harapan II dalam Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung, 26-28 November 2010 tempo hari.&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk menggugat keputusan dewan juri, karena saya tahu dalam kasus-kasus semacam ini ada ketentuan yang berlaku umum, yakni keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;Akhirnya, saya mohon maaf kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi terganggu kenyamanannya akibat tulisan ini. Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, salah seorang peserta Lomba Mengarang Puisi dan Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalsel VII, Tajung, 26-28 November 2010 ybl. Namun, tidak satupun puisi dan cerpennya masuk nominasi. Insya Allah tahun depan ikut lomba lagi, namun ia berharap kasus yang terjadi tahun ini tidak terjadi lagi tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Media Kalimantan, 6 Desember 2010: B5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-8262959032218923946?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/8262959032218923946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=8262959032218923946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8262959032218923946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8262959032218923946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/banua-yang-perlu-disanggar-ulang.html' title='BANUA YANG PERLU DISANGGAR ULANG (Catatan untuk Dewan Juri Lomba Cerpen Berbahasa Banjar Pasca Aruh Sastra Kalsel VII 2010 di Tanjung)'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-5838992727013403325</id><published>2011-08-10T01:21:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:23:08.769-07:00</updated><title type='text'>PEMENANG LOMBA ARUH SASTRA 2010</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah sepekan bekerja keras, Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar dan Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII memutuskan para pemenang. Keputusan diambil dalam rapat akhir di Bengkel Sastra dan Teater Karantika, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Minggu (29/8).&lt;br /&gt;Puisi berjumlah 120 judul (56 peserta), cerita pendek 68 judul (54 peserta), tidak termasuk naskah yang diterima panitia setelah tanggal penutupan. Lomba yang terbuka untuk umum dan berlangsung sejak Juni (ditutup 20 Agustus 2010) ini diikuti peserta dari seluruh kabupaten/kota Kalimantan Selatan, termasuk Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;Dewan Juri puisi (Arsyad Indradi, Ali Syamsuddin Arsy, Zulfaisal Putera) menetapkan Manyanggar Banua (Erika Adriani, Kota Banjarmasin) sebagai Juara I, Diang Hirang (Syarifuddin, Kabupaten Batola) Juara II, Mambuang Tatanjuk, Manggantung Tajak (Aria Patrajaya, Kabupaten Banjar) Juara III; Maratus (East Star From Asia, Kota Banjarbaru) Juara Harapan I, Madam (Rahmatiah, Kabupaten Batola) Juara Harapan II dan Sapanjadi (M. Nahdiansyah Abdi, Kota Banjarbaru) Juara Harapan III.&lt;br /&gt;Selain itu, ada 19 puisi nominasi (nonperingkat, tanpa hadiah), yang akan dibukukan bersama puisi dan cerpen pemenang utama: Karasmin Sungai (Apriadi Darmawan, Kota Banjarmasin), Kariau (Arif Rahman, Kabupaten Tanah Bumbu), Bubur Habang Bubur Putih (Aria Patrajaya, Kabupaten Banjar), Sajak Panjual Kalakai (Arief AlRifany, Kota Banjarmasin), Syair Mangganang Paguruan (A. Rahman Al Hakim., Kota Banjarmasin), Kumarau Landang (Eza Thabry Husano, Kota Banjarbaru), Kamarau Lingkah Dapatnya Banyu (Herlianti, Kabupaten Banjar), Ada Masigit di Hatiku (H. Fahmi Wahid, Kabupaten HST), Wawarah Pikurat (H. Fahmi Wahid, Kabupaten HST), Gasan Mamanya Nabil (H. Muhaimin, Kabupaten HST), Lalakun (Jaya Ginmayu, Kabupaten Tabalong), Handak Waras (Jakaria Kastalani, Kabupaten Batola), Tihang (Nasrullah, Kabupaten Batola), Karindangan Saurangan (Komariah Widyastuti, Kabupaten Batola), Mahayabang (Rahman Rijani, Kabupaten HSS), Kunci Naraka (Randi Arma Prayuda, Kota Banjarmasin), Mandulang Intan (Sudarmi, Kabupaten HSU), Papat Pitutur Panglima Wangkang (Trie Restu Panie, Kabupaten Batola) dan Marasnya Bumiku (Zurriyati Rosyidah, Kota Banjarbaru).&lt;br /&gt;Untuk cerpen, Dewan Juri (Aliman Syahrani, Jamal T. Suryanata, Nailiya Nikmah JKF) memutuskan Tagaian (Erika Adriani, Kota Banjarmasin) sebagai Juara I, Bapintaan (M. Fuad Rahman, Kabupaten HST) Juara II, Kada Tamakan Habar Lagi (Komariah Widyastuti, Kabupaten Batola) Juara III; Manggantang Sayang (Muhammad Rifqi, Kabupaten HST) Juara Harapan I, Kada Bakasudahan (Nur Hidayah, Kabupaten Batola) Juara Harapan II, dan Jujuran (Hatmiati, Kabupaten HSU) Juara Harapan III.&lt;br /&gt;Para pemenang dan nominator diminta mengirim puisi dan cerpen serta biodatanya melalui e-mail ke hajrian@yahoo.co.id. (untuk disusun dalam buku yang akan diterbitkan), selambatnya 7 September 2010; dan diharap hadir untuk menerima hadiah uang tunai dan piagam penghargaan pada ASKS VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, 26 s.d. 28 November 2010. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan langsung pada contact person (0852 4995 4849). [] (ysas)&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://hariesaja.wordpress.com/2010/10/21/pemenang-lomba-aruh-sastra-2010/#more-616&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-5838992727013403325?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/5838992727013403325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=5838992727013403325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5838992727013403325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/5838992727013403325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/pemenang-lomba-aruh-sastra-2010.html' title='PEMENANG LOMBA ARUH SASTRA 2010'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-809157624723377452</id><published>2011-08-10T01:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:21:03.925-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA KALSEL IV</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru menyelesaikan hajatan besar (Kongres Cerpen Indonesia V) kali ini Kalsel akan menyelenggarakan lagi sebuah hajatan yang juga tak kalah pentingnya. Yakni Aruh Sastra Kalsel IV. Kali ini sebagai tuan rumah adalah Amuntai, kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Sebelumnya Aruh Sastra Kalsel ini pertama digelar di Kandangan, kabupaten Hulu Sungai Selatan (2004), Aruh Sastra Kalsel II di Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu (2005), Aruh Sastra Kalsel III di Kotabaru, Kabupaten Kotabaru (2006).&lt;br /&gt;Aruh Sastra Kalsel IV kal ini akan dilangsungkan pada 14 s/d 16 Desember 2007. Acara yang akan dilaksanakan adalah:&lt;br /&gt;1. Lomba Musikalisasi Puisi Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;2. Peluncuran buku kumpulan puisi dan cerpen Kab. HSU&lt;br /&gt;3. Ceramah dan diskusi sastra&lt;br /&gt;4. Baca puisi/cerpen/pertunjukan/pergelaran sastra Kabupaten/Kota Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;5. Orasi Budaya&lt;br /&gt;6. Sidang Pleno Aruh Sastra Kalimantan Selatan IV&lt;br /&gt;7. Ziarah dan Anjangsana&lt;br /&gt;Untuk materi bertajuk ceramah dan diskusi sastra, selain mempresentasikan pemikiran sastrawan Kalimantan Selatan asal Kabupaten HSU, Fakhruraji Asmuni (Raji Abkar) dan M. Hasbi Salim, yang membicarakan pertumbuhan, pembinaan dan perkembangan sastra di Kabupaten HSU, juga menghadirkan sastrawan Korrie Layun Rampan yang membicarakan Lokalitas dan Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan: dari Barat, Timur, Tengah, sampai Selatan.&lt;br /&gt;Dari pengalaman sebelumnya, Aruh Sastra Kalsel terbuka untuk umum. Jadi seluruh masyarakat Kalsel tentu saja dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Namun jika Anda ingin hadir di sana, (khususnya yang belum masuk dalam undangan) ada baiknya menghubungi pihak panitia demi lancarnya semua kegiatan. Email panitia: distakpar@yahoo.co.id ( Harie  Insani Putra )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-809157624723377452?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/809157624723377452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=809157624723377452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/809157624723377452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/809157624723377452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2011/08/aruh-sastra-kalsel-iv.html' title='ARUH SASTRA KALSEL IV'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-6824939282758576201</id><published>2008-08-11T08:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-11T08:41:06.337-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA KALSEL  V DI BALANGAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya jadwal Aruh Sastra Kalsel V di Balangan dipastikan juga digelar pada 24 – 16 Oktober 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seperti biasa , Aruh Sastra kali ini juga memperlombakan penulisan Puisi dan Cerpen se-Kalsel. Pengiriman naskah lomba ditutup tanggal 15 Agustus 2008. Keterangan lebih lanjut bisa menhubungi Panitia Aruh Sastra Kalsel V Balangan : HP : 085251032739.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rencananya, Aruh Sastra Kalsel V di Balangan ini akan menghadirkan pembicara nasional, Emha Ainun Nadjib dan isterinya Novia Kolopaking.” Itu rencananya dan bila memang tidak ada halangan. Namun yang jelas kita akan berusaha menghadirkan pembicaraan nasional,” ujar Syamsuri, panitia Aruh. (dif)*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-6824939282758576201?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/6824939282758576201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=6824939282758576201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/6824939282758576201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/6824939282758576201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2008/08/aruh-sastra-kalsel-v-di-balangan.html' title='ARUH SASTRA KALSEL  V DI BALANGAN'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-592182283313163921.post-8546357497006189732</id><published>2008-08-11T08:34:00.000-07:00</published><updated>2008-08-11T08:39:34.001-07:00</updated><title type='text'>ARUH SASTRA KALSEL IV DI AMUNTAI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Jadwal Aruh Sastra IV tahun 2007 ini di Amuntai Kab Hlu Sungai Utara (HSU), direncanakan digelar pada Agustus tanggal 18s.d 22 nanti. Ini berarti jadwal semula yang sedianya dilaksanakan pada bulan Mei bertepatan dengan hari jadi kabupaten tersebut, telah diubah. Hal ini disampaikan Harun Al Rasyid, ketua panitia Aruh Sastra di Amintai kepada Radar Banjarmasin, kemarin. “Aruh Sastra akan kita laksanakan selepas tjuhbelasan, yakni tanggal 18 sampai 22 Agustus,”ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Harun yang juga Ketua Dewan Kesenian (DKD) HSU ini mengatakan, rencananya pada Aruh Sastra IV nanti akan diundang beberapa pembicara dari luar Kalsel seperti Korrie Layun Rampan dan D.Zawawi Imron.”Selain dua nama itu, kita juga merencanakan untuk mendatangkan Emha Ainun Nadjib,”jelas Harun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seperti diketahui, Aruh Sastra pertama digelar di Kandangan (2004), Aruh Sastra II di Pagatan, Tanah Bumbu (2005), Aruh Sastra III di Kotabaru (2006), dan berdasarkan rekomendasi Aruh Sastra di Kotabaru, Amuntai ditunjuk sebagai tuan rumah untuk Aruh Sastra IV.*******&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;REKOMENDASI ARUH SASTRA IV DI AMUNTAI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mencermati berbagai diskusi dan aspirasi yang berkembang dan mengemukakan di dalam forum sidang pleno Aruh Sastra Kalimantan Selatan IV tahun 2007 di Amuntai, yang melibatkan sastrawan dan para pemerhatisastra se-Kalsel, Aruh Sastra IV merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;1. Berdasarkan rekomendasi Aruh Sastra III tahun 2006 di Kotabaru, Kabupaten Balangan telah diamanatkan untuk menyelenggarakan Aruh Sastra&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;V Tahun 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;2. Menetapkan Kabupaten Barito Kuala sebagai tuan rumah penyelenggaraan Aruh Sastra VI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tahun 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;3. Merekomendasikan kepada pemerintah daerah Kabupaten dan Kota di Kalimantan Selatan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;agar menganggarkan dana kegiatan dewan kesenian kabupaten dan Kota dalam APBD untuk menunjang kegiatan kesenian pada umumnya dan sastra pada khususnya di daerahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;4. Merekomendasikan agar pemerintah Prov.membuat indikator yang transparan dan terukur menyangkut kreteria penerimaan hadiah seni dari gubernur Kalsel sebagai dasar pemberian hadiah tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;5. Merekomendasikan agar pemerintah segera mematenkan aset sastra lisan Kalsel seperti : madihin, lamut dan bakisah sebagai khazanah kekayaan intelektual dan kebudayaan Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;6. Mengharapkan kometmen Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Selatan (DKKS) terhadap kegiatan sastra di Kalimantan Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rekomendasi ini ditujukan kepada yang terhormat :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;1. Gubernur Kalimantan Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;2. Dewan Kesenian Kalsel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;3. Bupati/Walikota se-Kalsel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;4.Kantor Dinas Pariwisata Kab/Kota se-Kalsel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;5. DKD Kab/Kota se-Kalsel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;6. Pihak-pihak terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Amuntai, 18 Desember 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sidang Pleno Aruh Sastra Kalimantan Selatan IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pimpinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Burhanuddin Soebly&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sekretaris&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;H.M.Hasbi Salim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***********************&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/592182283313163921-8546357497006189732?l=sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/feeds/8546357497006189732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=592182283313163921&amp;postID=8546357497006189732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8546357497006189732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/592182283313163921/posts/default/8546357497006189732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-daerah-kalsel.blogspot.com/2008/08/aruh-sastra-kalsel-iv-di-amuntai.html' title='ARUH SASTRA KALSEL IV DI AMUNTAI'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
