jangan babisabisa mun kada tahu


Rabu, 10 Agustus 2011

TERBENTUKNYA KOMUNITAS SASTRA DAN TEATER DI BARABAI (HASIL PRA ARUH SASTRA VIII BARABAI)


Oleh: Arsyad Indradi

Di dalam kegiatan Pra Aruh Sastra VIII se Kalsel di Barabai yakni Pelatihan Penulisan Karya Sastra, Teknik Membaca Puisi dan Pergelaran Sastra ( 27-28 Juli 2011 ) siswa SMP/MTs/SMA/SMK se Kab.HST, guru-guru pendamping menyarankan agar membentuk Komunitas Sastra dan Teater dengan tujuan mewadahi minat dan bakat lintas pelajar se Kab.HST. Dalam komunitas ini pelajar dapat belajar,memupuk dan mengembangkan minat dan bakat Sastra dan Teater. “ Selama ini belum ada Komunitas kegiatan Sastra dan Teater di Barabai “ ujar guru-guru tersebut.

Setelah penutupan Pelatihan yang ditutup oleh Ismail Wahid Ketua KSI Kab HST, peserta pelatihan menindaklanjuti saran dari pendamping mereka mengadakann rapat membentuk Komunitas Sastra dan Teater Murakata Muda Barabai, terpilih sebagai ketua Umum : Heldayanti Rukmana, Ketua I Bidang Teater : M.Fahriansyah, Wakil Ketua : Merry Winda Herlianti, Ketua II Bidang Sastra : Nurniawati, Wakil Ketua : Gt.Rahmat Hariyadi. Sekretaris Umum : M.Habibi Anshari, Sekterasis I : Dahliani, Sekretaris II : M.Fahri, Bendahara : Fajar Rizki Rahayu. Bidang Pendataan : Selvia Stiphanie dan Novi Indriani, Bidang Publikasi dan Penerbitan : M.Nirwan Rifani, Bidang Pagelaran : Lina Rahayu dan Hamidah, Bidang Usaha dan Dana : Fitri Febrianti dan Khairunnisa Aziati. “ Program kami jangka pendek salah satunya akan menerbitkan Antologi Puisi hasil karya puisi pelatihan “ kata Heldayanti Rukmana.

Kepengurusan komunitas ini langsung dilantik oleh Fahmi Wahid Ketua Dewan Kesenian Kab.HST.



SAFARI PENYAIR NUSANTARA


Oleh: Arsyad Indradi

Ada tiga tujuan dalam penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang yang diselenggarakan dari tanggal 16-19 Juli 2011, yaitu :Memberikan ruang ekspresi bagi para penyair yang tumbuh dan berkembang di nusantara seperti Indonesia, Malaysia,Brunei Darussalam, Thailand, Filipina dan lain-lain. Mendorong generasi muda untuk mengapresiasi puisi dari karya-karya penyair nusantara. Dan mempererat hubungan silahturrahim sastrawan antar bangsa.

Dari sekian acara PPN V ini selain seminar,diskusi, tarung puisi, ada acara “safari penyair nusantara” yaitu peserta mengunjungi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Palembang. Tempat yang akan dikunjungi dan peserta yang akan mengunjungi diatur oleh panitia. Tidak seperti acara sebelumnya, acara ini merupakan acara yang perlu dilaksanakan dalam PPN VI ini. Peserta ikut aktif memberikan dorongan dan motivasi agar tumbuh apresiasi sastra dan minat bersastra di kalangan pelajar dan mahasiswa. Memang kunjungan para penyair ini sangat diharapkan dan diperlukan sekali oleh sekolah mau pun di lingkungan kampus dalam rangka ikut menunjang pembelajaran, pengembangan diri bagi siswa dan kegiatan ekstrakurikuler.

Bagaimana rangkaian acara “Aruh Sastra” ke-8 Kalsel di Barabai yang rencananya dilaksanakan tgl 16-19 September 2011 ?
Seperti juga di Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang, Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Barabai nanti, panitia telah menyusun program “Safari Sastrawan” yang tentu saja sama dengan kegiatan “Safari Penyair Nusantara”.

Dalam acara “Safari Sastrawan” Aruh Sastra ini panitia supaya mempersiapkan sedemikian rupa agar sukses seperti “Safari Penyair Nusantara”. Semoga. (AI).





GUA LIANG HIDANGAN WISATA YANG MENAKJUBKAN


Oleh : Arsyad Indradi

Sebuah Desa bernama “ Karatau “ Kecamatan Batu Benawa di Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah Desa yang bersih. Masyarakatnya, nampaknya sangat peduli akan kebersihan lingkungan walau pun rumah-rumah di kiri kanan jalan cukup sederhana. Suasana Desa ini terasa nyaman dan menyenangkan dalam sebuah pemukiman penduduk. Di ujung Desa inilah terdapat Gua bernama Liang Hidangan.

Jika kita akan ke Gua Liang Hidangan, dari Kota Barabai berjarak sekitar 8 km menuju Desa Karatau naik mobil atau sepeda motor sekitar kurang dari satu jam. Tetapi dari Desa Karatau menuju Gua Liang Hidangan berjarak 3 km yang agak sulit ditempuh dengan mobil melainkan dengan sepeda motor sekitar satu jam atau jalan kaki sekitar satu setengah jam manakala musim hujan.

Gua Liang Hidangan berada hampir di tengah – tengahnya Gunung Batu Benawa, yang memiliki panorama yang sungguh menakjubkan. Selain keindahan hutan di sekitar gua, juga gua ini memiliki keunikan tersendiri. Gua yang mempunyai kisah zaman dahulu, kisah Raden Panganten anak durhaka yang disumpah Diang Ingsun ibunya sehinga menjadi batu. Kisah ini dituturkan secara lisan mau pun dikemas dalam sebuah buku yang selalu melekat dalam masyarakat Tanah Banjar sampai sekarang ini.

Sesungguhnya,Gua Liang Hidangan ini merupakan objek wisata yang sangat strategis bagi Kabupaten HST khususnya Kota Barabai dan Kalimantan Selatan umumnya, namun kondisi potensi wisata ini masih belum diolah dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah Daerahnya baik Pemkabnya mau pun Pemda Prov.Kalsel.

Jalan sepanjang 3 km menuju ke Gua Liang Hidangan dalam kondisi sangat buruk dan berlumpur jika hujan. Di kaki gunung dimana letak gua tersebut ada sebuah bangunan kecil tempat peristirahatan pengunjung sangat memperihatinhan. Ada beberapa bagian bangunan itu sudah lapuk dan coret-moret di bangku dan langit-langit bangunan dan lebih-lebih lagi disekitarnya ditumbuhi hutan kecil yang menutupi serkitar bangunan itu sehingga yang terlihat hanya atapnya saja. Jalan bertangga yakni pendakian menuju Gua Liang Hidangan yang dibangun dari beton nampak rusak berat. Untuk mencapai gua begitu sulit kalau tidak hati-hati akan membahayakan karena tangga ini licin ditumbuhi semak dan pohonan.

Kalau melihat potensi Gua Liang Hidangan ini, pemerintah dan masyarakatnya dapat mengemasnya dengan bungkus paket wisata yang rapi dan menarik maka akan menguntungkan bagi daerahnnya dan kemakmuran masyarakatnya. Apalagi jika menjadikan sebuah komplek taman wisata budaya sehingga akan menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional tentu tak kalah dengan gua-gua yang lain di Indonesia, seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta ada Gua Braholo ( arena susur gua), Goa Cerme (Gua siluman), Gua Selarong (sejarah ) di Langse (Gua Kanjeng Ratu Kidul ) Gua Jatijajar (alam). Gua Sunyaragi (Budaya) di Cerebon, Gua Selomangleng (batu andesit hitam) di Kediri, Gua Pawon di Badung, Gua Maharani. Jatim,Gua Jepang (sejarah) Di Biak Papua dll

Menilik dari keunikan yang terkandung dalam Gua Liang Hidangan, selain menjadi objek pariwisata yang potensial juga menjadi tempat penelitian bagi para ahli. Menurut tutur tetuha masyarakat setempat bahwa di dalam Gua Liang Hidangan itu terdapat batu-batu berupa manusia, hewan ternak, alat-alat rumah tangga dan perabot kapal. Gua Liang Hidangan ini pada zaman dahulu adalah sebuah pecahan perahu yang ditumpangi Raden Panganten dan isterinya (putri china) beserta awak kapalnya yang disumpah oleh Diang Ingsun ibunya menjadi batu. Cerita ini apakah merupakan sebuah sejarah atau legenda atau mitos, kita serahkan saja kepada para ahli untuk menelitinya.

Acara Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Kabupaten HST, Barabai, mengagendakan kunjungan wisata bagi peserta Aruh Sastra se Kalsel di antaranya adalah Gua Liang Hidangan. Kunjungan wisata ini bertujuan bahwa Kabupaten HST juga mempunyai kekayaan objek wisata seperti juga yang ada di daerah lain yang tak kalah menariknya. *****

(Penulis seorang penyair dan pemerhati seni dan budaya)




PEMENANG LOMBA ARUH SASTRA 2010

Oleh : ysas

Setelah sepekan bekerja keras, Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar dan Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII memutuskan para pemenang. Keputusan diambil dalam rapat akhir di Bengkel Sastra dan Teater Karantika, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Minggu (29/8).
Puisi berjumlah 120 judul (56 peserta), cerita pendek 68 judul (54 peserta), tidak termasuk naskah yang diterima panitia setelah tanggal penutupan. Lomba yang terbuka untuk umum dan berlangsung sejak Juni (ditutup 20 Agustus 2010) ini diikuti peserta dari seluruh kabupaten/kota Kalimantan Selatan, termasuk Kalimantan Tengah.
Dewan Juri puisi (Arsyad Indradi, Ali Syamsuddin Arsy, Zulfaisal Putera) menetapkan Manyanggar Banua (Erika Adriani, Kota Banjarmasin) sebagai Juara I, Diang Hirang (Syarifuddin, Kabupaten Batola) Juara II, Mambuang Tatanjuk, Manggantung Tajak (Aria Patrajaya, Kabupaten Banjar) Juara III; Maratus (East Star From Asia, Kota Banjarbaru) Juara Harapan I, Madam (Rahmatiah, Kabupaten Batola) Juara Harapan II dan Sapanjadi (M. Nahdiansyah Abdi, Kota Banjarbaru) Juara Harapan III.
Selain itu, ada 19 puisi nominasi (nonperingkat, tanpa hadiah), yang akan dibukukan bersama puisi dan cerpen pemenang utama: Karasmin Sungai (Apriadi Darmawan, Kota Banjarmasin), Kariau (Arif Rahman, Kabupaten Tanah Bumbu), Bubur Habang Bubur Putih (Aria Patrajaya, Kabupaten Banjar), Sajak Panjual Kalakai (Arief AlRifany, Kota Banjarmasin), Syair Mangganang Paguruan (A. Rahman Al Hakim., Kota Banjarmasin), Kumarau Landang (Eza Thabry Husano, Kota Banjarbaru), Kamarau Lingkah Dapatnya Banyu (Herlianti, Kabupaten Banjar), Ada Masigit di Hatiku (H. Fahmi Wahid, Kabupaten HST), Wawarah Pikurat (H. Fahmi Wahid, Kabupaten HST), Gasan Mamanya Nabil (H. Muhaimin, Kabupaten HST), Lalakun (Jaya Ginmayu, Kabupaten Tabalong), Handak Waras (Jakaria Kastalani, Kabupaten Batola), Tihang (Nasrullah, Kabupaten Batola), Karindangan Saurangan (Komariah Widyastuti, Kabupaten Batola), Mahayabang (Rahman Rijani, Kabupaten HSS), Kunci Naraka (Randi Arma Prayuda, Kota Banjarmasin), Mandulang Intan (Sudarmi, Kabupaten HSU), Papat Pitutur Panglima Wangkang (Trie Restu Panie, Kabupaten Batola) dan Marasnya Bumiku (Zurriyati Rosyidah, Kota Banjarbaru).
Untuk cerpen, Dewan Juri (Aliman Syahrani, Jamal T. Suryanata, Nailiya Nikmah JKF) memutuskan Tagaian (Erika Adriani, Kota Banjarmasin) sebagai Juara I, Bapintaan (M. Fuad Rahman, Kabupaten HST) Juara II, Kada Tamakan Habar Lagi (Komariah Widyastuti, Kabupaten Batola) Juara III; Manggantang Sayang (Muhammad Rifqi, Kabupaten HST) Juara Harapan I, Kada Bakasudahan (Nur Hidayah, Kabupaten Batola) Juara Harapan II, dan Jujuran (Hatmiati, Kabupaten HSU) Juara Harapan III.
Para pemenang dan nominator diminta mengirim puisi dan cerpen serta biodatanya melalui e-mail ke hajrian@yahoo.co.id. (untuk disusun dalam buku yang akan diterbitkan), selambatnya 7 September 2010; dan diharap hadir untuk menerima hadiah uang tunai dan piagam penghargaan pada ASKS VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, 26 s.d. 28 November 2010. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan langsung pada contact person (0852 4995 4849). [] (ysas)
Sumber :
http://hariesaja.wordpress.com/2010/10/21/pemenang-lomba-aruh-sastra-2010/#more-616

GAGASAN BESAR ARUH SASTRA YANG BERSERAKAN


Oleh: Ali Syamsuddin Arsi

Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang berlangsung sejak tahun 2004 di Kandangan, kemudian terus bergulir sampai sekian tahun, merupakan agenda sastra yang patut mendapat perhatian bagi masyarakat sastra dan masyarakat di luar sastra.

Aruh Sastra itu sendiri tidak dapat lepas dari peran beberapa nama yang merupakan tokoh-tokoh pencetus/penggagas, keberlangsungan agenda dari tahun ke tahun. Burhanuddin Soebly boleh jadi sebagai pemicu awal keberlangsungan agenda aruh dengan agenda dasarnya pada tahun 2004 itu melaunching buku “La Ventre de Kandangan”, buku yang merupakan mozaik perjalanan panjang kesastraan tokoh dan karyanya warga Kandangan.

Secara tidak terduga, saudara Abdul Karim “Oka Mihardja” memberanikan diri –atas nama Pemerintah Kab. Tanah Bumbu- menyambut pelaksanaan Aruh tersebut di wilayah Kab. Tanah Bumbu, maka berlangsunglah Aruh Sastra II di kota Pagatan yang masuk agenda penanggalan Mappanre Tasi.

Selanjutnya Eko Suryadi WS membuka peluang agar Kotabaru siap sebagai ‘tuan rumah aruh sastra’ selanjutnya. Sebagaian rekan memberikan respon, memberikan apresiasi kuat bahwa pelaksanaan Aruh Sastra III di Kotabaru sebagai ‘standar’ dari segi kemeriahan dan segala pernik-perniknya. Tokoh kuat yang berada di balik layar pelaksanaan agenda tersebut dengan terlibatnya Y.S. Agus Suseno, Micky Hidayat serta Burhanuddin Soebly sendiri.

Aruh Sastra merupakan bukti keberpihakan Pemerintah Kabupaten lewat Dinas Pariwisata dan Budaya (HSS, Tanah Bumbu, Kotabaru, HSU, Balangan, Barito Kuala, Tabalong dan HST), selanjutnya pada pelaksanaan aruh yang akan datang belum dapat ditentukan, tetapi tentu saja kita berharap sama dengan yang sudah terjadi. Semoga. Peduli dan keberpihakan itu tetaplah diperlukan. Pun tidak kalah pentingnya peran dari Dewan Kesenian di masing-masing Kabupaten pelaksana.

Selain pembicara/pemakalah dari Kalsel sendiri ternyata Aruh Sastra Kalimantan Selatan telah pula menghadirkan beberapa sastrawan dari luar Kalsel, mereka adalah D. Zawawi Imron semula datang di Kandangan pada Aruh Sastra I. Kemudian bersama Sutardji Calzoum Bakhri, D. Zawawi Imron bertandang pula di Kotabaru pada Aruh Sastra III. Korie Rayun Rampan pada aruh di Amuntai. Maman S. Mahayana di Balangan, Abdul Hadi WM di Marabahan. Raudal Tanjung Banua di Tanjung. Kemudian Dimas Arika Miharja (Dr. Sudarjono, M.Pd) dari Jambi dan Akhmad Subhanudin Alwi dari Cirebon yang telah menyatakan siap hadir di Barabai (Aruh Sastra VIII tanggal 16 – 19 September 2011 ini).

Di sini menjadi penting untuk mendokumentasikan hal-hal yang berkenaan dengan Aruh Sastra, untuk membuka pemikiran tentang pernak-pernik Aruh Sastra Kalimantan Selatan ini, seperti dalam bentuk buku. Semoga gagasan pendokumentasian ini mampu memberikan inspirasi kepada pihak lain agar apa siapa bagaimana dan mau dibawa kemana Aruh Sastra itu sebenarnya. Sebaiknya ada yang memulai mengumpulkan kembali kertas kerja dari seluruh pembicara, termasuk di dalamnya keputusan-keputusan hasil musyawarah para sastrawan yang tertuang dalam bentuk rekomendasi di setiap akhir agenda aruh. Rekomendasi itu perlu dievaluasi tingkat capaian pelaksanaannya, seberapa jauh kekuatan serta daya dorongnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sastra dan kebersastraannya para pelaku, peminat dan pemerhati sastra di Kalimantan Selatan.

Dari 13 Kabupaten dan Kota, bila telah selesai bergulir di tahap pertama ini, maka adalah penting dirancang secara bersama-sama agar tahap kedua bergulir kembali karena dengan Aruh Sastra ini posisi sastra-kesastraan serta sastrawan Kalimantan Selatan dapat melanjutkan ‘napas kreatif’-nya, walau bukan bersifat mutlak adanya.

*) Ketua Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru, Pengelola TOSI: Taman Olah Sastra Indonesia.

**) Dimuat HU Radar Banjarmasin, 6 Agustus 2011: 3

ARUH SASTRA


Oleh Harie Insani Putra

ARANGKALI aruh sastra kembali asyik diperbincangkan, khususnya oleh para pelaku, penikmat dan pemerhati sastra di Kalsel. Lewat tulisan ini, saya nekat untuk menebak-nebak perbincangan apa saja yang sedang terjadi. O, ya. Namanya tebak-tebakan, maka tak menjamin kebenarannya.
Pertama, seputar agenda lomba Aruh Sastra. Saya yakin, lebih dari 500 orang saat ini di Kalsel sedang berdarah-darah menyiapkan naskah untuk diikutkan dalam agenda lomba Aruh Sastra. Entah itu berupa cerpen, puisi, cerita rakyat, atau sibuk latihan untuk lomba gelar sastra. Nah, pentingkah mengikuti lomba ini? Kita teruskan saja ke pertanyaan berikutnya. Andai tidak ada agenda lomba, apa yang terjadi dengan Aruh Sastra? Pertanyaan di atas tidak perlu buru-buru dicarikan jawabannya. Barangkali saya pun tak perlu menjawabnya pula.
Masih ada pertanyaan lagi yakni, melihat deretan panjang Aruh Sastra pertama hingga kini, maka apa yang sudah tercapai, dicapai dan ingin mencapai apa Aruh Sastra? Apakah sederet pertanyaan di atas juga masuk ke dalam bilik-bilik diskusi anda? Jangan-jangan tak ada yang mendiskusikannya!
Sampai detik ini, tentunya kita terus berharap perkembangan sastra di Kalsel terus menanjak. Untuk menilai berapa persen tanjakan yang telah dicapai memang perlu ekstra waktu untuk mengkajinya. Apakah ada yang merosot, terus menanjak naik, ataukah masih berdiri ditanjakan yang sama?
Dengan dilaksanakannya Aruh Sastra tahun ini, berarti event besar itu masih bertahan. Ini sebuah prestasi. Mundur atau majunya pelaksanaan Aruh Sastra dari tahun ke tahun, masing-masing pesertalah yang bisa menilai. Pastinya, saya berusaha memahami bahwa mustahil jika kemajuan sastra Kalsel justru menjadi tanggung jawab Aruh Sastra semata. Aruh Sastra hanyalah bagian dari akumulasi perkembangan sastra Kalsel itu sendiri. Masih banyak event sastra lain yang seharusnya tetap dipertahankan, atau justru menambah agenda baru.
Jika membandingkan nama-nama penulis karya sastra di koran selama ini dengan peserta lomba Aruh Sastra, lalu mempertanyakan kemana para peserta lomba itu sekarang karena tidak terlihat namanya di koran, bagi saya adalah kasuistis. Artinya, motivasi setiap orang berbeda. Ada yang bersastra demi lomba, ada yang tanpa lomba tapi mereka tetap bersastra, pun ada pula yang berlomba demi sastra. Gejala ini lazim terjadi dimana-mana. Meski begitu, tak ada salahnya berharap kepada mereka untuk meramaikan penulisan sastra di Kalsel dengan mempublikasikannya di koran. Itu jika mereka mau.
Saya setuju jika lomba adalah bagian motor penggerak iklim bersastra di Kalsel. Siapa pun yang melaksanakannya, saya anggap penting. Sampai di sini, Aruh Sastra sudah berusaha menangkap semangat itu. Hanya saja bagaimana melaksanakannya, itulah barangkali pokok persoalan yang perlu dicermati dengan serius. Alangkah sayangnya jika gawe besar justru hasil yang dicapai sangat kecil. Manajemen Event Organizer (EO) wajib diterapkan. Sekadar contoh, kasus sederhana adalah; aneh apabila panitia pelaksana tidak bisa menunjukkan tempat buang air kecil saat peserta ada yang membutuhkannya. Koordinasi merupakan bagian manajemen EO yang sering kedodoran. Tidak hanya dalam Aruh Sastra, tapi juga event lainnya di luar sastra. Akibatnya adalah, tak harus disebut gagal, tapi hasilnya tak maksimal. Bagi Aruh Sastra sendiri, dampak terburuk adalah, menurunnya kepercayaan orang terhadap kredibilitas Aruh Sastra itu sendiri.
Bagi saya, Aruh Sastra tak ubahnya sebuah nama. Pemilik nama itulah yang akhirnya menentukan ingin dinilai sebagai apa. Baik atau buruk, tergantung pelaksananya.
Jika pelaksananya bertekad mensukseskan Aruh Sastra dengan manajemen terbaik, koordinasi yang terpola, strategi yang jitu, maka perkembangan Aruh Sastra sudah tentu memberikan andil sangat penting untuk perkembangan sastra Kalsel. Itulah barangkali yang ingin dicapai. Setiap orang akan mengingatnya dengan baik bahwa Aruh Sastra itu teramatlah sayang untuk dilewatkan, sangatlah rugi jika tak diikuti. Sampai berjumpa di Aruh Sastra ke-8 di Barabai, HST (16-19 September 2011) mendatang. []

KARYA PUISI TERBAIK DIDOMINASI BATOLA


Marabahan, KP – Sepuluh dari hasil karya puisi terbaik, pada penyelenggaraan ‘Aruh Sastra’ VI Kalsel, yang dilaksanakan di Kabupaten Batola, dari tanggal 25 hingga 27 Desember 2009, tujuh puisi terbaik diraih warga Batola.
Kesepuluh karya puisi terbaik tersebut antara lain diraih oleh Arif Al Rifani, Aspihan, Komariah, Nasrullah, Nining Susanti, Nana Noraida, Syaifudin semuanya dari Batola, sedang tiganya diraih oleh Erika A dari Banjarmasin, Taufik dari HST dan Arif dari Banjarbaru.
Sementara, dalam festival dramatisasi puisi juara I diraih peserta dari Banjarbaru, juara II HSU, juara III Tabalong, sedang juara harapan I, II, dan III pemenangnya peserta dari Batola, Kotabaru dan HST, sedang juara favorit peserta dari Batola.
Untuk pemenang festival dramatisasi puisi ini, untuk juara I mendapatkan tropi dan uang pembinaan Rp2 juta, juara II Rp1,750 juta, juara III Rp1,5 juta, harapan I Rp1,3 juta, harapan II Rp1,150 juta dan harapan III Rp1 juta.
Sedang juara favorit hanya memperoleh tropi, sedang kesepuluh karya puisi terbaik diberikan uang masing-msing Rp500 ribu.
``Saya menyambut baik, atas dilaksanakannya aruh sastra VI Kalsel tahun 2009 ini, karena mempunyai nilai yang sangat penting dalam pengembangan budaya di tanah air, khususnya kebudayaan yang ada di Kalsel, lebih khusus lagi kebudayaan yang ada di Batola,’’ ujar Bupati H Hasanuddin Murad, dalam sambutannya pada penutupan aruh sastra tersebut, yang diwakili Sekda Supriyono, Minggu (27/12), di Marabahan.
``Melalui kegiatan ini, saya harapkan kita semua, khususnya generasi muda di Batola, dapat menggali dan mengenali berbagai budaya kita secara benar, serta dapat melestarikan budaya–budaya tersebut di masa yang akan datang,’’ sambung bupati, yang berharap agar kegiatan aruh sastra VI Kalsel ini, tidak semata-mata sebagai momentum untuk menerima secara pasif budaya yang telah ada, tetapi juga sebagai wadah untuk mempelajari berbagai kebudayaan dan lebih mematangkan kemampuan dalam mengapresiasikan kebudayaan tersebut.
``Hal lain yang harus menjadi perhatian serius para sastrawan dan budayawan di tanah air, khususnya sastrawan dan budayawan yang ada Kabupaten Batola adalah melindungi hak cipta kebudayaan daerah kita,’’ tandasnya.
Dari informasi yang didapat, pelaksanaan serupa pada tahun 2010 mendatang yakni aruh sastra ke VII diselenggarakan di Tabalong dan aruh sastra ke VIII pada tahun 2011 di HST. (yus/K-5)