jangan babisabisa mun kada tahu


Rabu, 10 Agustus 2011

ARUH SASTRA 2008 TUTUP MULUT


Oleh: HE. Benyamine

Kalimantan Selatan, tepatnya di Balangan, pada 12 sampai 14 Desember ini, akan berlangsung suatu perhelatan besar tentang sastra dan kesusastraan. Aruh Sastra V namanya. Bagi kalangan sastrawan dan penggiat sastra dan kesusastraan tentu sudah tidak asing lagi. Masyarakat umum pada saat ini hanya mendengar sayup-sayup, bahkan hampir tak terdengar, padahal acara tersebut merupakan moment yang sangat besar bagi perkembangan sastra dan kesusastraan di Kalsel, atau lebih kerennya merupakan ajang untuk menunjukkan adanya suatu gerak kemajuan dalam dunia sastra, khususnya di Kalsel.
Halaman Radar Banjarmasin Minggu, Cakrawala Sastra & Budaya, dalam beberapa minggu ini terakhir memang memuat hasil Lomba Cerpen dan Puisi Aruh Sastra 2008, namun masih saja terasa sepi dan senyap perjalanan menuju aruh sastra tersebut. Seakan, tiada hiruk pikuk dan berbagai kesibukan yang menandakan akan adanya suatu pertemuan (hajatan) besar dalam dunia sastra Kalsel di Balangan.
Memang ada perdebatan, atau lebih tepatnya gugatan, atas terbitnya Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (ESKS) dari Balai Bahasa Banjarmasin (BBB), yang juga menghiasi lembaran Carkrawala dalam beberapa bulan terakhir. Kehadiran ESKS yang sebenarnya sudah cukup untuk dimaklumi sebagai suatu kelahiran tidak normal dan membawa cacat bawaan, lebih cenderung mendominasi berbagai pembicaraan kalangan yang konsen terhadap sastra dan kesusastraan, dan terlalu banyak menyita kesempatan dalam ruang media yang terbatas hanya setiap Minggu, sehingga pra Aruh Sastra berlalu begitu saja tanpa ada pergulatan, pergumulan, perdebatan, lontaran ide dan gagasan, pandangan terhadap perkembangan dan pertumbuhan sastra dan kesusastraan sejak aruh sebelumnya, dan bagaimana harapan ke depan.
Perdebatan tentang kehadiran ESKS, berdasarkan tulisan di halaman Cakrawala, memberikan kesan terlalu membesarkan sesuatu yang sebenarnya hanya bagian sempit dan kecil dari dunia sastra Kalsel. Para peneliti sastra, tidak terlalu naif untuk hanya mempercayai satu ensiklopedia sebagai rujukan dalam penelitiannya, sehingga ESKS tidakalah mampu mewakili luasnya sastra dan kesusastraan Kalsel. Juga, cenderung memposisikan para sastrawan Kalsel sangat tergantung dengan pemerintah dalam melaksanakan aktivitas dan kegiatan sastra. Apalagi, perdebatan ini dapat dikatakan tidak terlalu relevan dengan hajatan besar masyarakat sastra Kalsel di Balangan.
Masyarakat sastra Kalsel sudah sepatutnya mengarahkan segenap hati dan pikirannya dalam menyongsong Aruh Sastra V di Balangan. Membongkar kemapanan sastra Kalsel dalam setahun terakhir, agar tercipta keadaan “berantakan” yang kemudian digulirkan dalam berbagai kesempatan dan media oleh para sastrawan, seniman, dan pekerja sastra untuk dipilah, dipisahkan, dikelompokkan, dan disusun kembali. Bagaimanapun, pembicaraan ESKS merupakan contoh yang cenderung kepada kemapanan sastra, sedangkan bentuk bukunya yang lahir cacat seakan telah mengganggu kemapanan tersebut.
Aruh Sastra V terlalu besar jika hanya sekedar hajatan “kumpul-kumpul” yang cenderung kangen-kangenan dan nostalgia dengan berbagai acara hiburan “ngesastra”. Hajatan besar ini harus mampu memunculkan “prahara budaya” yang terjadi di Kalsel, dan dimana posisi para sastrawan dan seniman di dalamnya. Para sastrawan, yang memilih posisi tertentu dengan konsekuensi peran yang harus dimainkan, harus mulai terlibat dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Kalsel. Pembicaraan pertumbuhan, pembinaan, dan perkembangan sastra di Kalsel biarlah menjadi lahannya komunitas kecil sastra dan berskala lokal atau daerah.
Sastrawan dan seniman Kalsel sudah saatnya menunjukkan keberpihakan kepada berbagai masalah kehidupan masyarakat, sekaligus sebagai cara “menginjakkan kaki” di bumi, terutama dalam ide dan gagasan yang dilanjutkan dengan sikap terhadap setiap persoalan yang “menghujam dan menikam” masyarakat. Hal ini memang mempunyai konsekuensi terjadinya hubungan yang kurang “harmonis” dengan pemangku kekuasaan, tetapi pilihan cara dan kecenderungan keterbukaan memberikan peluang untuk mengurangi ketidakharmonisan tersebut. Kemandirian sastrawan dan seniman menjadi penting artinya untuk diperjuangkan. Walaupun selama ini para sastrawan dan seniman berusaha menjalin hubungan baik dengan elit kekusaan, kepedulian pemerintah terhadap sastra tetap saja masih kalah sangat jauh bila dibandingkan dengan kegiatan olahraga.
Hajatan besar dari Aruh Sastra Kalsel I di Kandangan, HSS (2004), Aruh Sastra Kalsel II di Pagatan, Tanah Bumbu (2005), dan Aruh Sastra Kalsel III di Kotabaru, Kotabaru (2006), hingga Aruh Sastra Kalsel IV di Amuntai, Hulu Sungai Utara masih belum mampu memperlihatkan suatu pilihan peran dan sikap dari para sastrawan dan seniman sebagai bagian dari masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan bersama yang lebih baik. Sebagai bagian masyarakat dan sebagai entitas bebas yang sadar, para sastrawan dan seniman, haruslah terlibat dalam memperjuangkan kebaikan bersama, karena bila masyarakat menjadi sejahtera secara otomatis sastrawan dan seniman termasuk di dalamnya.
Aruh Sastra V jelas bukan hajatan besar untuk tutup mulut. Bersuaralah, bersuaralah dengan lantang, karena banyak yang tidak mampu bersuara sebagaimana sastrawan dan seniman. Para sastrawan dan seniman serta pencinta sastra dan seni, berkumpul untuk suatu hal yang besar sebagai ajang tahunan, yang tentunya digagas untuk “memercikkan cahaya” dalam berbagai kesadaran tentang situasi dan kondisi daerah. Jelas, harapan besar dibebankan kepada Aruh Sastra V, agar hajatan besar ini menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat, memberikan cahaya penyadaran kepada masyarakat, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk meraih kesejahteraan yang semestinya. Selamat, sukses Aruh Sastra!

Radar Banjarmasin, 13 Desember 2008: 3

MEMANDANG BANJAR SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN (Aruh Sastra VI Batola)


Oleh: HE. Benyamine

Hajatan tahunan sastra di Kalimatan Selatan sedang dipersiapkan pelaksanaannya. Aruh Sastra VI telah ditetapkan penyelenggaraannya di Batola sejak Aruh Sastra V Balangan, setahun berjalan, waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan “perjalanan menuju” menghidupkan sastra dan sekaligus membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan; karena merupakan titik di mana tercipta dan berkembangnya budaya Banjar itu sendiri.

Aruh Sastra VI Batola terkesan masih sebagai acara tahunan yang pelaksanaannya hanya pada saat dilaksanakan acara tersebut. Pelaksana yang ditunjuk, sejauh yang dapat diketahui, terlihat tidak memanfaatkan waktu yang panjang dengan berbagai aktivitas dan gerakan dalam sastra dan budaya untuk menuju hari pelaksanaannya. Atau, aktivitas dan gerakan sastra dan budaya lebih banyak yang tersembunyi dan hanya untuk kalangan terbatas untuk mengatakan bahwa sebenarnya sastra dan budaya masih berdetak kehidupannya di banua ini.

Pelaksanaan Aruh Sastra selanjutnya perlu memikirkan bagaimana memanfaatkan waktu yang panjang hingga menjelang aruh selanjutnya, tidak hanya diserahkan pada panitia pelaksana yang ditunjuk sebagai tuan rumah, tapi melibatkan semua untuk bersama dalam gerak budaya ini, karena kegiatan ini merupakan acara tahunan yang strategis dalam membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan bagi segala daya hidup untuk kebudayaan Banjar itu sendiri.

Banjar sebagai pusat kebudayaan bagi kebudayaan Banjar, tidak menapikkan perkembangan kebudayaan lain yang menjadi pusat sendiri bagi kebudayaan yang bersangkutan. Dalam bersikap dan bertindak, manusia Banjar harus menyadari bahwa mereka berada di pusat kebudayaan mereka sendiri, yang bangga dengan segala daya cipta dan karya yang dihasilkannya. Dengan menyatakan diri dalam dan berada di pusat kebudayaan sendiri, yang mengacu pada di mana manusia Banjar itu berdiri sebagai titik acuannya dalam memandang dunia sekitarnya dan dunia di luarnya, tentu tidak ada dan perlu lagi pertanyaan “mana karya sastra manusia Banjar yang diakui pusat (misalnya Jakarta)?” untuk menujukkan eksistensi diri.

Manusia Banjar yang tidak mengarahkan pandangannya dalam gerak Banjar sebagai pusat kebudayaan, sama saja menyatakan bahwa kebudayaan Banjar tidak patut lagi hidup atau memang sudah terhenti detak kebudayaannya, karena mereka telah hidup dan berkehidupan dengan budaya lain meskipun berada di tanah Banjar, yang selalu mengacu pada bagaimana pusat kebudayaan di luarnya memberikan pengakuan terhadap eksistensinya. Dalam hal ini, meminjam ungkapan tentang bagaiman terhormatnya seseorang yang menjadi kepala dalam bisnis kecil yang dijalankannya daripada besar dalam perusahaan besar tetapi menjadi ekor. Di sini, ada suatu kebanggaan terhadap hasil karya dan daya cipta sendiri, yang terwujud dalam bagaimana cara memandang berdasarkan semangat budaya sendiri sebagai pusat kebudayaan.

Dalam hal karya, membandingkan dengan hasil karya budaya lain memang perlu dan baik, tetapi tidak dengan menghilangkan sandaran budaya suatu karya itu tercipta atau diciptakan. Biarpun hasilnya tidak sebanding dengan perkembangan hasil karya dari budaya luar, tidak seharusnya menjadikan manusia di dalamnya lebih rendah atau merendahkan diri atas hasil karya sendiri. Perbandingan hasil karya, ataupun pengakuan dari luar, tidak lebih dari upaya penyadaran untuk terus berkarya dengan mengacu pada di mana manusia tersebut berada dalam memandang dunia di sekitar dan di luarnya.

Untuk membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, yang keberadaanya sudah ada dengan berbagai hasil karya kebudayaan; hanya dilanjutkan generasi berikutnya, tentu mempunyai berbagai hambatan, yang utama antara lain: (1) kesadaran pemegang kekuasaan di daerah betapa sangat pentingnya kebudayaan tidak terlihat, (2) keberpihakan elit kekuasaan untuk kegiatan budaya hanya ditunjukkan saat diperlukan untuk kepentingan sesaat, (3) kepala daerah kurang atau tidak sama sekali mau mengerti dan memahami arti penting kebudayaan bagi dasar program pemerintahannya, dan (4) pemerintah daerah tidak mempunyai pemihakan dalam anggaran untuk kegiatan budaya. Hambatan juga bisa dari kalangan yang bergerak dalam bidang kebudayaan itu sendiri, namun hambatan ini cenderung bergantung pada kesadaran pemerintah daerah.

Hambatan dari pemerintah daerah dan elit kekuasaan daerah di atas, menyebabkan kebudayaan Banjar menjadi terkendala dan bahkan bisa terhenti, yang secara tidak langsung memberikan peluang tumbuh dan berkembangnya budaya yang sangat bergantung dengan perkembangan budaya yang menjadi rujukannya. Hal ini dapat lebih berkembang pada elit kekuasaan di daerah, sehingga mereka cenderung melupakan hidup dan berkembangnya kebudayaan sendiri, seperti terlihat pada tiadanya sensitivitas terhadap bangunan pemerintah yang sangat mengacu pada arsitektur luar.

Dalam hal anggaran untuk kegiatan budaya, pemerintah daerah (provensi dan kabupaten/kota) tidak bisa diharapkan keberpihakannya, seakan kegiatan budaya tersebut tidak mempunyai hubungan penting dan bermakna dalam membangkitkan semangat dalam pembangunan dan menunjang keberhasilan program pemerintah. Elit kekuasaan daerah juga cenderung tidak peduli, jika kepala daerah berupaya memperjuangkan anggaran untuk kegiatan budaya. Jelas terlihat betapa kegiatan budaya, seperti sastra dan kesenian, tidak dapat dipahami dan dimengerti oleh elit kekuasaan sebagai bagian penting dalam gerak kemajuan. Kemungkinan besar, sebagian peserta Aruh Sastra VI Batola kurang mendapat perhatian dan bantuan fasilitas dari daerah masing-masing dalam mengikuti acara tersebut, karena alasan yang sangat tidak peka dan mengada-ngada.

Seandainya, kegiatan budaya disadari sebagai suatu kegiatan yang penting dalam pembangunan dan pemerintah merasa berkepentingan dengan kegiatan tersebut, tentu tidaklah sulit untuk membantu para peserta yang akan berangkat ke Batola (bahkan dengan uang saku) dan memberikan tugas kepada guru-guru bahasa atau mata pelajaran sastra atau muatan lokal (SD/MI – SMA/Sederajat) di daerah masing-masing melalui dinas terkait untuk mengikuti acara Aruh Sastra. Apalagi kegiatan ini diselenggarakan setahun sekali, yang tentu dapat memberikan suatu penyegaran dan pengayaan guru-guru tersebut, dengan harapan para guru tersebut termotivasi untuk membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan yang hanya dapat diwujudkan bila terus berkarya.

Dalam upaya membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, manusia Banjar harus menyadari bahwa dirinya yang memandang dunia di sekitar dan di luarnya. Selama manusia Banjar menyadari bahwa dirinya yang terikat dengan budaya Banjar terus menciptakan karya sastra, maka tidak berlebihan jika dia menganggap dirinya sebagai pusat pandang dalam dunia sastra yang dihasilkannya, terlepas itu bisa diterima penerbitan di luar (seperti Jakarta sebagai pusat yang lain) atau tidak diakui sebagai karya sastra yang bermutu.

Pada Aruh Sastra VI Batola, menjadi tawaran wacana yang penting bagaimana membangkitkan visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, karena Banjar sebagai suatu kebudayaan tentu masih diharapkan mampu terus menjadi sistem nilai budaya yang hidup dan berkembang. Sebagai pusat kebudayaan sendiri, sekecil apapun adanya, ia tetap merupakan suatu bentuk dan roh yang hidup dalam kehidupan manusia Banjar.

Jadi, sangat banyak harapan dalam hajatan Aruh Sastra, untuk terus menghidupkan budaya dan membangkitkan semangat visi Banjar sebagai pusat kebudayaan, dengan mendorong dan mendukung dalam berkarya dan berbuat dengan cara pandang sendiri, sebagai manusia Banjar yang juga mempunyai pandangan terhadap dunia. Biarlah orang luar atau manusia Banjar sendiri yang melihat adanya sinar dari tanah Banjar, redup atau terang, itulah karya dari manusia Banjar yang terus bergerak dan berproses dalam kebudayaan sendiri.

(Radar Banjarmasin, 2 Desember 2009:3)





ARUH SASTRA VII TANJUNG 2010 : SARABA KAWA


Oleh: HE. Benyamine

Pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 di Tanjung, Kabupaten Tabalong, menandai telah berlalunya setahun dari pelaksanaan Aruh Sastra tahun sebelumnya. Pelaksanaannya berlangsung dari tanggal 26 – 28 November 2010 dengan tema “Saraba Kawa: Menjunjung Kesenian, Bahasa, dan Sastra Daerah”, yang memperlihatkan adanya semangat dalam mengapresiasi daya cipta dan karya yang dilahirkan dari daerah sendiri; terutama kesenian, bahasa, dan sastra.

Dalam perjalanan satu tahun setelah Aruh Sastra VI Batola 2009, tentu telah banyak karya yang berhubungan dengan kesenian, bahasa, dan sastra yang dilahirkan oleh para pelaku, baik yang telah lama bergumul maupun yang baru terlibat dengan kegiatan pengembangan daya cipta dan kreativitas dalam bidang-bidang tersebut. Misalnya, seperti penerbitan buku-buku dari masing-masing daerah (kabupaten/kota) yang terkait dengan dilaksanakannya Aruh Sastra tersebut. Karena, berdasarkan hasil karya dan kreativitas tersebut yang dapat membukakan berbagai kemungkinan apresiasi dan membuka jalan untuk menjunjung suatu karya sebagai membanggakan. Bagaimana mungkin kita menjunjung sesuatu yang sama dari tahun ke tahun, dan seandainya ada yang baru itupun hanya sebagian daerah yang terlihat dapat mempertunjukkan hasil karya dan kreativitas, seperti dalam bentuk buku tersebut.

Daerah (kabupaten/kota) yang belum memperlihatkan hasil karya sebagaimana yang ingin dijunjung dalam semangat Aruh Sastra, atau masih bangga dengan yang sudah ada, sudah selayaknya dapat menunjukkan adanya peningkatan kualitas karena dalam hal kuantitas belum tergarap. Karena, pelaksanaan aruh sastra ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga dan penting dalam hal pemberian apresiasi dan pertukaran semangat untuk terus meningkatkan daya cipta dan karya serta kreativitas. Memang, apresiasi terhadap suatu karya dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun dalam aruh sastra lebih memberikan penguatan yang berbeda dengan bertemunya dari berbagai daerah.

Dalam beberapa kesempatan di media massa, terlihat ada beberapa pemerintah daerah yang begitu antusias dengan pelaksanaan aruh sastra, yang memberikan penegasan dukungan terhadap warga masyarakatnya yang akan menjadi utusan daerahnya, tentu hal tersebut memperlihatkan adanya kesadaran betapa pentingnya kegiatan aruh sastra dan berbagai hal yang menjadi dasarnya, yaitu: kesenian, bahasa, dan sastra. Mungkin, daerah yang lain juga telah mempersiapkan diri tetapi tidak terekspos di media massa, sehingga tidak terlihat bagaimana sikap pemerintah daerahnya terhadap event seperti aruh sastra ini.

Perhatian pemerintah daerah (kabupaten/kota) dalam pelaksanaan aruh sastra, apalagi berusaha memberikan peluang dan fasilitas kepada warganya (khususnya para pelaku) untuk menjadi peserta aktif, menunjukkan bahwa pemerintah daerah tersebut menyadari tentang kesenian, bahasa, dan sastra daerah merupakan bagian penting dari pembangunan, yang bahkan dapat menjadi dasar dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Hal ini juga berhubungan dengan kesadaran bahwa daerah sangat berkepentingan dengan daya cipta dan kreativitas warganya, yang merupakan penanda adanya perkembangan dan kemajuan suatu daerah dalam pelaksanaan pembangunan.

Daya cipta dan kreativitas selalu mengarahkan pada munculnya nilai tambah, yang mendorong tumbuhnya berbagai peluang baru dalam mengoptimalkan pemanfaatan bahan mentah atau nilai budaya yang ada untuk lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Di sini, terlihat bagaimana panitia pelaksana Aruh Sastra 2010, telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengarahkan peluang daya cipta dan kreativitas dengan memilih tema yang menjunjung kesenian, bahasa, dan sastra daerah. Karena, hal itu berhubungan dengan cara pandang manusia di daerah ini dalam daya cipta dan kreativitas, yang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh memang sepatutnya dijunjung dan sanjung.

Jadi, pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 Tanjung seharusnya mendapatkan perhatian pemerintah daerah (kabupaten/kota) dan pemerintah provinsi, karena daya cipta dan kreativitas yang dapat mengangkat daerah dan menjadi pembeda, yang sekaligus menjadi ukuran bagi daerah masing-masing dalam melihat dan memperhatikan denyut kehidupan kesenian, bahasa, dan sastra yang selama ini berlangsung. Apalagi, apa yang menjadi fokus aruh sastra sebenarnya sangat berhubungan dengan dinas pendidikan, pariwisata dan budaya, dan perindustrian, yang tentu sangat berkepentingan untuk kemajuan daerah masing-masing. Semua itu berhubungan dengan daya cipta dan kreativitas sebagai keniscayaan untuk dikatakan adanya keberhasilan dan pencapaian tujuan. Semua itu yang memberikan peluang dan kemungkinan Saraba Kawa sebagaimana tema aruh sastra kali ini. Selamat untuk pertemuan daya cipta dan kreativitas.

(Radar Banjarmasin, 26 November 2010: 3)




GAGASAN DARI PERISTIWA SASTRA


Oleh: Ali Syamsudin Arsi

SEKALI WAKTU saya ikut bergabung dengan Abang Erwin Dede Nugroho (Bang Erwin) yang Pemimpin Redaksi koran ini, biasanya di sana juga ada Abang Ogi Fajar Nujuli (Bang Ogi) yang di hadapanku berkapasitas sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, tidaklah berlebihan bila sekali waktu terlontar juga uneg-uneg yang telah lama ingin dikemukakan, dari banyak hal mungkin yang satu ini saya anggap paling penting, yaitu tentang sebuah upaya lebih tinggi terhadap motivasi menulis sastra di koran ini (Radar Banjarmasin): Honor, ya tidak lain soal honor. Ketika menyampaikan permohonan agar honor menulis sastra diperhatikan dengan adanya kenaikkan nilai rupiahnya, dalam hati, saya menjadi ingat kepada dangsanak Sandi Firly yang bertindak sebagai penjaga gawang dua halaman Sastra & Budaya, saya berdoa pada waktu itu, semoga Sandi dalam keadaan sehat dan sukses selalu. “Berapa sebaiknya honor menulis sastra itu ditingkatkan?”Tanya Bang Erwin mencoba (seperti) mau tahu.”Yaah, cobalah sedikit dinaikkan menjadi seratus ribu untuk sekali dimuat tulisan itu, “ jawab saya penuh harap. Dalam hati saya, sambil mengkalkulasikan semisal sepuluh kali dalam setahun kan lumayan juga jumlahnya. Jawaban yang didapat adalah,”nanti akan dibicarakan.” Saya pun berdoa, sampai sekarang, “moga saja terkabul bahkan sampai ke angka lima ratus ribu rupiah.” Ketika pulang dari begadang malam itu, di kepala saya ada kalimat, mimpi apa lagi yang hadir dari peristiwa demi peristiwa yang saya anggap sebagai salah satu peristiwa sastra, secara pribadi merupakan akumulasi keinginan untuk meramaikan dunia kecil yang bernama sastra di daerah ini atau katakan saja di kota kita masing-masing di propinsi paling selatan pulau Kalimantan. Padahal wilayah Kalimantan Selatan sangat diperhitungkan dibanding wilayah lain sepulau karena alasan jumlah pegiat sastranya, untuk kualitas pun tidaklah mengecewakan. Untuk peta kesastraan wilayah ini cukup terwakili di setiap kabupaten dan kota karena adanya orang-orang yang selalu bergairah dalam setiap kegiatan sastra.


DI WAKTU YANG LAIN ketika saya bersama M. Rifani Djamhari serta Syaefuddin menghadiri acara dengan bentangan spanduk bertulis huruf besar, DIALOG SASTRAWAN KALIMANTAN, di Samarinda pada hari Sabtu tanggal 9 Desember 2006 yang telah lewat, ada yang menarik ketika seorang pembicara memaparkan gagasannya. Gagasan itu menarik dan lumayan unik tetapi rada-rada sulit direalisasikan. Tetapi tidaklah salah bila itu pun mendapat porsi untuk disikapi bersama. Adalah sebuah usul yang dilontarkan oleh Kepala Kantor Bahasa Kaltim, agar persoalan tulis menulis sastra dan bahasa mendapat tempat di setiap penerbitan koran-koran yang ada di Samarinda atau Kalimantan Timur, dan urusan honor akan disediakan oleh pihak kantor Bahasa Kaltim. Wah, saya langsung merespon dengan senyum seraya kening berkerut, apa mungkin itu, tetapi bagus juga gagasan Anda Bung!!! Adalah Drs. Pardi, M.Hum. yang bertindak sebagai penanggung-jawab pertemuan itu sambil berdiri menawarkan sebuah kerja sama. Saya tidak memperhatikan lagi apa yang diutarakan oleh Bung Syafril Teha Noer yang dihadirkan dari unsur penerbitan (wartawan Kaltim Post). Saya lebih tersedot pemikiran tentang tawaran kerja sama itu daripada paparan untung ruginya bisnis penerbitan sebagai proses yang sangat ketat dalam persaingan. Walau saya tahu bahwa paparan Bung Syafril adalah paparan cerdas dalam bidang yang digeluti beliau yang intinya tidak jauh beda dengan alasan Sandi Firly, bahwa hanya halaman Sastra & Budaya saja yang menyediakan honor di koran Radar Banjarmasin. Sementara rubrik lain tidak sama sekali, pun untuk opini. Nah, bagaimana dengan gagasan kerja sama tadi, berbesar hatikah pihak Balai Bahasa Banjarmasin bila ada tulisan sastra dan bahasa yang terbit di koran untuk memberikan kontribusi honornya ? Besarkah pertanyaan ini, akh tidak juga, tetapi cukup melapangkan bila memang apresiasi terhadap tulisan dan penghidupan penulisnya dimulai dari honor yang lumayan besar agar pemenuhan kebutuhan penulis dapat terpenuhi. Mimpi apa lagi yang bergelantungan di ujung rambutku ketika pulang dari Samarinda itu.


WAKTU USAI MAGHRIB saya ditunggu Bapak Mugeni, Kepala Balai Bahasa Banjarmasin di sebuah tempat, sambil makan malam beliau bercerita banyak tentang komitmen balai yang dipimpin beliau dalam mengembangkan kehidupan Sastra dan Bahasa di wilayah Kalimantan Selatan ini. Saya sangat suka itu. Saya merespon positif segala upaya itu
Saya buktikan respon positif itu dengan kesediaan saya ikut bergabung menjadi pembimbing kegiatan Bengkel Sastra yang diadakan di berbagai daerah di Kalsel ini, yaitu mulai dari Rantau, Tanjung, Pelaihari, Barabai, dan Marabahan, selain di Banjarbaru dan Martapura. Sebenarnya menurut beliau gagasan untuk Dialog Sastrawan Kalimantan itu diilhami dengan adanya Aruh Sastra yang ada di wilayah kita yang setiap tahun dilaksanakan dengan tempat pelaksanaan secara bergilir dari satu kabupaten atau kota yang ada di Propinsi Kalsel. Jadi, semacam Aruh Sastra-nya Kalimantan. Wah, gagasan yang patut direalisasikan untuk tahun-tahun ke depan. Pasti ada gairah baru yang lebih besar lagi dalam dunia planet sastra kita di pulau ini. Lalu, apa siapa bagaimana dan untuk apa, itu urusan yang harus dimusyawarahkan dengan pihak-pihak lain. Dinas Pendidikan, adakah andilnya dalam hal ini. Dinas Pariwisata dan Budaya, adakah gelitik hati untuk bersanding dalam acara ini. Bagaimana dengan pemerintah propinsi atau kabupaten bahkan pemerintah kota. Hai hai. Saya melihat acara yang mulai dibangun di Samarinda itu adalah awal yang baik dan saya katakan juga bahwa saya sepakat bila itu dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan cara berpindah tempat penyelenggaraan. Bagaimana dengan angka tahun 2007 ? Adalah sangat bagus bila mampu disinergikan dengan agenda sastra yang terjadi pada tahun depan di Kalsel. Sangat bagus bahkan.

KURUN WAKTU TAHUN 2007 tidaklah lama lagi. Pertama. Bergulirnya agenda Aruh Sastra untuk pelaksanaan yang ke-4 di Amuntai, Hulu Sungai Utara, memberikan kesan sangat dalam dan dapat dijadikan tolak ukur tentang sejauh mana geliat sastra di Kalsel ini. Kepada Bapak Harun al-Rasyid yang bertindak sebagai tokoh nomor satu di Amuntai sekarang pada agenda aruh tersebut saya menyarankan beberapa hal yang perlu dipikirkan kembali acaranya. Mata acara yang sangat menjadi perhatian saya adalah Festival Pagelaran Sastra. Saya melihatnya dari sudut yang boleh jadi berbeda dengan rekan pegiat sastra lain. Saya melihat masing-masing peserta membawa konsep pemahamannya ke atas panggung yang belum tentu sama dengan konsep yang ada di benak para juri. Apalagi semua juri berangkat dari ketidakterwakilan pada seluruh peserta. Ini bukan berarti saya meragukan kemampuan ketiga juri pada waktu itu, mereka masing-masing adalah pakar sastra yang boleh dipercaya pada bidangnya. Tetapi apakah mereka telah memahami benar tentang apa yang sedang terjadi pada saat itu. Adalah di rumah M. Rifani Djamhari saya katakan kepada salah satu unsur panitia Aruh Sastra ke-3 kemarin, begini, “berkaca dari pelaksanaan Aruh Sastra ke-2 di Pagatan, maka saya berkesimpulan bahwa para sastrawan datang ke tempat yang jauh itu, tempat diadakannya aruh itu, adalah sangat diharapkan mereka tampil, walau sekedar membaca puisi atau cerpen. Jadi, bukan yang tampil itu para penari atau para pemain drama. Sekali lagi yang ingin tampil itu adalah para Sastrawannya. Artinya, penampilan para sastrawan itu menjadi pokok acara, bukan sebagai tempelan pengisi acara di sela-sela acara lain” Boleh jadi ada yang beralasan bahwa bentuk festival pagelaran sastra itu untuk lebih melebarkan sayap ke wilayah lain, agar sastra menjadi lebih beragam cakupannya. Saya tidak menolak festival itu, tetapi formatnya yang lebih baik menurut saya tidak untuk dilombakan, tidak untuk difestivalkan, tetapi cukup untuk pengisi acara di antara acara Sastranya sendiri. Bahkan boleh saja bentuk festival itu ditiadakan sama sekali. Saya melihat kebermaknaan sastra akan lebih dekat dengan bentuk lain seperti musikalisasi puisi atau visualisasi cerpen. Oke, itu hanya sebagai masukkan kepada panitia pelaksana. Aruh Sastra adalah sebuah kerja akbar, jadi, selalu berkoordinasi dengan pihak lain adalah sebuah keharusan. Persiapannya pun tidak bisa hanya sebulan atau dua bulan, paling tidak perlu waktu 6 bulan sebelumnya, karena ada mata acara yang memerlukan waktu persiapan lebih jauh terutama publikasinya, seperti mata acara Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen, juga Pembuatan Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan. Kedua. Adanya rekomendasi dari Kongres Cerpen Indonesia di Riau yang mempercayakan kepada rekan-rekan di Kalsel sebagai tempat pelaksanaan Kongres Cerpen Indonesia pada tahun 2007 adalah sebuah agenda sastra yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Pada hal ini saya belum bisa memberikan kontribusi gagasan lebih banyak karena memang saya sendiri tidak terlibat secara langsung apa yang terjadi, walau pun ketika saya menghubungi Saudara Raudal Tanjung Banua disarankan olehnya untuk berangkat saja ke Riau nanti segala sesuatu bisa dia bantu urus di sana, tetapi aku katakan nanti sajalah. Ketiga. Apabila pihak Balai Bahasa Banjarmasin jeli melihat ini sebagai agenda sastra yang mampu memberikan warna dari kedua agenda sastra di atas maka ini harus mereka upayakan agar pelaksanaan Dialog Sastrawan Kalimantan dapat dilaksanakan di Kalimantan Selatan. Untuk agenda ini saran saya terfokus kepada para pembicara sebagai narasumber, saya katakan kepada kakawanan di Banjarbaru bahwa harus ada pembagian jumlah, yang ideal menurut saya adalah 10 orang pembicara. Empat dari tuan rumah, lalu dua pembicara dari masing-masing Propinsi tamu. Pada intinya para pembicara harus mampu menyuarakan peta sastra di masing-masing propinsi yang ada di Kalimantan, agar mampu menguak tirai-tirai sastra di masing-masing tempat, bukan seperti yang terjadi di Samarinda (Kaltim) yang pada simpulan saya adalah bagaimana cara kita (kalau tidak dikatakan mereka) untuk memajukan kesastraan di Kaltim, karena dari semua pembicara tidak ada yang menyampaikan peta sastra Kalimantan secara umum di dalam kertas kerjanya. Agenda ketiga ini kita berharap banyak, sekali lagi, agar dapat diupayakan oleh pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Bagaimana Bapak Mugeni, saya bertanya, ketika angin berhembus pelan di ujung daun telinga dan orang-orang sedang menikmati jagung bakar di lapangan Murdjani. (Saya jadi teringat betapa nikmatnya duduk santai di Tepian Mahakam yang membentang sepanjang bantaran Sungai Mahakam di pusat kota Samarinda bersama gemerlap lampu yang memantul di permukaan sungai, bergabung juga keluarga Mugiharto Wakhmadi, S.S, keluarga yang kami tempati bertiga, sebagai kenalan kami di kota Samarinda).Keempat. Agenda ini sebenarnya sudah rutin dilaksanakan di kota Banjarbaru, yaitu Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra. Memasuki tahun 2007 ia akan menjadi tahun ke-4 pelaksanaan yang bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan.Kami telah menambah mata acara Lomba Baca Puisi Islami se-Kalimantan Selatan pada tahun 2006 di bulan Oktober yang baru lewat. Sebenarnya ada satu agenda yang belum terlaksana, yang ketika saya konsultasikan dengan Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, Bang Ogi, yaitu mengundang sastrawan luar pulau Kalimantan, dan saya sudah kontak rekan penyair Acep Zamzam Noor, redaktur budaya Ahmadun Y Herfanda serta rekan Hasif Amini, tetapi maaf rencana ini belum dapat terlaksana. Moga saja di lain waktu dapat terwujud, mimpi itu perlu walau untuk mewujudkannya haruslah pula berkaca kepada realita.


Waktu pun bergulir dan terus bergulir, tidaklah mampu dibendung, bahkan oleh kita sendiri. Karena barang siapa yang dapat mengikuti irama dari pergerakkan arus waktu itu maka yakinkan saja ia akan dapat menemukan muara-muara yang membahagiakan baginya atau juga bagi orang lain. Nah, bila di waktu yang berangka tahun 2007 dapat kita laksanakan agenda sastra seperti yang saya tuliskan di atas maka Kalimantan Selatan boleh saja menjadikan tahun itu sebagai Tahun Sastra. Tentu saja kita tidak boleh mengabaikan agenda-agenda sastra lain, seperti rutinnya Lomba MusikalisasiPuisi di STIKIP PGRI Banjarmasin, Bengkel Sastra oleh Balai Bahasa Banjarmasin, SSSI di (tiga kota: Banjarmasin, Martapura dan Kotabaru). Lalu saya menatap kepada Bang Erwin dan Sandi, dalam hatiku, terkabul jugakah tawaranku seperti tawaran rekan-rekanku yang lain tentang kenaikkan honor itu.Ataukah kita atur bersama-sama, karena alasan kualitas tulisan sangat berperan di dalamnya? Malam telah larut,saya pulang ke rumah, tertangkap serpih-serpih embun di daun pintu, pagi hampir tiba menyeruak dan kita membawa harapan masing-masing di telapak tangan terbuka tengadah. Hanya kepada Tuhan permohonan demi permohonan di panjatkan, tetapi jika boleh menawarkan maka itulah tawaran yang paling mulia untuk dapat memulai ke arah yang lebih baik. Demi kita semua. Amin.

ALAM SEKITAR DI MATA PENYAIR KALSEL


Oleh: Ali Syamsudin Arsi

Di buku kumpulan puisi Tarian Cahaya di Bumi Sanggam, menampakkan data yang cukup menarik diperhatikan adalah puisi-puisi bertema ‘alam sekitar atau lingkungan’. Buku yang digagas berdasarkan pelaksanaan akbar Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-5 tahun 2008 di Kabupaten Balangan, dan kota Paringin sebagai tempatnya semua rangkaian kegiatan. Menarik untuk ditelisik, buku setebal 260 itu menampung 86 penulis dengan 187 puisi. Dari jumlah itu terlihat ada 76 puisi bertema atau mengandung tafsiran alam sekitar atau lingkungan yang diciptakan oleh 50 orang penulis.

Menurut telisik saya, tema alam sekitar atau lingkungan dimaksud adalah adanya keterkaitan kata-kata beridentifikasi alam sekitar atau lingkungan di dalam puisi tersebut. Kata-kata beridentifikasi itu (1) ada yang secara utuh sejalan dengan tema alam sekitar atau lingkungan, dan (2) sebagai metafor atau idiom-idiom yang dapat saja menghadirkan tafsiran lain, selain makna denotasinya.

Data yang saya dapat sejumlah puisi dengan kandungan tema alam sekitar atau lingkungan tersebut adalah sebagai berikut: Selepas dari hutan (Taufiq Ht), Ketika aku berjalan menembus hutan; Ketika aku berjalan menyusur sungai; Ketika aku berjalan menyisir pantai (Tarman Effendi Tarsyad), Biografi kayu gelondongan; Biografi deru mesin; Biografi sungai mengalir (Tajuddin Noor Ganie), Wajah (Syafiqotul Machmudah), Tentang aku dan sajak (Sandi Firly), Sketsa (Rosydi Aryadi Saleh), Sajak pembebasan; Berlari bersama angin (Robby Syachra), Sebab hujan adalah pertemuan kita (Ratih Ayuningrum), Dulu aku pernah melukis langit (Rahmiyati), Raja gundul; Nyanyian hutan larangan (R. Syamsuri Saberi), Kepada kawan segenggam pasir; Kembang hidupku (Oka Miharja S), Dari puncak gunung hauk kulihat dia (Murjani Hasan), Laskar embun; Buram (Misbah Munir Akhdy), Gerimis kehidupan (Muhammad Noor), SOS kalimantan selatan; Hutan di mataku; Reportase dari kaki pegunungan meratus (Micky Hidayat), Jadikan kuda sumbawa (Meylida Mayangsari), Di batas laut saijaan; Gunung batu aji (Mas Alkalani Muchtar), Alia cikini 702; Dalam malam Jakarta (Maman S. Tawie), Duka meratus (M. Sulaiman Najam), Jamban (M. Nahdiansyah Abdi), Setelah pagi tiba (Lilies MS), Pada kerinduan (Isuur Loeweng S), Kenalkan laut padaku; Pada keasinan yang sama; Sebelum kau datang (Imra’atul Jannah), Amsal sebatang pohon; Balangan (Ibramsyah Amandit), Diam-diam berubah menjadi (Hudan Nur), Ritus meratus (Hardiansyah Asmail), Putihnya harap (Hamami Adaby), Potret ayah (Haliem Kr), Terbujur-halang menahan rindu; Gunung, laut, dan lelaki; Kerikil logam api (Hajriansyah), Sungaiku (H. Rizhanuddin Rangga), Kau jangan latah (Fitri Yani), Tuhan; Darah impian (Fahrurraji Asmuni), Sebuah mimpi (Fahmi Wahid), Sajak tentang bunga (Embeka), Sebelum halimun (Eko Suryadi WS), Karang bolong dini hari (Eddy Wahyudin SP), Persembahanku (Dwi Upayani), Salju turun di senja martapura; Bougenville (Dewi Alfiani), Loksado; Potret kehilangan (Burhanuddin Soebely), Sebuah dangau di tengah telaga; Dari tanganmu bunga-bunga berdaun kematian (Aspihan N Hidin), Reruntuhan pagi; Reruntuhan hujan (Arsyad Indradi), Aku menyimpan laut; Langgam bumi sanggam (Ariffin Noor Hasby), Lautku (Andi Jamaluddin Ar Ak), Surat putih seberang selat (Ali Syamsudin Arsi), Tadarus ombak (Aliman Syahrani), Menunggu hujan tumpah dalam puisiku (Abdurrahan el-Husaini), Gundah (A. Tajuddin Bacco), Jemari lembut; Gundah (A. Syarmidin), Nature in destruction; Surat cinta (A. Rahman al-Hakim), Episode perjalanan; Di dermaga Margasari suatu siang (A. Kusairi).

Sederet daftar puisi yang saya tulis berdasarkan judulnya di atas sebenarnya dapat saja tidak sebanyak itu bila ditelisik berdasarkan tema dengan penekanan ‘harus’ masalah alam sekitar atau lingkungan karena sejumlah puisi yang secara utuh membicarakan atau dengan sengaja bertemakan alam sekitar atau lingkungan masih dapat dipilah lagi darinya. Hanya saja ada kecenderungan, walau hanya berupa kelompok kata atau sebaris kata-kata atau pun hanya sebait, saya katagorikan (sementara) bahwa puisi itu mengandung ‘nilai-nilai alam sekitar atau lingkungan’. Sebagai contoh coba kita simak puisi pendek yang berjudul Tentang Aku dan Sajak, karya Sandi Firly sebagai berikut: semalam,/ aku bercakap-cakap dengan gerimis/ tentang aku ingin menggores kata-kata/ tentang kata-kata ingin menggores sajak/ tentang sajak ingin menggores aku/ kadang aku mencoret kata-kata/ kadang kata-kata mencoret sajak/ kadang sajak mencoret aku/ semalam,/ aku bercakap-cakap dengan gerimis/ bisakah aku berumah dalam kata-kata? /// Dalam tema besarnya jelas sekali bahwa puisi itu tidak bicara tentang alam sekitar atau lingkungan. Yang menjadi penguat sebagai metafor alam hanya terwakilkan oleh kata ‘gerimis’, tetapi ternyata suasana puitis itu lahir dari peristiwa ‘aku lirik’ dengan ‘gerimis’. Kata ‘gerimis’ di sini mampu menghadirkan suasana keragu-raguan ‘aku’ penulis terhadap kemampuan ‘kata-kata’ pun terhadap kedahsyatan ‘sajak’. Rangkaian baris ‘aku bercakap-cakap dengan gerimis’ yang kemudian dilakukan lagi pada bagian akhir sebagai bentuk pengulangan selengkapnya adalah juga sebagai penanda bahwa baris itu menjadi penting. Pada tataran semacam ini, nilai-nilai alam sekitar atau lingkungan hanyalah sebagai tema kecil saja, dan secara keseluruhan ia menjadi satu kesatuan dengan tema yang lebih besar dalam konteks puisi secara utuh.

Sangat jauh berbeda bila kita baca puisi yang berjudul SOS Kalimantan Selatan, karya Micky Hidayat (maaf karena cukup panjang, saya nukil 2 bait saja): … Maka terimalah pelampiasan dendam kesumatku: bumi Kalimantan Selatan beserta seluruh isinya ini akan kutenggelamkan dan kuredam sedalam-dalam hingga lenyap dari peta negeri beribu pulau ini. Maka terimalah laknat dan azabku: semua desa dan kota kusirnakan sesirna-sirnanya jangan pernah kalian cari lagi di mana geografi kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tabalong, Hulu Sungai Utara, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Barito Kuala, Kota Banjarbaru dan Banjarmasin. Semuanya kuhabiskan dan lenyap tanpa sisa – hilang dari peta kemanusiaan. // Terimalah gelegak air bah amarahku ini sebagai tumbal dan ganjaran atas keserakahan, kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia memerlakukan keseimbangan dan kelestarian alam ini. Segalanya kulumatkan, kululuh-lantakkan, kuhancurleburkan !// …

Saya tidak mengatakan bahwa sederet puisi-puisi itu dalam pembicaraan baik atau tidak baik berdasarkan nilai-nilai sebuah puisi. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa betapa seriusnya para penulis dalam buku kumpulan puisi tersebut menyuarakan isi hatinya, respon positifnya, tanggapannya, pikiran-pikiran kritisnya terhadap pentingnya kelestarian alam sekitar atau lingkungan sebagai tempat tinggal. Semua itu adalah bukti nyata bahwa para penulis puisi yang boleh jadi disebut juga sebagai penyair telah memberikan sumbangan besar terhadap keberlangsungan pembangunan di tanah tercinta ini. Dengan cara dan ungkapan estetisnya pula para penyair Kalimantan Selatan, yang dalam hal ini termuat dalam buku tersebut memberikan gambar, menampilkan cermin besar tentang keadaan alam sekitar kita atau lingkungan kita. Dan saya pun berharap agar puisi-puisi tersebut tidak hanya dibaca oleh para penyairnya saja, tetapi mampu pula dipahami oleh para petinggi, para penentu kebijakan, terutama yang sangat dekat dengan persoalan alam sekitar atau lingkungan agar setiap keputusan setiap kebijakan mereka tidak terkepung oleh kepentingan-kepentingan yang berakibat fatal terhadap pelestarian dengan segala macam manfaat positifnya. Kemudian saya ikut memberikan dorongan bila ada seorang guru, banyak guru, sekelompok guru, dimana pun berada bertulus hati membawa buku tersebut ke dalam kelas dan memaparkan bahwa ada banyak puisi di dalamnya yang menuliskan, yang membicarakan, yang menyuarakan masalah alam sekitar atau lingkungan.

Terkadang saya heran juga dengan dunia pendidikan kita, setelah sekian lama diberikan pemahaman tentang pentingnya sikap positif untuk melestarikan alam sekitar atau lingkungan, masih saja banyak keputusan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan positif itu. Dengan berbagai alasan, terutama yang bersifat ekonomis dan politis, sementara persoalan-persoalan keberlangsungan hidup manusia secara damai dan jauh dari bencana tetap saja terabaikan. Mungkin sudah saatnya kita memikirkan dan memulai langkah-langkah nyata yang bersifat non-ekonomi sebagai landasan fundamental dalam setiap keputusan dan kebijakan yang dilakukan oleh para penentu keputusan atau penentu kebijakan itu. Bila tidak sekarang, maka nyakinlah bahwa bencana alam dan kerusakan alam itu akan menjadi tontonan yang biasa-biasa saja, tanpa mampu lagi memberikan keharuan, kepiluan, kesedihan, karena sudah dianggap biasa-biasa saja. Dan pernahkah terpikir oleh para penentu keputusan dan kebijakan itu bahwa bila datang bencana, bila hadir sengsara yang diakibatkan oleh alam sekitar atau lingkungan itu, saudaranya juga yang menderita, saudaranya juga yang merana, saudaranya juga yang terperangkap dalam jebak-jebak, bahkan anak dan cucu mereka juga yang terkepung di dalam duka-lara.. Oh, alangkah celaka.

Persoalan alam sekitar atau lingkungan tentu tidak hanya terdapat pada buku kumpulan puisi itu, tetapi telah banyak para penyair yang menuliskannya. Nah, pertanyaannya adalah, sampai separah apakah pikiran orang-orang yang seharusnya bersikap membela upaya-upaya pelestarian tetapi malah sebaliknya berbuat sekuat-kuatnya agar alam sekitar atau lingkungan itu menjadi hancur, dan ini sebuah sistem. Sistem penghancur yang mengacu kepada cara kerja mesin. Mesin tanpa hati, tanpa nurani, tanpa perasaan. Hal-hal yang bersinergi dengan hati nurani dan perasaan adalah kebudayaan, dalam hal ini kesenian. Bila saja nilai-nilai kesenian itu telah ‘dibuta dan ditulikan’ maka yang tampak adalah lahirnya produk-produk keputusan dan kebijakan yang juga bersifat ‘dibuta dan ditulikan’. Apakah kalian mendengar, wahai ?





ARUH SASTRA DI BARABAI PERLU ANGKAT HASANAH LOKAL


Oleh: Hamami Adaby
(Penulis Puisi, Cerpen, sesekali naskah Film/Mamanda, tinggal di Banjarbaru)

Aruh Sastra VII yang telah berlangsung di Tanjung sudah lulus dari jerat tanggung jawab sebagai pelaksana seperti halnya daerah lainnya; Kandangan, Amuntai, Balangan, Marabahan. Begitu juga di daerah; Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Tanjung, yang penulis secara langsung ikut sebagai peserta termasuk dalam rombongan Kota Banjarbaru.

Ketujuh daerah di atas yang disebutkan telah berhasil melaksanakan hajat haulan aruh sastra, yang kalau kita maknai kata aruh yang berarti menjamu besar-besaran para undangan yang datang dari daerah-daerah ke tempat haulan tersebut. Di mana tersedia fasilitas penginapan; rumah-rumah atau gedung sekolah, dengan alas kepala tidur seadanya dan berkelompok sampai 25 orang dalam satu ruangan, yang sudah menjadi biasa, hingga semalaman melek tidur sejenak.

Membaca catatan Ali Syamsudin Arsi mengenai Aruh Sastra Tanjung 26 – 28 November 2010 (Radar Banjarmasin, 5 Desember 2010: 5), cukup menggelitik sekaligus mengetuk pintu hati seniman/sastrawan untuk turut urun rembug menyongsong aruh sastra berikutnya, dalam tulisan tersebut dapat ditarik satu kesimpulan yang menarik tentang gambaran keberhasilan atau tidaknya pengelolaan acara aruh sastra dalam pelaksanaannya.
Ada beda-beda tipis dalam acara yang pernah dilaksanakan sebelumnya, gelar puisi spontan dari peserta dari antologi, lomba teater ditandingkan, seperti di Tanjung sebelum aruh bermula didahului dengan lomba menulis puisi dan cerpen bahasa Banjar yang kemudian hasilnya dibukukan dalam antologi yang menjadi cenderamata bagi masing-masing peserta.

Aruh Sastra Tanjung menampilkan seni tradisional dengan lomba basyair dan madihin, salut jempol buat panitia dalam gelar tersebut yang dilaksanakan di Taman Tanjung malam Sabtu 26 November 2010 sekaligus sebagai acara pembukaan aruh sastra oleh Bupati Tabalong H. Rachman Ramsyi serta sambutan gubernur yang disampaikan Kabid Kebudayaan dan Kesenian mewakili Kadis Porbudpar Provinsi Kalsel (Yusirwan Bangsawan), suasana malam cukup mendukung hingga berakhir sukses.

Meskipun pada gelar baca puisi siang hari di tempat sama kurang mendapatkan perhatian karena situasi tak mendukung, yang semestinya lebih bagus dan elok pada malam hari, ditambah dengan kejaran waktu karena ada seminar Kesenian, Bahasa Banjar dan Sastra Daerah yang juga dilaksanakan secara bersamaan.

Dari pelaksanaan ketujuh daerah tersebut perlu kita catat, bahwa aruh sastra harus memberi nilai tambah pada daerah yang menjadi tempat pelaksanaannya; seperti dalam pariwisata yang diharapkan berkembang, menggali cerita rakyat yang tumbuh berakar di masyarakat, dan menghidupkan kesenian tradisional, basyair, mamanda, lamut, madihin, dan lainnya.

Sebelum hari H acara pelaksanaan, seperti Aruh Sastra VII Tanjung melaksanakan lomba tulis puisi dan cerpen bahasa banjar, yang juga seharusnya diikuti agar bagaimana cerita rakyat terangkat kepermukaan, mengenalkan sastra ke sekolah dasar dan menengah sebagai sosialisasi dalam rangka menyambut aruh sastra yang dilaksanakan di kota mereka, namun sampai hari ini masih stagnan merangkak jalan di tempat atau sebagaimana ungkapan Ali Syamsudin Arsi, “seberapa besar antusias peserta didik dalam “bersastra” atau sejauh mana motivasi guru terlibat dan disampaikan ke peserta didik”, mari kita sama-sama memaknainya agar ke depan aruh sastra dapat menjadi kebanggaan seluruh masyarakat yang menjadi tempat pelaksanaannya..
Atau paling tidak 1 (satu) atau 2 (dua) bulan sebelum hari H pelaksanaan mulai gencar dalam menyambut gebyar aruh sastra dan diharapkan setelah selesai aruh kegiatan terus dilaksanakan mungkin secara berkala 3 bulan sekali penampilan ringan, diskusi sastra, gelar sastra, gelar teater baik modern maupun tradisional, temporer hingga generasi muda merasa terpanggil untuk melestarikan kesenian tradisional dan membangkitkan daya cipta dan membuat karya.

Satu hal yang harus saya lontarkan pada panitia terutama pada aruh yang akan datang, khususnya Kota Barabai, diharapkan tidak terulang lagi peserta atau rombongan tiap kabupaten seperti terisolasi, terkurung dalam ruang hampa, komunikasi verbal terputus seperti asing satu kelompok dengan kelompok lain, tak saling bersapa, namun dapat diarahkan dalam suasana face to face comunication agar tercipta suasana yang penuh keakraban dan terjadinya pertukaran ide dan gagasan dengan santai. Hal ini sebenarnya bisa teratasi dengan satu jamuan, makan bersama (presmanan sederhana) di suatu tempat (gedung/ruang) yang dapat menampung atau di lapangan terbuka (taman), paling tidak satu kali dalam acara makan pagi atau siang.

Begitu juga dalam hal penerimaan tamu, pelaksanaan aruh berikutnya harus memikirkan bagaimana setelah lapor sekretariat panitia harus ada pemandu ke lokasi inap, paling tidak ada bagian penyambut tamu supaya tak terjadi benturan, disiapkan pemandu khusus, masing-masing kabupaten didampingi minimal 1 (satu) pemandu.

Tentu untuk mencapai klimaks, akuratisasinya perlu didukung dana memadai daerah masing-masing, jauh sebelum hari H, fasilitas anggaran sudah turun jelas agar planning ke depan bisa terlaksana dengan lancar, juga transparansi panitia yang menyangkut planning, organizing, actuiting dan controlling berjalan dengan semestinya.

Saya garis bawahi dari ketujuh daerah yang telah lulus uji materi aruh sastra sangat bervariabel tingkat akuratisasinya, di sana-sini perlu dibenahi bersama. Aruh Sastra VII Tabalong patut diapresiasi, terutama salut buat Lilis MD (dra.) dan sekretaris Bambang Rukmana yang telah kerja keras bersama jajarannya hingga berakhir selamat dalam pelaksanaan aruh sastra di Tanjung.

Aruh sastra VIII tahun 2011 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Barabai, kota apam, harapan saya harapan kita semua, Barabai pasti mampu berinovasi, berdikari, dan mandiri mencari sisi-sisi tepi yang harus diangkat ke permukaan jadi trade mark, harapan kita bersama setelah terbentuknya kepanitiaan bekerja semaksimal mengayomi teman-teman menuju perhelatan akbar ini, apakah mau seperti Jambi dalam pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia atau menjadi diri sendiri. Pilihlah menjadi diri sendiri! Mengangkat hasanah lokal; Barabai. Vita brevis ars longe.





TERBENTUKNYA KOMUNITAS SASTRA DAN TEATER DI BARABAI (HASIL PRA ARUH SASTRA VIII BARABAI)


Oleh: Arsyad Indradi

Di dalam kegiatan Pra Aruh Sastra VIII se Kalsel di Barabai yakni Pelatihan Penulisan Karya Sastra, Teknik Membaca Puisi dan Pergelaran Sastra ( 27-28 Juli 2011 ) siswa SMP/MTs/SMA/SMK se Kab.HST, guru-guru pendamping menyarankan agar membentuk Komunitas Sastra dan Teater dengan tujuan mewadahi minat dan bakat lintas pelajar se Kab.HST. Dalam komunitas ini pelajar dapat belajar,memupuk dan mengembangkan minat dan bakat Sastra dan Teater. “ Selama ini belum ada Komunitas kegiatan Sastra dan Teater di Barabai “ ujar guru-guru tersebut.

Setelah penutupan Pelatihan yang ditutup oleh Ismail Wahid Ketua KSI Kab HST, peserta pelatihan menindaklanjuti saran dari pendamping mereka mengadakann rapat membentuk Komunitas Sastra dan Teater Murakata Muda Barabai, terpilih sebagai ketua Umum : Heldayanti Rukmana, Ketua I Bidang Teater : M.Fahriansyah, Wakil Ketua : Merry Winda Herlianti, Ketua II Bidang Sastra : Nurniawati, Wakil Ketua : Gt.Rahmat Hariyadi. Sekretaris Umum : M.Habibi Anshari, Sekterasis I : Dahliani, Sekretaris II : M.Fahri, Bendahara : Fajar Rizki Rahayu. Bidang Pendataan : Selvia Stiphanie dan Novi Indriani, Bidang Publikasi dan Penerbitan : M.Nirwan Rifani, Bidang Pagelaran : Lina Rahayu dan Hamidah, Bidang Usaha dan Dana : Fitri Febrianti dan Khairunnisa Aziati. “ Program kami jangka pendek salah satunya akan menerbitkan Antologi Puisi hasil karya puisi pelatihan “ kata Heldayanti Rukmana.

Kepengurusan komunitas ini langsung dilantik oleh Fahmi Wahid Ketua Dewan Kesenian Kab.HST.